29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Ketika Agama Menjadi Tunggangan Untuk Meraih Kekuasaan

Oleh : Irma Faryanti
Member Akademi Menulis Kreatif

Pilkada serentak tinggal menunggu hari, walaupun pandemi belum berakhir nyatanya tidak sedikit pun menyurutkan niat untuk menggelar acara pemilihan kepala daerah tersebut. Dengan dalih mampu menjamin terjaganya kekondusifan dan menaati protokol kesehatan, namun nyatanya masih saja ada yang tidak taat protokol dan menimbulkan kerumunan massa pada saat kampanye.

Munculnya money politik dan politisasi agama di setiap pilkada menjadi hal yang tidak asing lagi. Bahkan karena telah dianggap sebagai hal yang lazim, pelaksanaannya pun dilakukan secara terang-terangan. Itu sebabnya di setiap pemilihan kepala daerah, masing-masing bakal calon akan bersaing memperebutkan massa dengan menarik minat para pemilik suara baik dengan pembagian sembako, bagi-bagi kaos, uang, dan memberi santunan atau dana perbaikan sarana umum seperti jalan, masjid dan lain sebagainya. Pesantren-pesantren pun didatangi untuk bisa meraup massa lebih banyak. Hal ini pula yang terjadi saat pemilihan presiden AS beberapa waktu lalu, dimana Biden menggunakan hadis untuk memikat pemilih yang beragama Islam.

Terkait gencarnya upaya meraih massa ini, Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni al Azhar cabang Indonesia,TGB Muhammad Zainul Majdi menyatakan bahwa politisasi agama untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik akan berdampak buruk dan berbahaya. Menurutnya politisasi agama ini adalah bentuk pemanfaatan untuk mendapatkan kekuasaan dan agama dijadikan instrumen untuk mendapatkan hasil politik. Menggunakan sentimen agama untuk menarik simpati dan meraih dukungan. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa diperlukan penegasan akan politik itu sendiri sebagai bagian dari muamalah, bukan akidah. (Republika.co.id 19 November 2020)

Dilansir dari situs yang sama, Direktur Moya Institute, Hery Sucipto menegaskan bahwa negara harus tegas melindungi segenap warganya dengan menindak tegas kelompok yang memanfaatkan agama untuk kepentingan provokasi. Ia menyatakan bahwa munculnya konservatisme dan militansi juga akibat adanya pembiaran terhadap kelompok intoleran yang dibungkus dakwah provokatif, padahal dakwah itu harus santun, tidak boleh mencaci dan melukai pihak lain.

Adanya upaya menjadikan Islam sebagai alat untuk meraih dukungan massa menunjukkan adanya sikap tidak konsistennya negeri ini akan ide kapitalisme yang selama ini diemban. Sekulerisme yang menjadi akidah bagi sistem kapitalisme telah menetapkan bahwa aturan agama harus dipisahkan dari urusan kehidupan dan negara. Namun pada saat tiba musim pilkada, teori tersebut seolah tidak berlaku karena Islam sering dijadikan sebagai tunggangan untuk meraih dukungan suara.

Upaya memisahkan Islam dari urusan politik sudah sejak lama dilakukan. Berbagai alasan pun diutarakan, salah satunya adalah adanya anggapan bahwa agama itu suci sementara politik kotor, maka mengaitkannya hanya akan mengotori agama itu sendiri. Islam sebagai agama yang diemban oleh sebagian besar penduduk Indonesia, sering ditekankan untuk tidak dibawa-bawa dalam urusan kehidupan, politik dan pemerintahan, dengan alasan bahwa Islam bukan agama politik melainkan agama ahlak dan ibadah. Namun anehnya ketika pemilu tiba, umat Islam dijadikan sasaran untuk meraup massa agar mendukung sepak terjang di dunia perpolitikan dalam meraih kekuasaan.

Politisasi Islam itu sendiri adalah sebuah upaya meraih kepentingan politik dengan menjadikan Islam sebagai alat untuk mendapatkannya. Sebuah tindakan manipulasi pemahaman dan pengetahuan keagamaan melalui propaganda, indoktrinasi, kampanye dan sosialisasi dalam wilayah publik. Islam tak ubahnya seperti baju yang dipakai ketika sedang dibutuhkan dan ditanggalkan ketika tidak lagi diperlukan.

Oleh karenanya wajar jika menjelang pemilu atau pilkada, bermunculan para elit politik yang berhiaskan pakaian Islami seperti peci, mendadak keliling masjid untuk shalat berjamaah, atau mendatangi pesantren-pesantren. Namun ketika pemilu telah usai, mereka pun meninggalkan itu semua. Islam kembali diabaikan dalam kehidupan dan berpolitik.

Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, bukan semata urusan ibadah ritual, moralitas (ahlak) atau persoalan individu saja. Akan tetapi Islam juga mengatur masalah muamalah seperti politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Termasuk juga masalah persanksian dan pembuktian dalam pengadilan, semua tidak luput dari aturan Islam. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab-kitab fikih para ulama terkemuka yang membahas berbagai persoalan mulai dari bab thaharah (bersuci) hingga imamah (kepemimpinan politik Islam).

Jelaslah sudah bahwasanya Islam dan politik tidak dapat dipisahkan. Bahkan menyatukan keduanya adalah suatu hal yang penting dilakukan. Setidaknya hal ini dinyatakan oleh Imam al Ghazali dalam kitabnya Al Iqtishad fi al i’tiqad:
“Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah.”

Ibnu Taimiyah juga mengungkapkan hal senada terkait hal ini:
“Jika kekuasaan terpisah dari agama atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” (Ibnu Taimiyah, Majmu al Fatawa, XXVIII/394)

Islam diturunkan untuk mengatur seluruh urusan manusia. Tidak semestinya Islam hanya digunakan sebagai tunggangan politik demi meraih kekuasaan, karena itu tidak lebih sebagai politisasi Islam. Yang harus dilakukan adalah menjadikan Islam sebagai dasar dalam berpolitik, karena hal tersebut akan menjadi pangkal kebangkitan Islam di berbagai sektor kehidupan.

Permasalahan yang menimpa negeri ini tidak boleh berhenti pada bergantinya sosok individu elit politik, karena akar permasalahanya ada pada sistem rusak yang saat ini diberlakukan. Jadi bukan sekedar pemimpin yang shalih secara individual yang diperlukan saat ini, melainkan ideologi yang shahih yang diterapkan di berbagai aspek kehidupan. Ideologi itu yang dimaksud adalah Islam, yang akan menerapkan aturan Allah ini secara menyeluruh sesuai dengan metode kenabian dalam sebuah naungan sistem pemerintahan Islam.

Wallahu a’lam Bishawwab

About Post Author