25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Khamr Haram dan Merugikan

Oleh : Purnamasari
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, maka tidak heran jika aturan Islam ingin diterapkan.

Tentang RUU Miras yang baru-baru ini diajukan DPR, disinyalir kemungkinan besar akan banyak yang menolaknya. Padahal sebagaimana dikutip dari BBC news (13/11/2020) bahwa telah disampaikan oleh sejumlah fraksi di DPR yang mengusulkannya, RUU larangan Minuman Beralkohol (RUU minol) ini adalah untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif yang timbul karena minuman beralkohol, dan juga untuk menjalankan perintah agama.

Bahkan berdasarkan temuan kepolisian, banyak tindakan kriminal dilatar belakangi minuman keras.

Para penentang RUU ini berargumen sebaliknya. Menurut mereka tidak ada korelasi minuman beralkohol dengan tindakan kriminal. RUU ini juga dianggap mengancam sejumlah sektor yang berhubungan dengan sejumlah bisnis.
Tapi pada kenyataannya mereka yang menolak hanya takut kehilangan pemasukan baik mereka yang berkecimpung di dalam bisnis yang di dalamnya dijajakan miras, seperti diskotik, hotel, bar, dan industri pariwisata lainnya.

Khamr itu Jelas Haram

Dalam Kamus Al-Muhith disebutkan, khamr adalah sesuatu yang memabukkan.
Khamr biasa dihasilkan dari perasan apa saja dan bukan hanya dari perasan anggur semata. Karena, ketika khamr diharamkan, di Madinah saat itu tidak ada khamr yang diproduksi dari perasan anggur. Minuman orang Madinah ketika itu diproduksi dari kurma segar. Dinamakan khamr karena dengan minum khamr karena peminumnya akan mengalami disfungsi akal atau menutupi fungsi akal.

Khamr adalah haram. Tidak ada perbedaan di kalangan ulama tentang hal ini. Banyak nash Al-Qur’an maupun al-Hadis yang menunjukkan keharamannya. Pada awalnya ketentuan tentang khamr diturunkan secara bertahap. Lalu pada akhirnya Allah Swt. mengharamkan khamr secara mutlak. Inilah yang berlaku hingga seterusnya. Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sungguh minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kalian beruntung.” (TQS al-Maidah [5]: 90)

Allah Swt. juga menyebutkan dampak buruk dari khamr bagi manusia. Bahwa khamr jika dikonsumsi akan menciptakan kerusakan sosial dan melalaikan dari mengingat Allah Swt. seperti shalat. Allah berfirman:

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian serta menghalang-halangi kalian dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat. Jadi, tidakkah kalian mau berhenti?” (TQS. al-Maidah [5]: 91)

Khamr adalah setiap minuman yang memabukkan. Nabi saw. bersabda:

“Setiap yang memabukkan adalah khamr. Setiap yang memabukkan hukumnya haram. Siapa saja yang meminum khamr di dunia, lalu ia mati, sedangkan ia masih meminumnya dan belum bertobat, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat (tidak akan masuk surga).” (HR. Muslim)

Khamr haram dikonsumsi meskipun sedikit jumlahnya dan tidak memabukkan. Dalih sebagian orang yang menghalalkan khamr jika sedikit jumlahnya dan tidak memabukkan bertentangan dengan sabda Nabi saw.:

“Setiap yang memabukkan adalah haram. Apa saja yang banyaknya membuat mabuk, maka sedikitnya pun adalah haram.” (HR. Ahmad)

Bukan sekadar mengonsumsi/meminum khamr. Syariah Islam juga mengharamkan sepuluh aktivitas yang berkaitan dengan khamr. Dalam suatu riwayat dinyatakan:

“Rasulullah saw. telah melaknat tentang khamr sepuluh golongan: 1. pemerasnya; 2. yang minta diperaskan; 3. peminumnya; 4. pengantarnya; 5. yang minta diantarkan khamr; 6. penuangnya; 7. penjualnya; 8. yang menikmati harganya; 9. pembelinya; 10. yang minta dibelikan.” (HR. at-Tirmidzi)

Berdasarkan hadis ini, seluruh aktivitas yang berkaitan dengan khamr adalah haram. Bar, kafe, restoran yang menjual khamr, profesi sebagai bartender, uang hasil penjualannya dan cukai dari minuman keras juga haram secara mutlak.

Khamr Menimbulkan Kerusakan di Tengah Masyarakat

Syaikh Ali ash-Shabuni dalam Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an mengatakan bahwa tidak pernah disebutkan sebab keharaman sesuatu melainkan dengan singkat. Namun, di sini (pengharaman khamr) disebut secara terang-terangan dan rinci.
Allah Swt. menyebut khamr (dan judi) bisa memunculkan permusuhan dan kebencian di antara orang beriman, memalingkan mukmin dari mengingat Allah, melalaikan shalat.
Allah Swt. juga menyifati khamr dan judi dengan rijsun, perbuatan setan, dan sebagainya. Hal ini mengisyaratkan betapa khamr penyebab munculnya kerusakan yang besar dan membahayakan.

Begitulah fakta dari keburukan yang ditimbulkan oleh Miras bagi manusia. Miras tidak hanya merusak pribadi peminumnya, tetapi juga berpotensi menciptakan kerusakan pada orang lain. Mereka yang sudah tertutup akalnya oleh khamr/Miras menjadi hilang kesadaran. Akibatnya, ia bisa bermusuhan dengan saudaranya, melakukan kekerasan, termasuk membunuh, memperkosa atau melakukan kejahatan lainnya. Bahkan Nabi saw. menyebut khamr sebagai ummul khaba’its (induk dari segala kejahatan).

“Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar. Siapa saja yang meminum khamr, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya dan saudari ayahnya.” (HR. ath-Thabrani)

Miras juga menjadi penyebab banyak kematian di dunia. Bahkan kajian WHO menyebutkan bahwa alkohol adalah pembunuh manusia nomor satu di dunia.

Hal di atas terjadi pada masa kini. Di saat negara memeluk prinsip sekuler kapitalistik. Dimana syariat dipilih hanya yang dipandang menguntungkan. Mereka tak peduli meski harus memberlakukan kebolehan beredarnya perkara haram semisal khamr.

Islam demikian Melindungi Akal

Pengharaman khamr dan segala jenisnya adalah bagian dari kemuliaan syariah Islam yang memberikan perlindungan pada akal.

Miras jelas menimbulkan kekacauan pada akal manusia. Miras bahkan mendorong berbagai tindak kejahatan selain melalaikan manusia dari mengingat Allah Swt.

Bukan merupakan ciri orang beriman bila kemudian mencari-cari dalih untuk menghalalkan sesuatu yang haram, termasuk khamr.

Sudah saatnya kaum muslim mengambil sikap tegas. Hanya menjadikan halal dan haram sebagai standar perbuatan hingga penyusunan Undang-Undang. Itulah sikap sejati seorang mukmin.
Bukan mempertimbangkan untung-rugi materi. Juga bukan dengan menyerahkan pada suara rakyat atau para wakilnya untuk menentukan halal-haramnya minuman keras.

Seorang mukmin akan menerima ketetapan Allah Swt karena yakin pasti akan diberikan kebaikan dan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Ia pun senantiasa istiqamah melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya tanpa perlu memikirkan pandangan orang lain.

Sungguh ironi jika hukum Allah yang semestinya diterima dengan penuh keimanan malah ditimbang dengan hawa nafsu manusia. Dicari celah untuk membatalkannya. Diperhitungkan apakah akan merugikan mereka secara materi ataukah tidak.

Mereka lupa bahwa Allah telah berjanji akan menolong hamba-hamba-Nya yang senantiasa taat berpegang pada hukum-hukum-Nya.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

About Post Author