25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Revolusi Akhlak, Mungkinkah Terwujud di Alam Demokrasi?


Oleh : Inayah
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

Ahlan Wa Sahlan (selamat datang) habib kami, sambutan ribuan orang memadati Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang, Banten, Selasa (10/11). Belum ada kejadian serupa di Indonesia, dimana seorang tokoh sampai di jemput ribuan orang seperti itu.
Bertepatan dengan Hari Pahlawan, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab (HRS) menginjakkan kaki di Bumi Pertiwi, sesaat setalah pesawat Saudia Airlines SV 816 mendarat di Terminal 3 Bandara Internasioanal Soekarno-Hatta. Di luar terminal, ribuan orang menyemut, sudut-sudut ruang kedatangan diisi oleh manusia yang didominasi berbaju putih-putih, gema takbir dan shalawat terdengar di berbagai sudut.
Tak ada yang memperkirakan sambutan seperti itu, bahkan rezim Jokowi sendiri salah prediksi. Habib Rizieq dianggap orang suci, sehingga diperkirakan tak akan disambut sebagaimana orang suci seperti Ayatollah Khomeini di Iran pada 1979.
Berbagai cara telah dilakukan rezim untuk mendelegetimasi pribadi Habib Rizieq. Sebanyak 17 kasus diarahkan kepadanya sebelum Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) ini berangkat ke Tanah Suci pada 26 April 2017. Tujuanya, menurut Sekjen FPI Munarman, untuk menjauhkan umat Islam dari Habib Rizieq. “Mereka khawatir Habib bisa memimpin mendobrak kezaliman,” jelasnya.
Tapi umat tampaknya tidak terpengaruh oleh berbagai upaya delegitimasi itu. Kaum muslim punya cara pandang tersendiri, yang berbeda dengan cara pandang pihak-pihak yang memusuhinya.
Penyambutan HRS hari itu menjadi bukti, umat menginginkan sosok yang berani melawan kezaliman. Kaum muslim rindu terhadap Islam dan tokohnya mendapat kemuliaan. Bukan terhadap rezim ini yang telah menjadikan Islam seolah musuh negara. Tokoh-tokohnya dikriminalisasi dengan berbagai tudingan yang terkesan ala kadarnya.
Habib Rizieq sendiri berdasarkan pengakuannya, sudah lama ingin kembali ke Indonesia. Tidak ada maksud lain kecuali melanjutkan misi dakwah. Tapi rencananya pulang selalu dihadang oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan. Ia menyatakan bukan pihak Saudi yang menjadi otak atas tertahannya dirinya di sana. Namun, ia mengindikasikan pihak Indonesialah yang mengatur itu semua. Bahkan beredar kabar ada pihak-pihak yang menawarkan konpensasi finansial kepada HRS untuk bisa pulang tapi dengan syarat menghentikan amar maruf nahi munkar kepada penguasa
Sesampai di Tanah Air ia tetap konsisten dengan sikapnya menegakkan amar maruf nahi munkar karena itu adalah perintah agama. Ia pun mengusung revolusi akhlak. Revolusi adalah perubahan yang mendasar. Sementara kata akhlak sendiri dipilih karena itu berasal dari Rasulullah saw. Dan sebagaimana diketahui, akhlak Rasul ketika ditanyakan kepada Aisyah ra adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Gagasan revolusi akhlak ditanggapi oleh Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research and Analysis (SUDRA) fadhli harahab. Beliau menilai konsep revolusi akhlk yang digaungkan Imam Besar Front Pembela Islam itu tidak jelas karena kesan yang muncul justru untuk kamuflase politik. “Saya duga ini hanya manuver politik. Konsepnya seperti apa kan tidak ada. Jangan- jangan Cuma keceplosan omong revolusi akhlak biar tidak dikira mau berbuat makar,” ujar fadhli dalam keterangannya. (jpnn.com, Sabtu 14/11/2020)
Fenomena Habib Rizieq dengan dukunagn umat yang luar biasa ini menjadi magnet tersendiri secara politik. Dan memang umat tentunya merindukan pemimpin yang berani dan kerena umat sudah jengah dengan perilaku para penguasa yang tidak adil, sewenang-wenang dan korupsi.
Padahal kalau ditelisik lebih mendalam terkait merebaknyanya kezaliman dan ketidak adilan bukanlah sekadar kesalahan individunya saja. Akan tetapi lebih dari itu adalah hasil penerapan sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Karena demokrasilah yang melahirkan para penguasa berperilaku zalim, tidak adil dan korupsi. Sistem ini pula yang senantiasa melanggengkan perilaku tersebut. Kalau hanya berganti orang atau rezim maka perubahan hakiki tidaklah akan terwujud, selama masih menerapkan sistem kapitalis demokrasi.
Maka dari itu untuk mewujudkan perubahan atau revolusi akhlak, tidaklah akan bisa selama masih berpijak pada sistem buatan manusia yaitu demokrasi kapitslis yang lemah,terbatas dan tidak sesuai dengan fitrahnya. Maka jalan yang harus dilakukan adalah dengan menyandarkan kepada aturan Allah SWT zat yang Maha adil dan Maha sempurna yaitu sistem Islam yang berlandaskan pada akidah Islam.
Cendekiawan muslim, Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (MIY) menyatakan revolusi akhlak harus didasari revolusi akidah yang berpengaruh terhadap cara pandang pada dunia atau world of view. Berangkat dari akidah ini, maka akan memberikan jawaban tuntas atas tiga pertanyaan mendasar: dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan mau kemana setelah kehidupan, Jawabnya bahwa manusia diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah yaitu untuk taat kepada Allah dan pasti akan kembali pada Allah. Karena hidup di dunia sungguh sangat sementara. Rasulullah saw. Bersabda
”Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti pengendara yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkanya.” (HR. At-Tirmidzi)
Lebih lanjut dipaparkan, yang dimaksud istirahat di bawah pohon itulah kehidupan dunia. Yang dibandingkan dengan akhirat akan tampak satu hari di akhirat bagai seribu di dunia. oleh sebab itu, jika hidup di dunia ini sebentar, pastilah ada sesuatu yang harus dipersiapkan untuk menyongsong kehidupan di akhirat yang kekal. Allah berfirman,
“Berbekalah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(TQS Al-Baqarah: 197)
Dengan takwa inilah yang menjadi pusat perhatian . Seluruh tenaga, waktu bahkan hidup kita ini tertuju untuk takwa yaitu melaksanakan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan oleh Allah SWT. Dan karena dorongan takwa akan membawa hidup lebih berkah. Jika Allah ditaati maka Allah menjadi rida dan Allah akan memberikan keberkahan.
Sedangkan berkah adalah bertambahnya kebaikan. Kebaikan bagi individu, masyarakat dan negara.
Dan hal ini pula dalam rangka mewujudkan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Sebagaimana firman Allah,
“Andai suatu penduduk negeri itu beriman dan bertakwa maka Allah akan limpahkan keberkahan itu dari langit dan bumi.” (TQS. Al-Araf :96)
“Revolusi akhlak harus diletakkan sebagai bagian takwa kepada Allah Swt. Karena akhlak mulia itu adalah ketaatan kepada Allah. Akhlak merupakan bagian dari hukum syara’. Jadi berakhlakul karimah sebagai bagian takwa ini akan membawa pada masyarakat, bangsa dan negara yang berkah”.dan negara akan membawa keberkahan tatkala penerapan syariat Islam kaffah dalam naungan daulah khilafah Islamiyah yang akan dipimpin oleh seorang khalifah yang menerapkan seluruh aturan Islam secara menyeluruh dan sempurna.
Wallahu a’lam bi ash-shawab.

About Post Author