26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Sekolah Dibuka Amankah Bagi Anak?

Oleh Tri Sundari, A.KS
Member AMK dan Pendidik Generasi

Virus Covid-19 sampai saat ini masih belum menunjukkan tanda akan berakhir. Kasus positif Covid-19 yang setiap hari semakin meningkat, membuat kita harus selalu waspada.

Dilansir dari ZonaBanten.com, 27 November 2020.
Update Sebaran Corona di Indonesia pada hari Jumat 27 November 2020, di 34 provinsi mengalami penambahan kasus baru positif Covid-19 sebanyak 5.828, sehingga total kasus positif Covid-19 di Indonesia pada hari ini mencapai 522.581 kasus.

Akan tetapi ditengah peningkatan jumlah kasus positif Covid-19, pemerintah berencana untuk membuka sekolah dengan melakukan pembelajaran tatap muka pada semester genap yaitu bulan Januari tahun ajaran 2020/2021.

Dilansir dari liputan6.com, 20 November 2020.
Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menyatakan, Komisi X DPR mendukung rencana pembelajaran tatap muka tetapi harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Di antaranya ketersediaan bilik disinfektan, sabun dan wastafel untuk cuci tangan, hingga pola pembelajaran yang fleksibel. Sekolah juga harus memastikan bahwa physical distancing benar-benar diterapkan dengan mengatur letak duduk siswa dalam kelas.

Pembukaan sekolah dilakukan karena pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa berjalan efektif, terutama di daerah-daerah. Minimnya sarana prasarana pendukung, seperti tidak adanya gawai dari siswa dan akses internet yang tidak merata, menjadi kendala tidak efektifnya pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Laporan terbaru World Bank (WB) terkait dunia Pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa akan memunculkan ancaman loss learning atau kehilangan masa pembelajaran, bagi sebagian besar peserta didik di Indonesia.

Kondisi tersebut dikhawatirkan akan memunculkan efek domino, dimana peserta didik akan kehilangan kompetensi sesuai usia mereka. Lebih parahnya lagi, peserta didik banyak yang harus putus sekolah karena tidak mempunyai biaya atau terpaksa harus membantu orang tua mereka. Sementara itu dengan pola tatap muka, diharapkan mengembalikan ekosistem pembelajaran bagi para peserta didik.

Dilansir dari CNN Indonesia, 20 November 2020.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengizinkan pemerintah daerah untuk memutuskan pembukaan sekolah atau kegiatan belajar tatap muka di sekolah di seluruh zona risiko virus corona mulai Januari 2021.

Nadiem mengatakan keputusan pembukaan sekolah akan diberikan kepada tiga pihak, yakni pemerintah daerah, kantor wilayah (kanwil) dan orang tua melalui komite sekolah. Akan tetapi orang tua masing-masing siswa dibebaskan untuk menentukan apakah anaknya diperbolehkan ikut masuk sekolah atau tidak.

Di pihak lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan masih banyak sekolah yang belum siap secara protokol kesehatan dalam penerapan kembali pembelajaran tatap muka.

Orang tua tentunya akan sangat khawatir, jika sekolah yang akan dibuka belum mempunyai kesiapan dalam hal sarana dan prasarana, yang sesuai dengan standar protokol kesehatan.

Disamping itu, kebolehan pembukaan sekolah pada bulan Januari 2021 tidak diiringi kemajuan berarti dalam penanganan Covid-19, sehingga menempatkan rakyat pada posisi dilematis.

Pemerintah sejatinya dapat melindungi setiap warga negaranya. Rakyat mengharapkan hidup aman dan sejahtera, serta terpenuhi kebutuhan pokoknya. Akan tetapi hal ini sulit diperoleh pada negara yang mengemban mabda kapitalis. Karena mereka akan lebih mengutamakan kepentingan para pemilik modal dibandingkan dengan rakyat biasa.

Pada negara yang mengemban mabda Islam, pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang memiliki kepribadian Islam.

Ketika masa kekhilafahan, kurikulum pada pendidikannya sarat dengan muatan Islam, sehingga beberapa lembaga pendidikan pada saat itu berhasil melahirkan tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan muslim yang sangat disegani. Misalnya, al-Ghazali, Ibnu Ruysd, Ibnu Sina.

Pendidikan yang berlandaskan Islam juga telah berhasil melahirkan generasi Islamiyah yang tercatat dengan tinta emas sejarah, seperti Muhammad Al Fatih, Shalahuddin Al Ayubi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Wallahu A’lam bishawwab

About Post Author