26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Memilih Tatap Muka atau Korban Covid Kian Merajalela?

Oleh: Netta Wardhani
Aktivis Dakwah

Covid-19 masih terus mengancam nyawa banyak masyarakat, sudah hampir setahun covid-19 belum ada tanda-tanda hilangnya virus tersebut.

Berbagai macam penanganan dilakukan untuk memusnahkan virus ini. Bahkan berbagai kebijakan pun telah dibuat agar mengurangi angka kematian, namun nyatanya virus ini terus menelan korban.

Kini kebijakan baru telah dibuat, agar kembali melakukan pembelajaran tatap muka. Untuk itu pemerintah berencana melakukan pembelajaran tatap muka yang katanya lebih efektif dibanding pembelajaran online.

Melansir dari Liputan6.com, “Kami mendukung pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan protokol Kesehatan ketat” ujar Huda dalam keterangannya, Jumat (20/11/2020).

Kebijakan baru ini akan dilakukan ditengah berbagai polemik. Bukan hanya masalah protokol yang dilihat, tetapi sekolah tatap muka ini dilakukan jika ada persetujuan dari kedua bela pihak, yakni pihak sekolah dan pihak orang tua. Kebijakan pembelajaran ini menuai kontra, karena belum aman melakukan pembelajaran ditengah kondisi seperti ini yang masih beresiko tertular, apalagi risiko penularan ini masih tinggi. Belum lagi penangan yang dilakukan tidak membawa dampak apa-apa untuk menghilangnya virus ini. Lantas apakah sekolah tatap muka ini baik dalam kondisi pandemi?

Tentu tidak, jika keputusan ini dijalankan sama saja kita merelakan nyawa kita diancam dengan penularan virus Covid-19, Tidak ada jaminan keamanan sekalipun berbagai syarat protokol kesehatan dilakukan.Bisa saja pembelajaran tatap muka dilaksanakan tetapi penyebaran virus ini lebih memungkinkan menyebar. Hal ini bisa menciptakan klaster baru.

Dalam hal ini, Menurut Sirait, keputusan ini cenderung terkesan memaksa dan lebih memilih mempertaruhkan risiko. Padahal, peran pemerintah di kondisi saat ini adalah memikirkan bagaimana cara memudahkan pembelajaran jarak jauh.
( muslimahnews.com)

Seperti yang kita ketahui bahwa ada beberapa sekolah yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka, tetapi hasilnya malah menambah penularan covid -19.

Satu-satunya cara melakukan pembelajaran yang bisa dilakukan adalah pembelajaran jarak jauh (daring). Namun, pembelajaran jarak jauh ini menuai pula banyak komentar dari orangtua mengeluarkan budget yang tidak sedikit. Akibat dari tidak adanya jaminan kebutuhan hidup dari pemerintah pada akhirnya mengakibatkan buah simalakama.

Sekalipun pemerintah memberikan sarana pendukung pendidikan jarak jauh berupa internet dan layanannya, tetapi tidak semua daerah diberikan layanan yang sama, terlebih masyarakat terpencil.

Hal ini membuat masyarakat terpencil susah mengambil keputusan, jika sekolah tatap muka dilakukan akan membawa dampak besar penularan covid -19 semakin menular, dan jika sekolah dilakukan secara daring, mereka harus mengikat perut. Bukan hanya masyarakat terpencil daerah-daerah lain juga mengeluhkan hal yang sama.

Sangat memilukan, kebijakan yang dibuat harusnya melihat kondisi suatu daerah dan kondisi masyarakatnya. Sekolah tatap muka memang cara yang sangat efektif dan metode paling utama. Namun, pemerintah juga seharusnya melihat keselamatan masyarakat jika kebijakan ini diterapkan di tengah kondisi pandemi.Walaupun kebijakan ini dibuat untuk sekolah berzona hijau tetapi tidak bisa dicegah penularannya dari luar daerah tersebut.

Oleh karena itu kebijakan yang dilakukan haruslah berlandaskan pada keamanan dan keselamatan masyarakatnya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa sistem pendidikan sekuler saat ini sangatlah lemah. Fakta-fakta yang diungkap di atas, menunjukan lemahnya pemerintah yang mengadopsi sistem kapitalisme sekuler dalam menangani masalah pandemi. Akibat kebijakan kepentingan ekonomi, masalah pendidikan justru tidak mendapat jaminan dari pemerintah sebagai kebutuhan publik.

Lantas sistem seperti apa yang harus diterapkan agar masalah ini bisa diselesaikan?

Tentu untuk menjawab permasalahan yang dihadapi saat ini adalah kembali pada sistem Islam. Islam mengatur kehidupan kita dalam aspek politik, kesehatan, dan pendidikan dll. Di dalam Islam, negara berkewajiban memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya. Semua ini harus terpenuhi bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga dengan cuma-cuma. Kesempatan pendidikan tinggi secara cuma-cuma dibuka seluas mungkin dengan fasilitas sebaik mungkin. Hal ini karena Islam menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat.

Islam bahkan mengatur politik ekonomi dimana Islam menjamin terpenuhinya semua kebutuhan masyarakat baik dalam kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Dengan politik ekonomi Islam, pendidikan yang berkualitas dan bebas biaya bisa terealisasikan secara menyeluruh. Negara akan menjamin tercegahnya pendidikan sebagai bisnis atau komoditas ekonomi sebagaimana realita dalam sistem kapitalisme saat ini. Negara dalam Islam benar-benar menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah investasi masa depan.

Hal ini hanya bisa diwujudkan jika Khilafah Islamiyah telah diterapkan. Khilafah wajib menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, buku-buku pelajaran, dan lain sebagainya.

Negara khilafah juga berkewajiban menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli di bidangnya, sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja di kantor pendidikan.

Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara Islam juga memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Hal-hal di atas menunjukan Islam sebagai solusi satu-satunya problematika kehidupan di berbagai aspek, khususnya pendidikan saat ini.

Lantas apakah kita masih terus berharap pada sistem kapitalisme yang mengekang hidup rakyat atau kembali pada Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin?

Wallahu’alam bishshawab.

About Post Author