26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Agama Dijadikan Tangga Menuju Tahta


Oleh: Sumiati | Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

Agama dijadikan alat untuk meraih kedudukan. Hal ini mengingatkan umat Islam pada masa sebelum lahirnya kapitalisme. Namun, seolah sejarah kini terulang kembali.

Dilansir oleh Republika.co.id, pada hari Kamis 19/11/2020. Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, TBG Muhammad Zainul Majdi, mengingatkan bahwa politisasi agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau kemenangan kontestasi politik akan berdampak buruk dan berbahaya. “Menurut saya, politisasi agama bentuk paling buruk dalam hubungan agama dan politik. Sekelompok kekuatan politik menggunakan sentimen keagamaan untuk menarik simpati kemudian memenangkan kelompoknya. Menggunakan sentimen agama dengan membuat ketakutan pada khalayak ramai. Menggunakan simbol agama untuk mendapatkan simpati,” katanya, saat webinar Moya Institute bertema “Gaduh Politisasi Agama,” Kamis 19/11/2020.

Politisasi agama jelang pemilu/ pilkada adalah bagian yang tidak bisa dihindari dalam demokrasi. Karena kontestan berebut suara rakyat demi kursi, meski harus manipulasi atau politik kebohongan. Semua sah selama bisa berkelit dari batasan regulasi. Sebagai contoh nyata adalah presiden terpilih AS Biden, menggunakan hadis untuk memikat pemilih muslim.

Sungguh sangat disayangkan, jika rakyat hanya melihat iming-iming tak pasti dari para calon penguasa. Karena kini agama bukan untuk menjadi identitas diri. Namun, dalam kondisi ini agama pun menjadi penghantar pada kedudukan duniawi. Apalagi setelah mereka terpilih, mereka pun lupa kepada yang sudah memilih. Inilah salah satu wujud cengkraman mabda yang lahir dari kecerdasan manusia kemudian dibungkus dengan hawa nafsu belaka.

Dalam Islam, menjadi penguasa bukanlah suatu yang membanggakan. Namun, amanah berat di pundak yang sebenarnya menakutkan. Sahabat Rasulullah saw. ketika mendapatkan amanah, bukan berpesta pora, tetapi menangis, mengadu kepada Allah perihal rasa takutnya. Berikut kisahnya :
Setelah Abu Bakar Ash Shidiq wafat pada 21 Jumadilakhir tahun ke-13 hijrah atau 22 Agustus 634 Masehi,Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah ke-2. Pada hari ketiga pengangkatan, Umar menyampaikan pidato pertamanya.
Dalam pidatonya, tergambar bagaimana takutnya memikul beban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin ketika itu. Dan bukan saat itu saja Umar merasa hal itu disampaikan Umar. Sesaat setelah Abu Bakar dimakamkan, Umar sudah merasakan ketakutan itu.

“Wahai Khalifatullah! Sepeninggalmu, sungguh ini suatu beban yang sangat berat yang harus kami pikul. Sungguh enkau tak tertandingi, bagaimana pula hendak menyusulmu,” kata Umar sesaat setelah Abu Bakar Asd Siddiq dimakamkan.

Terpilihnya Umar bin Khattab sebagai khalifah ke-2 berdasarkan keputusan Abu Bakar. Sebelum meninggal Abu Bakar menunjuk Umar sebagai gantinya. Keputusan tersebut bahkan telah tertulis dalam wasiat yang ditulis oleh Utsman bin Affan.

Berikut ini isi pidato Umar bin Khattab ketika diangkat menjadi khalifah seperti dikutip dari buku, Biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal. Ada tiga poin dalam pidato Umar.

  1. Keras tapi Lembut
    Saat Umar terpilih menjadi pengganti khalifah setelah Abu Bakar, sebagian besar masyarakat Madinah rupanya khawatir akan dipimpin oleh seseorang yang sudah terkenal dengan sikap kerasnya. Oleh karena itu, pidato pertama Umar bin Khattab disampaikan guna menanggapi keresahan masyarakat Mekah.

“Ketahuilah saudara-saudaraku, bahwa sikap keras itu sekarang sudah mencair. Sikap itu (keras) hanya terhadap orang yang berlaku zalim dan memusuhi kaum Muslimin,” kata Umar.

“Tetapi buat orang yang jujur, orang yang berpegang teguh pada agama dan berlaku adil saya lebih lembut dari mereka semua,” Umar melanjutkan.
Umar pun berdoa agar Allah melunakkan hati dan memberikan kekuatan di saat hatinya sedang lemah.
“Ya Allah, saya ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku! Ya Allah, saya sangat lemah, maka berilah saya kekuatan! Ya Allah, saya ini kikir, jadikanlah saya orang dermawan!”

  1. Jabatan adalah Ujian dari Allah Swt.
    Pidato Umar bin Khattab mengingatkan seorang pemimpin untuk tetap memiliki sikap rendah hati dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. Ia sendiri bahkan menganggap bahwa jabatan ialah ujian.

“Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan kalian. Sepeninggal sahabatku (Abu Bakar Ash Shiddiq), sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Tak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya, dan tak ada yang tak hadir di sini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.”

  1. Saling Mendukung dan Mengingatkan antara Pemimpin Negara dengan masyarakat
    Dalam pidatonya Umar meminta masyarakat Mekah tak ragu untuk menegurnya dalam beberapa hal kalau dia salah. Bahkan Umar meminta rakyat tak ragu menuntutnya jika rakyat tak terhindar dari bencana, pasukan terperangkap ke tangan musuh.
    “Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf naih munkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya demi kepentingan Saudara-saudara sekalian,” kata Umar menutup pidatonya.

Setelah berpidato, Umar bin Khattab turun dari mimbar dan memimpin salat. Wallaahu a’lam bishshawab…

About Post Author