04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Sempurna, RCEP Sebagai Senjata Penjajahan

Oleh: Wida Ummu Azzam
Ibu Pemerhati Umat

Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) telah ditandatangani oleh lima belas negara pada Minggu 15 November 2020 lalu.

Kelima belas negara ini terdiri dari 10 negara ASEAN terdiri dari Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Vietnam dan 5 mitra ASEAN yaitu Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Tercapainya perundingan RCEP tersebut juga menandai komitmen negara-negara tersebut terhadap prinsip perdagangan multilateral yang terbuka, adil, dan menguntungkan semua pihak.
Lebih penting lagi, hal ini memberikan harapan dan optimisme baru bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi di kawasan.

Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Mendag RI) Agus Suparmanto, RCEP Tumbuhkan Harapan Baru untuk Perekonomian Indonesia. Bahkan Mendagpun ikut menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/10/2020)

Menurutnya Indonesia patut berbangga karena RCEP merupakan kesepakatan perdagangan regional terbesar dunia di luar Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang digagas oleh Indonesia saat menjadi pemimpin ASEAN pada 2011.
(KOMPAS.com 15/10/2020)

Peresmian blok perdagangan baru Asia Pasifik, bukan signal perbaikan kondisi ekonomi negara ASEAN. Namun, lebih besar menjadi alat penjajahan ekonomi bagi Cina.
Bagaimana tidak, Asia bakal memiliki blok perdagangan terbesar di dunia, Cina paling diuntungkan.

Lima belas negara di Asia-Pasifik siap membentuk blok perdagangan bebas terbesar di dunia. Penandatanganan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) ini dilakukan pada pertemuan puncak regional di Hanoi.

Di tengah pertanyaan tentang keterlibatan Washington di Asia, RCEP dapat memperkuat posisi Cina sebagai mitra ekonomi dengan Asia Tenggara, Jepang, dan Korea serta menempatkan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut pada posisi yang lebih baik untuk membentuk aturan perdagangan di kawasan.

Kepala ekonom ING untuk wilayah China Iris Pang menyebut RCEP dapat membantu Beijing mengurangi ketergantungannya pada pasar dan teknologi luar negeri akibat keretakan hubungan dengan Washington.(KONTAN.CO.ID 15/10/2020)

Amerika Serikat maupun Cina
menunjukkan bahwa Indonesia dan negara negara ASEAN memiliki posisi yang lemah. Ketidak mandirian negeri ini menjadi alat memuluskan kepentingan negara besar di bidang politik dan ekonomi.

Inilah yang disebabkan karena sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini dan dunia,Padahal seharusnya indonesia dan ASEAN yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi besar,mampu berdiri sendiri tanpa melibatkan negara besar seperti AS dan Cina.

RCEP terkesan memberikan harapan dan optimisme baru bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi. Padahal sejatinya keterlibatan Indonesia dalam RCEP hanya memperpanjang napas penjajahan ekonomi para oligarki global.

Sistem kapitalisme demokrasi telah memposisikan dirinya hanya sebagai regulator. Hal ini bisa terlihat dari dukungannya saat kerjasama antar negara . Sangat kontras saat pemerintah meliberalisasi berbagai sektor mulai dari ekonomi, industri, energi, pertanian, barang – barang kosumsi hingga layanan publik melalui RCEP.

Berkembangnya RCEP di masa depan justru mematikan sumber – sumber perekonomian dalam negeri. Dan menciptakan monopoli baru terhadap penguasaan sumber sumber daya produksi.

Sudahlah terpuruk dibidang ekonomi karena pasca pandemi ditambah dengan kebijakan yang justru akan semakin memperparah keadaan yang mengakibatkan negeri ini akan menjadi semakin terpuruk dari bidang ekonomi dan politik.
Lantas akan dibawa kemana nasib bangsa ini?

Sedangkan kedaulatan negeri ini sudah begitu lemah bahkan tidak ada sama sekali karena sudah tergadai oleh kebijakan-kebijakan para penguasa yang lebih mementingkan asing dan aseng dibanding rakyatnya sendiri.

Islam Pembawa Perubahan Lebih Baik

Hanya sistem Islam yang mampu memutus penjajahan ekonomi ini dan mampu menandingi hegemoni mafia besar dunia melalui sistem ekonomi Islam.

Sistem Ekonomi Islam akan menghentikan hegemoni ekonomi kapitalis dunia dengan menggunakan emas dan perak sebagai mata uangnya untuk bisa melepaskan diri dari dominasi dolar AS dengan tidak menggunakan mata uang lokal manapun.
Karena emas dan perak ( Dinar dan Dirham ) mata uang yang mampu melawan dominasi dolar AS.

Emas dan perak memiliki nilai instrisik yang tetap tanpa harus distandarkan pada mata uang apa pun dan stabil tidak akan pernah mengalami inflasi.
Penggunaan mata uang emas dan perak, maka negara secara ekonomi tidak akan dikendalikan oleh negara kapitalis dunia.

Dalam ekspor maupun impor,emas dan perak harus menjadi standar mata uang,agar ekspor dan impor akan berlangsung dengan sangat adil.

Sistem ekonomi Islam mampu mewujudkan perekonomian yang mandiri dengan tidak menggunakan Utang luar negeri untuk pembangunan insfrastruktur.

Sistem ekonomi Islam mampu menggunakan kekuatan ekonomi mandiri dan tidak bergantung pada negara kapitalis dunia. Semua kebutuhan ekonomi rakyatnya dapat dicukupi oleh industri- industri yang telah dibangun didalam negeri.

Islam memiliki strategi pembangunan ekonomi dimulai dari pilar kepemilikan yang terbagi dalam tiga kepemilikan,yaitu kepemilikan individu, umum dan negara.

Dimana distribusi harta kekayaan yang berasal dari sumber daya alam untuk seluruh kepentingan ekonomi rakyat.
Dengan mekanisme tersebut negara Islam mampu menjadi negara mandiri, kukuh, dan terdepan dibidang perekonomian.

Hubungan luar negeri dalam negara Islam memperhatikan status politik negara luar tersebut yaitu bukanlah negara  yang memusuhi dan memerangi islam dan kaum muslimin,jika perjanjian mengandung hal yang bertentangan dengan syariat islam maka tidak boleh ditindak lanjuti.

Hanya negara Islam dan sistem ekonomi Islam mampu membawa kejayaan dan kemashlahatan bagi seluruh manusia. Hal ini dengan menerapkan hukum Islam secara total dalam kehidupan bernegara.

Wallahu ‘alam bishshawab.

About Post Author