06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Bersabar dalam Dekapan Kalam-Nya Part 3

“Dikaaaa.”
Teriakan memekakkan telinga membuat Dika terperanjat dari duduknya,
“Iyaa Ibuu…” Mengapa Ibu teriak?”
“Nak, ini sudah pukul 16.00, bukannya pukul 15.45 harus sudah kumpul di sekolah? Hari ini sabtu takhosus, Nak!”
Dika terkejut mendengar ucapan ibu. Dika juga heran, mengapa dirinya santai saja. Padahal ibu Sarah, guru kesayangan Dika sudah mewanti-wanti agar tidak telat. Dika bergegas ambil handuk dan menuju kamar mandi untuk mandi. Dakkk… braaak…suara keras terdengar.
“Aduuuh sakit Bu. Kepala Dika terjedak tembok.”
Dika meringis kesakitan, sembari memegang dahinya. Mata Dika tetiba terbuka, dan Dika baru sadar, bahwa yang terjadi barusan hanyalah mimpi belaka. Dika terjatuh dari ranjang tempat tidurnya, dan dahinya terkena lantai.
“Astaghfirullah ‘adziim Yaa Allah, ternyata aku mimpi.” Dika melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 04.00 subuh. Saatnya Dika untuk bangun dan menunaikan salat subuh.
Hari itu adalah hari Sabtu, memang ada agenda takhosus di sekolah. Karena semangatnya Dika untuk takhosus, sampai terbawa mimpi. Takhosus yang diselenggarakan sekolahnya adalah kegiatan rutin satu bulan sekali. Tujuan utamanya adalah untuk mengejar target hafalan agar cepat bisa sampai target kelulusan. Dengan takhosus, diharapkan semua santri terkhusus kelas 6 bisa lebih ringan dalam menghafal Al-Qur’an.
Seperti biasa aktivitas subuh hingga pagi, dikala libur sekolah tak berubah. Muroja’ah, bantu ibu, mandi, sarapan dan lain-lain. Itulah kebiasaan Dika, seorang anak yang Allah berikan kesempurnaan fisik, keluarga saleh dan sekolah ideologis.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kriiing… kriiing… handphone ibu Dika berbunyi, bergegas Dika membukanya. Handphone itu milik sang ibu, hanya saja karena ibu memiliki yang baru, jadi handphone lama yang sudah rusak layarnya itu digunakan Dika. Untuk keperluan zoom ketika ada tugas sekolah, chat dengan guru tahfidz Dika, yaitu Ibu Sarah, dan ketika chat dengan teman-teman sekelas Dika yang memiliki handphone. Ibu Dika begitu ketat dalam pengawasan kepada Dika. Walaupun Dika suka menggunakan handphone, tapi dipastikan hanya sebatas untuk hal-hal yang urgen saja.
Dika membuka WhatsApp, dilihat ada chat dari Ibu Sarah, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh shalih, sudah siap untuk berangkat takhosus?”
“Sudah Bu.” jawab Dika di pesan WhatsApp-nya.
“Kerennn, baiklah, sampai ketemu di sekolah yaa Nak!”
“Iya Bu.” jawab Dika lagi. Ibu sarah begitu sayang kepada Dika, setiap hari selalu mengingatkan Dika untuk muroja’ah. Bagi Dika, ibu Sarah seperti ibu kedua. Apalagi ibu Sarah dikenalnya sejak lama, karena ibu Sarah merupakan sahabat lama dari ibu Dika. Maka dari itu, Dika begitu dekat dengan ibu Sarah. Bukan hanya karena semata-mata guru, tetapi ada kedekatan tersendiri di luar sekolah.
Tepat pukul 15.45, ibu Sarah tiba di sekolah. Ibu Sarah mencari Dika, tapi Dika belum terlihat. Rupanya Dika masih dalam perjalanan. Sementara santri sudah berkumpul di aula untuk mendapatkan pengarahan dari Ustadz dan Ustadzah. Tak lama, sekitar pukul 16.02, Dika tiba dengan berlari menuju aula. Bersegera duduk berbaris bersama teman-temannya.
Kemudian santri pun dibagi kelompok. Ada sedikit kecewa di hati ibu Sarah, karena Dika tidak masuk di kelompoknya. Begitu pun Dika, menampakkan wajah kecewa, hanya diam tak banyak berekspresi. Ibu Sarah tahu betul Dika, meriayah Dika dalam menghafal Al-Qur’an butuh ketelatenan. Hanya ibu Sarah yang paling tahu, bagaimana mengarahkan Dika. Dari kelompoknya, ibu Sarah tak berhenti memperhatikan Dika yang banyak terdiam. Tetapi ibu Sarah tak bisa berbuat apa-apa. Karena terkait aturan, ibu Sarah hanya melirik dan kembali melirik kepada Dika. Dika pun demikian.
Takhoshus pun berlalu. Tiba di sesi bada isya, ibu Sarah tak bisa menginap di sekolah. Akhirnya pulang bersama guru lain yang tidak menginap juga. Keesokan harinya, tepat pukul 07.00 ibu Sarah kembali meluncur ke sekolah. Melanjutkan takhosus yang jadwalnya sampai pukul 13.00. Situasi dan kondisi takhosus pun tetap seperti kemarin. Ibu Sarah kembali ke kelompoknya, begitu pun Dika. Dan akhir dari takhosus, Dika tetap dengan hasil kemarin, hanya muroja’ah saja. Ibu Sarah hanya bisa menarik nafas panjang. Sungguh beliau berharap di takhosus, Dika bisa menambah hafalan lebih. Namun, sayang… Lagi-lagi gagal😢😢😢…
Bersambung
24 November 2020
Ummu Aisyah

About Post Author