20/01/2021

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Hutang Menjulang Tinggi, Hanya Islam Satu-satunya Solusi

Oleh: Imas Sunengsih, S.E

Beban negara semakin berat, di tengah pandemi yang belum berakhir. Hutang negara terus menjulang tinggi. Ini yang menjadi kekhwatiran banyak pihak akan masa depan Indonesia.

Kepala Ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia, Frederico Gil Sander, mengingatkan Pemerintah Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin untuk berhati-hati dalam mengelola hutang. Pengelolaan hutang yang kurang baik berpotensi mengganggu stabilitas makro Ekonomi yang selama ini menjadi pilar utama ekonomi Indonesia. Efek berikutnya, proses pemulihan yang di perkirakan berlangsung pada tahun depan akan terhambat.

Peringatkan Bank Dunia tersebut disampaikan ketika jumlah utang luar negeri Indonesia belakangan ini terus bertambah. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal 1 2020 sebesar 389,3 miliar dolar AS atau setara Rp.5.693 triliun (kurs Rp.14.625 perdolar AS). Angka ini terdiri atas ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) sebesar 183,8 miliar dolar AS dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 205,5 miliar dolar AS. ULN Indonesia tersebut secara tahunan (year on year/YOY) tumbuh 0,5 persen. (Republika,24/11/2020).

Sungguh negeri ini semakin ada dalam cengkeraman negara kapitalis. Utang dijadikan sebagai alat penjajahan kepada negara-negara yang lemah secara ekonomi, termasuk Indonesia.

Dalam Islam utang ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak. Berhutang yang diperoleh dari domestik maupun asing, boleh dilakukan, dengan syarat tidak disertai riba. Karena akad utang riba tersebut jelas batil, dan haram dalam Islam. Sebagaimana Firman Allah Swt “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (TQS.Al-Baqarah:275).

Ayat ini merupakan perintah dari Allah Swt kepada kaum muslim. Seruan untuk meninggalkan riba karena merupakan sesuatu yang haram. Utang luar negeri, baik yang dilakukan oleh perorangan, instansi, perusahaan, maupun negara, adalah salah satu jenis transaksi (akad).

Jika individu, perusahaan ataupun negara, melakukan utang-piutang dengan pihak lain baik dengan perorangan, instansi, perusahaan, maupun negara lain—maka harus menunaikan transaksi itu hingga transaksi tersebut selesai.

Negara khilafah, individu maupun perusahaan yang memiliki utang luar negeri, membayar sisa cicilan pokoknya saja. Diharamkan untuk menghitung dan membayar sisa bunga utang.

Solusi tuntas yang di tawarkan Islam ini akan menghancurkan cengkeraman negara-negara Barat kapitalis. Terutama ke negeri-negeri Islam dan akan memutus ketergantungan negeri-negeri Islam kepada negara kapitalis. Hal ini memberikan kepercayaan diri bagi kaum muslim, bahwa mereka memiliki kemampuan dan kekayaan yang luar biasa, termasuk SDA yang melimpah ruah.

Dengan demikian, kaum muslim berkewajiban untuk memperjuangkan kembali khilafah dan kebutuhan akan adanya khilafah sehingga khilafah ‘ala minhajin nubuwwah segera tegak.

Wallahu a’lam bishshawab.