25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Warning! Ancaman Loss Learning, Bds 2021 On Going


Widya Amidyas Fillah | Pendidik Generasi

“Pendidikan adalah paspor ke masa depan, karena besok milik mereka yang mempersiapkannya hari ini” (Malcolm X) – quotes yang menginspirasi ketika generasi dihadapkan pada berbagai kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan. Generasi cemerlang adalah generasi yang senantiasa mempersiapkan ilmu dan pengetahuannya melalui pendidikan, baik pendidikan formal maupun non-formal.

Di masa pandemi ini, kita dihadapkan pada berbagai persoalan yang dilematis. Berbagai kebijakan pemerintah dalam rangka mengatasi penyebaran covid-19, kebijakan pemerintah dalam rangka melindungi masyarakatnya melalui PSBB, new normal, hingga kebijakan social distancing. Tidak terkecuali di ranah pendidikan. Kebijakan home learning atau belajar di rumah diberlakukan sejak pandemi ada hingga kini. Home learning selama berbulan-bulan dirasakan sangat menjenuhkan bagi para siswa. Begitu banyak hal yang tidak tersampaikan, seperti pendidikan karakter, moral, adab, dan ilmu lainnya yang hanya dapat diberikan jika pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka. Sebagai orang tua, merekapun merasa kesulitan dalam mendampingi anaknya belajar di rumah. Tidak hanya siswa dan orang tuanya, guru dalam hal ini sebagai penggerak roda pendidikan pun mengalami banyak hambatan dan kesulitan dalam mengajar siswanya. Sekalipun ditunjang oleh sarana yang disebut teknologi informasi dan komunikasi.

Mempertimbangkan kondisi yang semakin memprihatinkan, pemerintah berencana untuk membuka kembali sekolah untuk pembelajaran tatap muka pada Januari 2021 mendatang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengizinkan pemerintah daerah untuk memutuskan pembukaan sekolah atau kegiatan belajar tatap muka di sekolah di seluruh zona. “Perbedaan besar di SKB sebelumnya, peta zonasi risiko tidak lagi menentukan pemberian izin pembelajaran tatap muka. Tapi Pemda menentukan sehingga bisa memilih daerah-daerah dengan cara yang lebih detail, kebijakan ini berlaku mulai semester genap tahun ajaran 2020/2021. Jadi bulan Januari 2021. Jadi daerah dan sekolah sampai sekarang kalua siap tatap muka ingin tatap muka, segera tingkatkan kesiapan untuk laksanakan ini.” ungkap Nadiem Makarim dalam konferensi pers daring dikutip dari akun Youtube Kemendikbud RI, Jumat (20/10/2020). (Sumber : CNN Indonesia).

Ketua komisi X DPR RI, Syaiful Huda meyatakan mendukung kebijakan tersebut dengan beberapa syarat. “Kami mendukung pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan protokol Kesehatan yang ketat”, Jumat (20/11/2020) pada laman Liputan6 .com.

Kebijakan tersebut sebetulnya hanya kebijakan sektoral saja, yaitu menghindari ancaman loss learning atau kehilangan masa pembelajaran. Sementara resiko tertularnya covid-19 siswa yang belajar tatap muka masih dinilai sangat tinggi. Mengingat penangan covid-19 sampai dengan saat ini belum menujukkan kemajuan yang berarti. Sehingga upaya menurunkan penyebaran covid-19 akan menjadi sia-sia.

Masyarakat dihadapkan pada posisi yang dilematis dalam menyikapi dan menjalankan kebijakan yang pemerintah gulirkan. Satu sisi mengharapkan pembelajaran kembali efektif, namun di sisi lain mereka khawatir akan tertularnya anak mereka covid-19 dan menyebar kepada anggota keluargannya yang lain.
Pandemi covid-19 ini memang sudah menjadi qadha dari Allah SWT, sebagai bahan perenungan, pembelajaran serta berbagai hikmah yang bisa dipetik. Pemberlakuan kembali belajar di sekolah (BDS) tidak cukup hanya dengan menerapkan protokol Kesehatan melalui 3M (Menggunakan Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak). Akan tetapi harus disertai dengan 3T (Tracing, Testing dan Treatment), yaitu pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing) dan perawatan (Treatment).

Pemeriksaan dini dilakukan agar bisa mengetahui dan mendapatkan perawatan dengan cepat serta bisa menghindari potensi penularan. Kemudian pelacakan dapat dilakukan kepada kontak terdekat dari pasien yang terjangkit covid-19 dan melakukan isolasi agar penularan tidak terus menyebar. Kemudian akan dilakukan perawatan hingga sembuh melalui cara isolasi dan pengobatan secara intensif.
3M dan 3T sangat selaras jika benar-benar dilakukan dalam upaya menghentikan penyebaran covid-19 dan persiapan kegiatan BDS . upaya merupakan upaya sistem Islam yang sangat efektif dalam menangani wabah sejak awal. Perintah Islam dalam menjaga jarak (social distancing) dan isolasi dari penyakit dalam Hadist Rasulullah SAW. Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, Rasulullaah Bersabda,
“Tha’un (penyakit menular/wabah kolera) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR. Bukhari Muslim)
Sistem Islam menempatkan keselamatan dan kemaslahatan rakyat sebagai prioritas utama. Bukan kepentingan yang bersifat kapitalistik. Sehingga pemerintahan yang menggunakan sistem Islam akan serius dan bersungguh-sungguh mengurus rakyatnya.

Wallaahu a’lam bishshawwaab.

About Post Author