30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Bersabar dalam Dekapan Kalam-Nya Part 5

Jam dinding menunjukkan pukul 20.00. Ibunda Dika masih menangis di pangkuan ayah. Sementara Dika tak kunjung pulang. Sudah berbagai upaya yang dilakukan, dalam mencari Dika. Namun nihil.

“Ayah yakin Dika akan pulang Bu, karena Dika belum pernah seperti ini. Dan Dika tidak begitu paham wilayah kita, Ayah yakin Dika tidak jauh dari dari tempat tinggal kita!”

Jam dinding terus berdentang. Tak terasa ibu dan ayah Dika tertidur lelap di kursi. Lelah begitu menghimpit diri. Keduanya tertidur, ayah duduk di kursi dan ibu menyandarkan kepalanya di paha ayah. Suara binatang malam bernyanyi menemani mereka. Walau hati gundah, lelap juga tertidur saat itu.

Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara murotal Al-Quran. Ibu terbangun dari tidur, tersentak kaget, karena melihat jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Segera membangunkan ayah yang kemudian terbangun juga.

“Yaah, Dika belum pulang, sekarang sudah dini hari begini.”

Ayah mencoba terus menenangkan ibu. Dalam kondisi demikian, terdengar suara merintih dari luar pintu depan.

“Buuu….buuu…Ayaaaah…”, suara itu tidak asing di telinga ibu dan ayah.

“Dikaaa,” Ibu berlari menuju pintu. Dan di bukanya pintu dengan terburu-buru. Tampak di teras depan rumah tubuh Dika terkulai lemas.

“Dikaaa,” Ibu menjeriit sembari memeluk Dika yang lemah. Rupanya Dika kedinginan karena sepanjang malam tidur di teras. Ibu dan ayah segera membopong tubuh Dika. Dibawanya ke kamar agar hangat. Ibu segera mengambil air minum hangat.

Hari itu Dika tidak sekolah. Ibu sudah mengirimkan pesan ke pihak sekolah. Bahwa Dika ijin tidak masuk sekolah, karena kondisi badan Dika tidak fit. Pagi harinya, ayah dan ibu belum menyapa Dika. Keduanya memberikan kesempatan kepada Dika untuk merenung. Bahkan diharapkan segera meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya. Hingga waktu dhuha tiba, ayah sudah berangkat ke kantor. Dika tak kunjung berbicara kepada ibu. Dika hanya terdiam di kamar. Bahkan sarapan pun tidak, padahal ibu sudah membawakan makan untuk Dika ke kamar.

Dengan perlahan ibu menghampiri Dika. Dielus kepalanya, “Dika, maafkan jika Ibu dan Ayah salah, Ibu dan Ayah kemarin mencarimu. Namun, tidak menemukan di mana keberadaanmu Nak!”

“Sepanjang malam Ayah dan Ibu khawatir terhadapmu. Dikaa, bisakah bercerita apa yang ada dibenakmu hingga kau lakukan ini?”

Dika tetap terdiam. Tak sepatah kata pun yang keluar dari lisan Dika. Ibunda Dika sudah paham karakter putranya, ibundanya akan sabar menunggu Dika hingga mau bercerita.

Keesokan harinya Dika seperti biasa berangkat sekolah. Seperti biasa Dika diantar ibu. Wajah Dika belum juga ceria. Begitu pun ketika sampai di sekolah. Tanpa ucap salam atau bersalaman kepada guru. Dika masuk tanpa ada suara.

Ibu Sarah heran melihat sikap Dika. Tak biasa murid kesayangannya itu tak menghiraukannya.
“Sepanjang Dika di sekolah ini, tak pernah Dika bersikap begini”, gumam ibu Sarah dalam hati. Dibiarkannya Dika semau Dika saat itu. Dari jauh ibu Sarah terus memperhatikan Dika.

Hingga akhirnya ada waktu untuk ibu Sarah menyapa Dika. “Dikaaa”, mata Dika melirik ibu Sarah. Namun tetap tanpa ekspresi apapun. “Dika, sekesal apapun Dika kepada orang-orang disekitarmu, cobalah bicara, agar kami tahu apa yang ada dalam hatimu.”

Dika menatap ibu Sarah, ibu Sarah tahu jika Dika ingin bercerita.

“Bu, Dika sekarang kan sudah besar, boleh kan minta dibelikan handphone? “

Mata ibu Sarah menatap Dika dengan penuh kasih sayang. Dengan senyum khasnya tampak kedua lesung pipinya menghiasa senyum indahnya.

“Dika, Ibu tahu Dika sudah besar, sebentar lagi lulus SD, bahkan Ibu tahu Dika sudah bisa membedakan mana hak mana bathil. Namun, yang Ibu tahu, diusiamu belum membutuhkan handphone Nak!”

“Walaupun Dika suka telepon Ibu, WhatsApp Ibu, tapi masih bisa menggunakan handphone lama, punya Ibumu, kasian Ayah Ibumu, Nak!”

Mata Dika berkaca-kaca, tampak menyimpan rasa sedih dan marah kepada ibu Sarah. Bersegera Dika beranjak dari hadapan ibu Sarah.

“Diiikkk,” Ibu Sarah memanggil Dika, tetapi Dika terlanjur berlalu.

“Yaa Allah, ada apa dengan Dika, tak biasanya dia begitu.”

Jam dinding menunjukkan pukul 14.30. Saat sekolah pulang. Tetiba Dika menghampiri ibu Sarah. “Buu, tolong WhatsApp -in Ibu aku, aku mau naik angkutan umum, jangan dijemput.”

“Baik Nak!”

Bersegera ibu Sarah menghubungi ibunda Dika, mengabarkan jika Dika tidak mau dijemput, mau naik angkutan umum saja.

Bersambung
05/12/2020
By Ummu Aisyah

About Post Author