20/01/2021

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Bersabar dalam Dekapan Kalam-Nya Part 4

Waktu begitu cepat berlalu. Dari hari ke hari Dika makin dewasa. Walaupun belum baligh sempurna, tapi tanda-tanda itu makin kentara. Keluguannya makin berkurang. Fase beranjak remaja pun tampak menonjol. Jangankan guru, ibunya saja terheran-heran melihat perkembangan Dika.

Di fase ini, Dika mulai senang melirik akhwat. Ibu Sarah begitu telaten mengingatkan Dika agar menundukkan pandangan. Beruntung Dika cukup patuh kepada ibu Sarah. Sehingga keberadaan perubahan drastis dari Dika, masih dapat dikendalikan. Walaupun demikian, terkadang ulahnya di sekolah mengesalkan guru yang lain. Dika adalah anak yang tidak banyak bicara. Seringkali diamnya menjadi tanya, bagi guru-guru yang lain selain ibu Sarah. Penilaian guru yang lain cenderung tidak paham, apa yang dipikirkan Dika.

Suatu ketika, saat tausiyah sebelum masuk kelas tahfidz. Salah satu Ustadz menyampaikan materi terkait tadabur Al-Quran. Namun, bersambung dengan mengomentari kebiasaan santri di rumah. Termasuk mengomentari Dika yang terkadang membuat status tak bermanfaat. Ibu Sarah terkejut, mendengar tausiyah Ustadz.

Bersegera beliau berkirim pesan WhatsApp ke ibundanya Dika.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Buu. Mau tanya nih, apakah Dika sudah dibelikan handphone?” Tak lama kemudian, ibu Dika pun menjawab,
“Tidak Bu, handphone yang dipakai Dika masih punyaku dulu, yang jadul dan sudah rusak layarnya.”
“Baiklah, pantau terus yaa bu, khawatir Dika melihat yang tidak boleh dilihat! “
“Baik Bu,” sahut ibu Dika dalam pesan WhatsApp-nya.

Kembali Ustadz menegaskan, bahwa untuk anak-anak belum membutuhkan handphone, alangkah baiknya handphone yang sudah terlanjur diberikan orangtua kepada anak-anaknya, dikembalikan kepada orangtua masing-masing.

Tampak wajah-wajah anak-anak merunduk. Terutama yang memang ketahuan suka main handphone. Apakah itu untuk WhatsApp-an, game yang melalaikan belajar. Apalagi jika berani mengakses youtube, tanpa pengawasan orangtua.

Pada pukul 10.00 handphone ibu Sarah berdering. Dilihatnya ada chat dari ibunya Dika,
“Bu, Dika tadi pagi tidak sarapan?”
“Kenapa bu?” sahut ibu Sarah.
“Dika bilang mau muroja’ah saja, biar lebih cepat dibelikan handphone baru sama Ibu”.
“Astaghfirullah Dikaa…” Mata ibu Sarah berkaca-kaca.
Tak menyangka jika Dika makin menjadi berontaknya.
“SubhanaLlaah, jangan dibelikan yaa bu!” Saya khawatir jika sampai dibelikan handphone baru. Ada handphone lama saja sudah mulai berani pasang status tidak bermanfaat. Apalagi jika dibelikan handphone baru, saya khawatir sekali Bu.” sambung ibu Sarah.
“Iya Bu, tidak akan,” kata ibunda Dika.

Ibu Sarah kembali bercerita, “pantas seharian Dika cemberut saja.” Pasti dia lapar bu.” Hemmmh, ibu Sarah narik nafas panjang. Sambil menutup pembicaraan dengan ibunya Dika di handphone.

Selesai shalat dhuha, semua santri mengantri untuk mendapatkan jatah snack. Tak terkecuali Dika, yang masih dengan wajah kakunya. Ketika Dika memberikan mangkuk kepada ibu Sarah, Dika masih cemberut. Diisilah mangkuk dengan snack, ibu Sarah tidak langsung memberikan snack pada Dika. Mata ibu Sarah menatapnya penuh sayang.
“Dika, mengapa cemberut saja?”
Dika hanya menatap tanpa ekspresi. “Tersenyum dulu, baru ini mangkuk Ibu kasih”. Dika tersenyum pahit terpaksa, sembari segera mengatupkan lagi kedua bibirnya. Kemudian mengambil snack dari tangan ibu Sarah dan berlalu begitu saja. Ibu Sarah hanya tersenyum melihat tingkah Dika, murid kesayangannya.

Hingga sore, Dika tetap dengan cemberutnya. Tiba waktu pulang pukul 14.30…Ibu Dika kembali mengirim pesan WhatsApp. Mengabarkan tidak bisa jemput karena baru selesai kajian. Dan meminta ibu Sarah untuk mencarikan angkutan umum. Saat itu jalanan macet. Dika tak kunjung menemukan angkutan umum ke arah rumah Dika.

Akhirnya, dengan kesabaran, angkutan umum itu datang. Dika naik angkutan umum sembari tersenyum yang begitu merekah ke ibu Sarah. Ibu sarah bahagia melihat Dika kembali ceria.
“Alhamdulillah” gumam ibu Sarah. Dika pun meluncur.

Saat telah duduk diangkutan umum, Dika terkejut. Ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang.
“Woy, so alim lu… ” Sekolah di situ Dik?”

“Heh, kamu dari mana Iman?” tanya Dika, matanya berbinar bertemu dengan teman lama waktu di SD umum.
“Dik, kok kamu naik angkutan umum?”
“Kamu kan anak mamih, antar jemput muluu.”
“Aah kamu Man, jauh tahu rumahku.” jawab Dika kesal.
Selang 5 menit, Iman mengajak Dika untuk mabar. Main game di warnet yang akan dilewati angkutan umum yang mereka tumpangi.

Dika terdiam sejenak, kemudian menyetujui ajakan Iman. Dika kesal kepada ibunya yang tak kunjung membelikan handphone. Ajakan Iman jadi inspirasi buat Dika untuk melampiaskan kekesalan kepada ibunya. Padahal ibunya Dika sudah menunggu di pertigaan yang tak jauh dari rumah.
Ibunya Dika sudah menunggu 15 menit. Namun Dika tak kunjung datang. Berulangkali menghubungi ibu Sarah yang masih di sekolah. Namun, ibu Sarah sudah menjelaskan kalau Dika sudah naik angkutan umum.

Hingga 30 menit, 45 menit bahkan 1 jam, ibunda Dika dengan resah tak karuan perasaannya. Sangat khawatir kepada putranya yang tak kunjung datang.

No handphone teman-temannya sudah di hubungi. Namun, tidak berhasil. Tubuhnya tetiba lemas, bersegera meluncur kembali ke rumah. Dan akan menyampaikan yang terjadi kepada ayah Dika. Kemudian mencari tahu keberadaan Dika bersama-sama.

Bersambung
29/11/2020
By Ummu Aisyah