29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Solusi Tuntas Atasi Bencana Banjir


Oleh: Listy Amiqoh
(Pendidik Generasi dan Ibu Rumah Tangga)

Di penghujung tahun 2020 ini, hujan deras mulai mengguyur berbagai kawasan di Indonesia. Hal yang paling dikhawatirkan ketika hujan tiba adalah terjadinya banjir. Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, bahkan kerap menjadi langganan setiap tahunnya, meskipun dari tingkat keparahannya berbeda-beda setiap wilayah dan permasalahan ini sampai sekarang belum bisa diselesaikan. Berbagai upaya yang dilakukan masyarakat untuk mencegah terjadinya banjir sudah dilakukan. Salah satunya di kawasan Desa Cibiru Hilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Dilansir dari laman jurnalsoreang.pikiran-rakyat.com, sejumlah warga mulai memperbaiki tanggul Sungai Cipariuk yang jebol akibat tergerus arus sungai di Kampung Pilar Biru, Desa Cibiru Hilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung (Selasa, 3 November 2020). Kepala Desa Cibiru Hilir, M. Yunus mengatakan bahwa perbaikan tanggul tersebut merupakan upaya antisipasi dari pemerintahan desa berserta warga setempat untuk mencegah banjir akibat tanggul jebol. Namun untuk sementara, kata Yunus, untuk masalah biaya pengadaan barang terkait perbaikan tanggul tersebut, sepenuhnya menyerahkan kepada pihak berwenang. “Sekali lagi saya tegaskan, untuk masalah biaya perbaikan tanggul, sementara ini kami menggunakan biaya darurat yang ada di desa, seperti pengadaan bambu untuk penyangga tanggul serta karung tanah atau bahan lainnya.” jelas Yunus.
Pada dasarnya, masalah banjir tidak hanya sekali saja terjadi, namun banjir selalu datang setiap tahunnya dan kondisinya semakin parah. Ini membuktikan kejadian tersebut adalah masalah sistemik bukan hanya masalah teknis saja. Sebab, masalahnya juga menyangkut kesalahan sistem kelola tata ruang di daerah perkotaan, kemiskinan yang menyebabkan masyarakat menempati bantaran sungai, penebangan hutan secara liar, daerah resapan yang ditanami gedung demi pendapatan daerah, sistem anggaran yang tidak adaptable untuk atasi bencana. Termasuk anggaran yang dikeluarkan untuk menanggulangi tanggul jebol di kawasan Pilar Biru yaitu menggunakan biaya darurat yang ada di desa. Padahal upaya untuk menanggulangi bencana harusnya ada anggaran yang tersedia dari kas negara agar bisa langsung ditangani.
Menurut undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, pemerintah pusat dan daerah mengalokasikan anggaran penanggulangan bencana dalam APBN dan APBD. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Namun pada faktanya inilah yang terjadi di negara pengusung manfaat di atas materi namun jauh dari aturan syariat (sekuler). Sebuah aturan yang bersumber dari manusia yang memisahkan agama dari kehidupan. Jika kita melihat secara seksama, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi banjir sejauh ini hanya memberikan solusi tambal sulam. Peraturan yang dibuat dalam upaya pencegahan maupun penanggulangan bencana nyatanya tidak ditangani dengan cepat. Seperti yang terjadi di kawasan Pilar Biru, tidak adanya sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya pencegahan darurat bencana.
Hal ini berbeda dengan Islam, Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur kehidupan manusia. Termasuk aturan dalam menanggulangi bencana. Untuk mengatasi banjir dan genangan, negara memiliki kebijakan canggih dan efisien. Kebijakan tersebut mencakup sebelum, ketika, dan pasca banjir.
Pertama, kebijakan untuk mencegah terjadinya banjir adalah membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai ataupun curah hujan. Kemudian negara akan memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air (akibat rob, kapasitas serapan tanah yang minim dan lain-lain),  dan selanjutnya membuat kebijakan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah-wilayah tersebut. Selain itu, negara membangun kanal, sungai buatan, saluran drainase, untuk mengurangi dan memecah penumpukan volume air; atau untuk mengalihkan aliran air ke daerah lain yang lebih aman. Secara berkala, mengeruk lumpur-lumpur di sungai, atau daerah aliran air, agar tidak terjadi pendangkalan. Membangun sumur-sumur resapan di kawasan tertentu.  Sumur-sumur ini, selain untuk resapan, juga digunakan untuk tandon air yang sewaktu-waktu bisa digunakan, terutama jika musim kemarau atau paceklik air.
Kedua, dalam aspek undang-undang dan kebijakan, negara akan menggariskan beberapa hal penting seperti kebijakan tentang master plan, mengeluarkan syarat-syarat tentang izin pembangunan bangunan, membentuk badan khusus yang menangani bencana-bencana alam yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan,  dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana, menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai daerah cagar alam yang harus dilindungi, menetapkan kawasan hutan lindung, dan kawasan buffer yang tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan izin, terus menerus menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta kewajiban memelihara lingkungan dari kerusakan.
Ketiga, dalam menangani korban-korban bencana alam, negara akan segera bertindak cepat dengan melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana. Negara menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak agar korban bencana alam tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai. Juga mengerahkan para alim ulama untuk memberikan taushiyyah-taushiyyah bagi korban agar mereka mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa mereka, sekaligus menguatkan keimanan mereka agar tetap tabah, sabar, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah swt.
Inilah kebijakan Negara dalam Islam untuk mengatasi banjir.  Kebijakan tersebut bersumber langsung dari Sang Maha Pencipta yakni Allah Swt, tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagaimana diketahui bahwa Islam bukan sekedar agama ritual belaka, melainkan sebuah sistem yang mengatur kehidupan manusia secara total. Sistem Islam menjamin manusia untuk bisa menggapai kebahagiaan dunia hingga akhirat. Dalam hal ini termasuk bagaimana Islam memiliki kebijakan terhadap penanggulangan bencana seperti banjir. Tentu saja perspektif Islam ini sangat bertolak belakang dengan sistem kapitalisme ataupun yang lainnya. Sistem Islam telah sangat jelas dalam sumber hukum Islam juga pengalaman implementasi pada era Rasulullah saw. hingga masa kekhilafahan yang berlangsung selama hampir 13 abad.
Wallahu a’lam bi ash-shawab.

About Post Author