04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Bandung Zona Merah Lagi


Ummu Junnah (Praktisi kesehatan)

“Seperti mengurai benang kusut,” begitulah ketika kita berbicara penanganan Covid-19 di negeri ini, belum ada perubahan yang signifikan. Sepekan ini khususnya Bandung mengalami lonjakan pasien Covid-19 sebagaimana dikutif dari detik.com, (13/11/20), di Jawa Barat sendiri, angka pertambahan kasus baru terkonfirmasi virus Corona atau Covid-19 bertambah 801 kasus. Sepekan terakhir angka kasus baru di Jabar merupakan yang tertinggi pada periode 1 Oktober 2020-13 November 2020

PRFMNEWS – Kota Bandung disebut sudah mendekati zona merah penyebaran Covid-19.
Hal itu diungkapkan Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bandung, Emma Sumarna usai memimpin rapat evaluasi tim Gugus Tugas Covid-19 di Balai Kota Bandung, Selasa 17 November 2020.

Kasus positif Covid-19 di Jawa Barat dua minggu pasca libur panjang 28 Oktober-1 November 2020 mengalami kenaikan sebanyak 41%. Jumlah kenaikan tersebut menjadikan Jabar sebagai provinsi dengan kenaikan kasus Covid-19 tertinggi kedua secara nasional selepas libur panjang. ayopurwakarta.com, (13/11/20)

Sebagaimana juga dilansir TEMPO.CO, Bandung – Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung bersiap menutup layanan umum dan mengalihkan pasien selain Covid-19 ke rumah sakit lain. Ini adalah skenario terburuk yang akan ditempuh bila lonjakan pasien Corona sepekan terakhir tak kunjung berkurang hingga ketersediaan kamar inap ruang isolasi tak mencukupi.

Dalam menekan penyebaran virus corona, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Jabar adalah dengan memberlakukan kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau istilah lainnya adalah New Normal. Kebijakan ini berarti memberikan keleluasaan pada masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah, namun harus dengan menerapkan protokol kesehatan. Pemerintah pun terus gencar mengkampanyekan 3M yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Pada realitasnya, kebijakan tersebut kurang efektif dalam menekan sebaran virus. Bukan hanya kasus positif yang terus bertambah, bahkan angka kematian dalam satu bulan terakhir akibat Covid-19 pun mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Dari sebelumnya yakni pada bulan Oktober 2020 tercatat ada 64 orang yang meninggal. Namun sebulan kemudian yakni pada 10 November 2020 naik signifikan menjadi sebanyak 95 orang. Dari angka tersebut sedikitnya dalam sebulan ada kenaikan sebesar 31 orang meninggal dunia. (deskjabar.pikiran-rakyat. com, 12/11/20)

Sangat disayangkan, kondisi sudah mengkhawatirkan, tapi terindikasi masih menjadikan kapitalisme sebagai paradigma dalam membuat kebijakan. Buktinya, dalam menangani wabah pun, selalu menggunakan metode yang lebih mementingkan aspek ekonomi. Menjaga dan memelihara nyawa manusia seperti di nomorduakan dan seolah hanya hitungan angka. Kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru atau New Normal, merupakan salah satu contoh bahwa ada pihak yang lebih mementingkan aspek ekonomi dibanding kesehatan atau bahkan nyawa rakyat.

Seharusnya umat mulai menyadari bahwa lambannya penanganan virus Corona bukan semata-mata problem teknis, namun problem sistemik. Maka, penyelesaiannya pun harus sistemik pula. Kapitalisme sekuler yang tidak mengutamakan nyawa manusia, saatnya diganti dengan sistem lain yang tiada lain adalah sistem Islam. Sistem yang berasal dari pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan yaitu Allah Swt.
Nabi saw. bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).

Secara teknis, solusi Islam dalam mengatasi masalah wabah adalah sebagai berikut :
Pertama, Isolasi/karantina.
Rasul saw. bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
“Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu.” (HR al-Bukhari).

Tindakan isolasi/karantina atas wilayah yang terkena wabah tentu dimaksudkan agar wabah tidak meluas ke daerah lain.

Selain itu, penguasa juga wajib untuk mensuplai berbagai kebutuhan untuk daerah yang diisolasi.

Tindakan cepat isolasi/karantina cukup dilakukan di daerah terjangkit saja. Daerah lain yang tidak terjangkit bisa tetap berjalan normal dan tetap produktif. Daerah-daerah produktif itu bisa menopang daerah yang terjangkit baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun penanggulangan wabah. Dengan begitu perekonomian secara keseluruhan tidak terdampak.

Kedua, Jaga Jarak.
Di daerah terjangkit wabah diterapkan aturan berdasarkan sabda Rasul saw.:
“Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat.” (HR al-Bukhari).
Jaga jarak dilakukan dengan physical distancing seperti yang diterapkan oleh Amru bin ‘Ash dalam menghadapi wabah Tha’un ‘Umwas di Palestina kala itu dan berhasil.
Hanya saja, untuk mengetahui siapa yang sakit dan yang sehat harus dilakukan 3T (test, treatment, tracing) massal tanpa henti.

Dalam Islam, tes akan dilakukan dengan akurat secara cepat, masif, dan luas. Tidak ada biaya sedikit pun. Lalu dilakukan tracing kontak orang yang positif dan dilakukan penanganan lebih lanjut. Orang yang positif dirawat secara gratis ditanggung negara (Daulah). Termasuk kebutuhan diri dan keluarganya selama masa perawatan pun menjadi tanggung jawab negara. Di mana negara mendapatkan pemasukan dari semua pendapatan SDA yang melimpah dan bisa juga dari aset-aset daulah lainnya, tanpa bergantung pajak dan utang luar negeri.

Dengan langkah itu bisa dipisahkan antara orang yang sakit dan yang sehat. Mereka yang sehat tetap bisa menjalankan aktivitas kesehariannya. Tanpa dibayang-bayangi virus Corona. sistem ilahi, dan memperjuangkan tegaknya syariah kafah adalah jalan menjemput pertolongan Allah Swt.

Maka tidak sepantasnya ada keraguan akan sistem pemerintahan yang diridai Allah Swt. ini. Karena sistem khilafah Islam ini memiliki berbagai macam peraturan yang jelas dan sesuai dengan tuntutan Baginda Rasulullah saw.

Dalam menyikapi pandemi ini, sistem Islam memiliki solusi. Mulai dari langkah pencegahan di awal dan langkah-langkah dalam mengatasi saat pandemi ini berlangsung, yaitu meliputi pengelolaan/pengaturan pada sektor politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hukum dan lain-lain yang sudah diungkapkan di atas.

Menerapkan sistem Islam di mana segala sesuatunya berdasarkan aturan-aturan syar’i dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. agar keberkahan-Nya bisa kita rasakan. Bukan hanya bagi penduduk Muslim tetapi bagi penduduk non-muslim pun akan ikut merasakan keberkahan-Nya jika mau bersama-sama tunduk pada aturan syariat secara kaffah (menyeluruh).

Wallahua’lam bishshawab

About Post Author