29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Stigma Negatif Islam moderat, untuk Memperlemah Kaum Muslim

Oleh : Luluk Kiftiyah
Member AMK (Akademi Menulis Kreatif) dan Pebisnis Online

Beberapa hari lalu, pemerintah melakukan perombakan kepengurusan MUI (Majelis Ulama Indonesia) periode 2020-2025. Sejumlah nama baru muncul dengan Miftachul Akhyar sebagai Ketua Umum MUI. Seiring adanya nama baru yang muncul, nama lama kini hilang, terutama nama yang getol mengkritik pemerintah seperti Din Syamsuddin dan sejumlah ulama yang dikaitkan identik dengan aksi 212 telah terdepak dari kepengurusan.

Nama Din Syamsuddin sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI digeser Ma’ruf Amin. Selain nama Din Syamsuddin yang hilang, nama mantan bendahara Yusuf Muhammad Martak, mantan wasekjen Tengku Zulkarnain, dan mantan sekretaris Wantim Bachtiar Nasir. Keempat nama yang diganti ini dikenal sebagai tokoh yang kerap kali mengkritik pemerintah. Din Syamsuddin yang aktif di Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), dan tiga nama terakhir merupakan pentolan aksi 212, dimana pemerintah menganggap mereka adalah kepanjangan tangan dari kelompok Islam kanan yang di orkestrai Habib Rizieq Shihab.

Sejumlah pengamat politik mengkritik susunan baru kepengurusan di MUI karena dianggap adanya campur tangan pemerintah. “Posisi Ma’ruf Amin yang sekarang, menunjukkan aroma kental adanya campur tangan pemerintah. Sebab beliau itu wapres, jadi agar mudah untuk mengendalikan ulama. Sehingga kekritisannya akan hilang dan tak lagi ada suara sumbang,” ujar Ujang Komarudin selaku pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia. (CNNIndonesia.com, 27/11/2020)

Pasca demo Ahok, MUI kerapkali menjadi sorotan publik, bahkan gara-gara demo Ahok dulu, Indonesia sempat viral di dunia. Oleh sebab itu, jika MUI tidak dipegang oleh pemerintah bisa berbahaya. Tentu pemerintah tidak mau ambil resiko, belajar dari pengalaman yang sebelumnya.

Kemudian, peneliti politik LIPI Siti Zuhro juga angkat bicara, menurutnya adanya pergantian kepengurusan yang didominasi oleh kubu yang pro dengan pemerintah merupakan upaya penyeragaman suara di MUI. Siti menyebutnya sebagai state corporatism. “Tak seharusnya pendapat yang berbeda dengan pemerintah di babat habis. Kalau setiap suara yang berbeda di habisi, kemana perginya diskusi dan musyawarah? “Ini Orde Reformasi yang tidak sepatutnya begitu,” ujar Siti. (CNNIndonesia.com, 27/11/2020)

Inilah wajah asli demokrasi, demokrasi yang dijalankan tidak secantik teorinya.
Sesungguhnya demokrasi yang djalankan adalah demokrasinya para elite, para cukong.
Tidak ada kebebasan berorganisasi bagi yang dianggap bersebrangan dengan rezim. Jika ada organisasi yang bersebrangan dengan rezim, maka tinggal menunggu waktu untuk disapu bersih. Misalnya saja digesernya nama-nama lama di MUI yang diganti dengan nama baru yang pro dengan rezim. Hal ini menunjukkan, seolah tidak boleh ada suara sumbang yang mengkritik rezim.

MUI yang tadinya sebagai wadah bagi semua ormas Islam, kini seolah beralih fungsi. Sebab, di dalam struktur kepengurusan di MUI yang baru hanya menyisahkan orang-orang yang seirama dengan rezim, yaitu yang bisa mengedepankan Islam moderat atau washatiyatul Islam.

Mereka menganggap di kepengurusan MUI yang lama ada beberapa orang diposisi penting yang ber Islam garis keras. Pertanyaanya, sejak kapan Islam moderat di anggap paling benar? Dan Islam garis keras di anggap ekstrim atau salah? Apa ukuran benar dan salahnya? Adakah dasar tuntunan di dalam Islam bahwa kita harus menjadi seorang Muslim yang moderat atau kita harus melakukan moderasi Islam?
Sebab dalam ajaran Islam, seorang Muslim itu dituntut untuk menjadi seorang Muslim yang sebenarnya, Muslim yang kafah . Itu ada dalilnya. Tapi kalau Muslim yang moderat atau moderasi Islam itu apa?

Adanya opini Islam moderat itu sejatinya untuk mengaburkan ajaran Islam yang dianggap radikal, yang dianggap ekstrim. sedangkan ukuran radikal dan ekstrim itu berdasarkan ukuran siapa? Apakah yang radikal dan ekstrim itu mereka yang bercadar? Mereka yang bercelana cingkrang? atau mereka yang mendakwakan khilafah dan jihad? Bukankah itu bagian dari ajaran Islam, dan ada dalil Qur’annya.

Pada Surah Al Maidah ayat 48

….فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ….

…maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…

Sedangkan ayat jihad disebutkan pada Al Qur’an beberapa di kali, misal Surah Al Baqarah ayat 218

اِنَّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَالَّذِيۡنَ هَاجَرُوۡا وَجَاهَدُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِۙ اُولٰٓٮِٕكَ يَرۡجُوۡنَ رَحۡمَتَ اللّٰهِؕ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Indonesia merdeka juga dari semangat jihad, sehingga berani menggerakkan para pemuda di Surabaya untuk melawan Beland. Jadi jihadlah yang telah membuat Islam berkembang di seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia.
Apakah jika tidak ada ajaran Islam tentang jihad, para pahlawan dahulu itu berani memerangi musuh? Justru mereka berani itu karena ada ajaran jihad. Mereka paham jihad itu apa dan apa konsekuensinya atau pahalanya jikalau mereka meniggal dunia karena itu. Bagaimana bisa, sekarang Islam yang dianggap garis keras ini di musuhi? Seharusnya mereka bisa membedakan antara keras dan tegas.

Islam memang mengajarkan untuk berlemah lembut, tapi harus melihat konteksnya dulu. Lemah lembut pada siapa? Lemah lembut pada musuh yang mengusik ketentraman kaum muslim atau lemah lembut pada koruptor, begitu? Tentu tidak. justru pada mereka yang melakukan kedholiman kita harus tegas, mereka yang bertindak kufur atau curang harus dihukum. Karena itu umat butuh pemimpin yang adil, bukan pemimpin yang kerdil.

Jadi lebih tepatnya bukan Islam garis keras atau ekstrim, tapi Islam garis lurus. Dimana merekalah yang dituduh Islam garis keras adalah orang-orang yang acapkali mengoreksi kebijakan-kebijakan pemerintah. Sejatinya mereka tidak pernah merugikan negara.
Tentunya Islam moderat inilah yang sangat berbahaya, dan menjadi ancaman bagi kaum muslim. Sebab lewat Islam moderat ini, bisa memperlemah kaum muslimin. Menjauhkan generasi dari Islam kaffah atau Islam yang lurus.

Jadi ketika seseorang mengatakan bahwa Islam garis keras yang mendakwahkan ajaran Islam seperti khilafah yang tak relevan lagi di Indonesia, berarti secara langsung menuduh bahwa Allah Swt mengeluarkan risalah yang tidak pas untuk manusia di satu tempat, dan di suatu waktu. Artinya, orang tersebut menganggap Allah memiliki kelemahan. Astaghfirullah, jika itu benar bisa membatalkan akidah mereka. Naudzubillah .

About Post Author