30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Sindrom Islamofobia Akut


Oleh: Jusniati Dahlan
(Aktivis Dakwah Kampus dan Anggota AMK)

Tawaran untuk bergabung dengan Masyumi, seolah diiyakan oleh Amien Rais selaku pendiri partai umat. Dalam sebuah pertemuan di Gedung Dewan Dakwah, Jakarta Pusat, republika.co.id, (07/11/2020)

Adanya wacana, membentuk satu partai yang merupakan gabungan aspirasi politik umat Islam. Merupakan pertanda kesadaran politik masa kini kaum muslim, benarkah demikian?

Cuitan pun muncul dari DR. Margarito, selaku pakar hukum tata negara. Yang menilai bahwa perjuangan umat Islam yang terkesan hanya menempuh lewat perjuangan sosial melalui Ormas (Organisasi Kemasyarakatan), misalnya NU (Nahdatul Ulama) dan Muhammadiyah, mengalami jalan buntu. Banyak yang mengangap tidak optimal.

Mengapa demikian? Ini karena politik kekuasaan saat ini menentukan segalanya. Bahkan, hanya lewat politik itulah kekuasaan penggunaan uang didapatkan. Di luar itu, kekuatan ormas yang nyatanya berkutat langsung dengan kehidupan rakyat hanya menerima remah-remahnya. Ini tercermin dengan janji-janji politik masa kini kepada ormas yang hendak memberikan bantuan mencapai Rp 1,5 triliun. “Padahal itu duit yang ecek-ecek. Apalagi, ternyata masih hanya janji. Bahkan, terlihat kemudian janji bukan dibayar, malah janji dibayar dengan janji,” kata Margarito menegaskan.

Akibatnya, kesadaran umat Islam pun terlecut. Kala bangsa ini yang begitu kokoh bisa disebut dikuasai oleh segelintir elit partai politik, muncullah kekuatan lain untuk menandinginya. Uji coba ini menarik sekaligus menjadi tantangan umat Islam.

Apakah umat Islam masih menganggap perjuangan sruktural tidak penting? Ingat, pada hari ini keberadaan uang negara dan cara baginya hanya bisa didapat melalui kekuatan politik. Bahkan, jabatan penting pun dibagi atas prevelensi ini.

Semuanya adalah imbas, dari penerapan sistem demokrasi di negeri ini.

Di mana kekuasaan berada ditangan para segelintir orang yang haus akan kekuasaan. Berefek bukannya untuk menyejahterakan rakyat, namun menyejahterakan diri sendiri. Jelas sudah, bahwa aspirasi penegakan syariat, mustahil diwujudkan di kancah politik demokrasi hari ini.

Pertayaannya, mengapa wacana munculnya partai Masyumi kembali menguak? Adakah kepentingan dalam rangka menghidupkan, setelah lama tidur dari mimpi panjangnya.

Pemicu Parpol (Partai Politik) Islam kembali berdiri, karena tiadanya peluang pada partai yang ada untuk mewujudkan cita-cita perjuangan. Karena ketidakpuasan terhadap partai sebelumnya. Sekali pun memberikan pengaruh. Namun sayang, itu tidak cukup. Akhirnya, generasi setelah mereka mencoba mengulang perjuangan ini sekali lagi, dengan harapan akan ada perubahan yang mampu membangkitkan umat.

Namun, sebagaimana yang dibahasakan oleh SyekhTaqiyuddin an-Nabhani, dalam kitab takatul hizb. Upaya gerakan-gerakan yang selama ini dilakukan banyak partai dan terus mengalami kegagalan, faktor utamanya ialah:

  1. Gerakan-gerakan tersebut berdiri di atas dasar fikroh (pemikiran) yang masih umum tanpa batasan yang jelas, sehingga muncul kekaburan dan pembiasan. Lebih dari itu, fikroh tersebut tidak cemerlang, tidak jernih dan tidak murni.
  2. Gerakan-gerakan tersebut tidak mengetahui thariqoh (metode) bagi penerapan fikrohnya. Bahkan fikrohnya diterapkan dengan cara-cara yang menunjukkan ketidaksiapan gerakan tersebut dan penuh dengan kesimpangsiuran. Lebih dari itu, thariqoh gerakan-gerakan tersebut telah diliputi kekaburan dan ketidakjelasan.
    3.Gerakan-gerakan tersebut bertumpu kepada orang-orang yang belum mempunyai kesadaran yang benar. Mereka pun belum mempunyai niat yang benar. Bahkan, mereka hanya orang-orang yang berbekal keinginan dan semangat semata.
  3. Orang-orang yang menjalankan tugas gerakan-gerakan tersebut tidak mempunyai ikatan yang benar. Ikatan yang ada hanyalah struktur organisasi itu sendiri, disertai dengan sejumlah deskripsi tugas-tugas organisasi, dan sejumlah slogan-slogan organisasi.

Sebab itu, sangat wajar jika kegagalan demi kegagalan terus menghantui mereka, yang hanya melakukan gerakan dengan modal semangat semata. Layaknya manusia biasa, kobar semangat itu tidak terus membara, kadang up down. Apa kabar jika hal tersebut terjadi? Apakah aktivitas mereka akan terhenti lalu lenyap bak ditelan bumi?

Hingga, setelah lama partai itu menghilang, bermunculanlah gerakan-gerakan lain dengan orang-orang yang berlainan pula. Mereka pun sama, bergerak sebagaimana para pendahulu mereka. Sebuah keterbelakangan dalam bernalar, ketika mereka mengharapkan hasil yang berbeda. Namun, menempuh jalan yang sama. Hingga akhirnya, hal tersebut terulang secara terus-menerus hingga hari ini. Tergambar jelas, bahwa kesamaran dalam mengemban fikroh dan thariqoh, menjadi pemicu utama kegagalan sebuah partai politik Islam.

Hal tersebut berdampak makin beragamnya fragmentasi (pemahaman) umat. Dengan metode kebangkitan yang diemban oleh parpol Islam yang telah ada. Mengingat, aktivitas politik yang dilakukan hanya berorientasi meraih kursi, hingga berkuasa untuk mengubah tatanan yang ada.

Jalan menuju parlemen, jelas harus memenangkan Pemilu (Pemilihan Umum). Padahal, umat hanya akan memilih partai yang sesuai dengan pemahaman dan keinginannya. Meski terdapat banyak partai politik Islam, jika mereka tidak melakukan edukasi agar umat mengambil syariat Islam sebagai acuan dan standar. Jangan harap, umat memilih parpol Islam yang akan memperjuangkan syariat.

Banyaknya parpol Islam, yang diharapkan akan membuat suara Islam dominan di dalam parlemen. Nyatanya seringkali justru memecah suara umat yang hendak memilih. Akibatnya, perolehan suara mereka sangat sedikit dan kalah dalam pertarungan pemilu. Jika pun mampu lolos, sistem yang diberlakukan dalam parlemen, akan menutup jalan bagi kemenanggan suara Islam.

Demokrasi yang lahir dari akidah sekuler, menihilkan agama, yakni syariat Islam. Untuk diambil sebagai hukum atau kebijakan negara. Semua produk parlemen, adalah hasil karya dari akal manusia.

Di sinilah akan selalu terjadi pergolakan kepentingan, dalam anggota parlemen dan partai politik Islam. Antara menjaga kepentingan pribadi, kepentingan partai atau bahkan untuk mendapatkan jatah melawan kepentingan, menggoalkan kebijakan berbasis syariat Islam. Inilah jebakan demokrasi, yang menghalangi umat memfokuskan pada pembangunan.

Mari kita bandingkan, bagaimana fokus aktivitas parpol menurut Islam dalam bingkai naungan negara khilafah.

Dalam sistem Islam, keberadaan parpol Islam, adalah sebuah kewajiban. Yang dibebankan oleh Allah Swt. kepada umat muslim. Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali-Imran [3]:104)

Gerakan yang menyerukan penegakan syariat Islam secara kafah ke seluruh penjuru dunia. Sebab tidak ada jalan lain, yang dimaksud dari ayat diatas. Selain parpol Islam tersebut, mendorong berdirinya negara Islam, yakni khilafah Islamiyah.

Kewajiban ini, hanya dapat diemban oleh parpol Islam yang berlandaskan akidah Islam. Mengadopsi hukum-hukum syariat Islam. Bukan parpol yang semata mengakui mengemban visi Islam, namun justru didirikan atas dasar akidah kapitalis-sekuler.

Parpol Islam yang shahih, akan menempuh 3 tahapan (marhala) dalam mendirikan khilafah yaitu sistem pemerintahan Islam.

Hingga ideologi Islam, terterapkan di tengah-tengah masyarakat:

  1. Tahapan pengkajian dan belajar untuk mendapatkan tsaqafah partai.
  2. Tahapan interaksi (tafa’ul) dengan masyarakat tempat partai itu hidup, sampai ideologinya menjadi kebiasaan umum. Dan masyarakat menganggap, bahwa ideologi tersebut adalah bagian dari ideologi mereka.
  3. Tahapan menerima kekuasaan secara menyeluruh melalui dukungan umat, sampai partai tersebut dapat menjadikan pemerintahan sebagai metode untuk menerapkan ideologi atas umat.

Tugas kita hari ini memang berat kawan. Sebab, kita harus menghancurkan pemikiran kufur mereka, sambil membangun pemikiran tsaqafah Islam dalam diri umat. Tetaplah berjuang, tetaplah hebat, tetaplah jadi penulis ideologis.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author