04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

▪Kadal Raksasa, Nasibmu yang Nelangsa▪

Oleh: Siti Ningrum, M.Pd. (Pegiat Literasi)

Seksi dan menggoda. Mungkin kalimat itu yang pantas dilontarkan kepada bumi pertiwi, dan dunia pun mengakuinya. Terbukti, banyak sekali yang menginginkannya. Sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan. Ribuan pulau yang terhampar luas, saling sambung menyambung dari Sabang sampai Merauke.

Setiap jengkal tanahnya, menampakan keistimewaannya. Sehingga, banyak sekali kawasan yang dijadikan objek wisata. Keindahan alamnya yang rupawan, mampu menaklukan hati yang memandangnya. Jatuh hati, dan tak ingin segera pergi, bahkan terbersit ingin memiliki.

Hasrat manusia takkan pernah sirna, meskipun kebutuhan akan apa pun telah terpenuhi. Keegoisannya bisa terukur dan terlihat dari caranya memperlakukan sesama. Tidak hanya itu, kerakusan juga akan selalu merasuki diri. Tidak peduli dengan apa yang dilakukannya, meskipun ada yang terluka.

Demi menggapai hasrat itu, maka manusia selalu menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya.
Malaikat pun telah mengetahuinya sebelum manusia diciptakan. Fakta pun mengungkapkan hal itu, manusia terkadang merusak alam dan makhluk hidup lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Akibatnya bencana pun datang karena diundang.

Jeritan hati dan tangisan sesama sudah tidak dihiraukan, apalagi hanya dari seekor hewan. Hanya yang masih punya hati nurani mampu membaca bahasa tubuhnya. Sungguh malang nasib kadal raksasa (komodo), yang ada di Indonesia. Kini, lahanmu terusik oleh para pencari dunia semata dan para penghamba tahta.

Motif Ekonomi Dibalik Konsep Jurasic Park

Komodo hidupnya senang di alam terbuka, hutan belantara, atau di pinggir pantai. Jadi jika wilayah konservasinya berubah menjadi konsep jurasic park, pasti menggangu kehidupannya. Namun, apalah daya mereka hanya bisa menjerit dalam diamnya.

Kadal raksasa (komodo), merupakan hewan yang langka. Terbukti hanya ada di Indonesia, tepatnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lebih menakjubkan lagi, pada bulan Mei 2012 termasuk salah satu dari tujuh Keajaiban Dunia. Sudah menjadi keharusan bagi sebuah negara, untuk melindung dan melestarikan hewan yang hampir punah.

Sayang seribu kali sayang, pemerintah akan menjadikan pulau komodo menjadi wilayah wisatawan dengan menggunakan konsep Jurasic Park. Hal ini menimbulkan kontroversi di masyarakat, termasuk ketua MPR Bambang Soesatyo, yang mendesak pemerintah untuk menjelaskan kepada khalayak, apa tujuan dari pembangunan kawasan wisata di darah konservasi komodo itu (Galamedianews.com, 28/10/20).

Senada dengan ketua MPR RI. Wakil Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Edo Rakhman mengungkapkan, bahwasannya proyek tersebut tidak ada basis keilmuan jika akan dijadikan wisata eksklusif (liputan6.com, 29/10/20).

Kebijakan-kebijakan pemerintah selalu mengundang kontroversi, namun selalu ada alasan, agar rencana tersebut berjalan mulus tanpa kendala apa pun.

Termasuk untuk memuluskan penjualan wilayah daerah konservasi komodo. Pihak pemerintah mengungkapkan akan tetap menjaga keberlangsungan komodo tersebut. Benarkah demikian?

Seperti yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menegaskan tetap akan mempromosikan proyek wisata Taman Nasional Komodo (TNK), Nusa Tenggara Timur (NTT). Alasannya, komodo merupakan hewan yang hanya ada di Indonesia sehingga memiliki nilai jual tinggi.

Alasan lainnya yang diungkapkan adalah banyak yang tidak menyukainya, karena hanya Indonesia yang mempunyai hewan langka ini. Jadi untuk menghindari hal tersebut, maka daerah tersebut akan tetap dijual. Sungguh alasan yang tidak masuk akal.

Sungguh jelas terlihat, bukan ingin menjaga melainkan hanya ingin meraup keuntungan. Ada udang dibalik batu, yakni motif ekonomi menjadi faktor utama.

Kerakusan dan ketamakan manusia, telah mengabaikan hak hidup hewan serta pelestarian lingkungan alam. Ujung-ujungnya bukan menjaga, namun menghancurkan demi kepentingan bisnis semata. Tidak peduli hewan langka punah atau kelestarian alam punah.

Merusak alam adalah salah satu ciri dari sistem kapitalisme yang rusak dan merusak. Konsep menjaga dan melindungi hewan langka adalah dengan membiarkan wilayahnya tidak diganggu dan juga tidak dihancurkan. Bukan malah sebaliknya.

Begitulah watak sistem kapitalisme, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, kelompok serta para elit kapital. Ini semua dikarenakan pengelolaan sumber daya alam yang tidak sesuai dengan semestinya.

Konsep Keseimbangan dalam Islam

Sebelum penciptaan manusia, tumbuhan dan hewan terlebih dahulu Allah ciptakan. Tujuannya adalah, agar manusia menjaga lingkungan yang telah Allah berikan. Juga untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri.

Sebagaimana firman Allah dalam.Q.S. Al-Baqarah: 22, yang artinya:

“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan
bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui”

Begitupun dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan. Islam telah mengaturnya dengan jelas. Yakni, tidak boleh dikuasai oleh swasta atau asing.

Sebagaimana sabda Rosulullah saw.
Kaum muslim berserikat dalam tiga hal padang rumput, air, dan api (H.R. Abu Dawud dan Ahmad).

Pengelolaan SDA pun akan sesuai dengan tuntunan Rosulullah saw. Yaitu ditempatkan pada posisi masing-masing dengan sangat proporsional.

Islam mengajarkan kepada manusia tidak boleh merusak lingkungan. Membunuh hewan tanpa alasan yang tidak jelas pun tidak dibenarkan. Islam sangat menjaga hal tersebut.

Jadi dalam Islam tidak akan ada yang namanya serakah atau tamak. Yang ada adalah sebuah keseimbangan alam.

Manusia sebagai khalifah di muka bumi, bertugas menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan, termasuk hewan didalamnya. Itu semua dilakukan sebagai bentuk ketaatan terhadap ajaran Islam yang paripurna.

Islam sangat menjaga tumbuhan juga hewan. Sebab merupakan bagian dari sebuah keseimbangan ekosistem.

Dalam Islam, hewan pun harus disayangi. Seperti Nabi Sulaiman a.s yang menyayangi hewan sekecil semut pun tidak boleh diinjak.

Contoh lainnya, seperti Rosulullah saw menyayangi hewan yang bernama kucing. Ketika hendak melakukan sholat, ternyata di tempat sholatnya ada kucing yang sedang tidur, maka dibiarkannya.

Tidak hanya itu, Islam sebagai agama yang paripurna tidak akan menjadikan tempat pariwisata sebagai bahan pemasukan negara/ devisa. Yang ada tempat wisata akan dijadikan sebagai bentuk rasa syukur terhadap penciptaan yang begitu sempurna dan teratur. Tujuan karya wisata dalam Islam adalah taddabur.

Demikian halnya dengan pembangunan infrastruktur, ajaran Islam tidak memberikan contoh bahwa tempat wisata lebih diutamakan. Ada hal yang lebih penting untuk pembangunan insfrastruktur yaitu pembangunan kesehatan, pendidikan, juga hal lainnya.

Begitu jelasnya perbandingan sistem kapitalisme dan sistem Islam. Selamanya sistem kapitalisme takkan mengantarkan pada sebuah kesejahteraan bagi rakyatnya, melainkankan mengantarkan pada kesengsaraan.

Namun semuanya itu hanya akan bisa diwujudkan dalam sebuah naungan negara yang menerapkan aturan Islam yakni khilafah.

Saatnya sistem Islam menggantikan sistem kapitalisme yang sudah nyata kerusakannya.

Wallohualam bishowab.

About Post Author