25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Antara Utang dan Kutang

Oleh : Yeyet Mulyati ‘the power of emak’
(Ibu Rumah Tangga)

Utang Indonesia bertambah lagi. Bahkan jumlahnya cukup besar dalam waktu yang relatif berdekatan atau tak sampai dua minggu. Utang baru Indonesia bertambah sebesar lebih dari Rp 24,5 triliun. Utang baru tersebut merupakan kategori pinjaman bilateral. Rincian utang luar negeri itu berasal dari Australia sebesar Rp 15,45 triliun dan utang bilateral dari Jerman sebesar Rp 9,1 triliun. Pemerintah mengklaim, penarikan utang baru dari Jerman dan Australia dilakukan untuk mendukung berbagai kegiatan penanggulangan pandemi Covid-19. (kompas.tv, 21/11/2020)

Menilik pada judul diatas, para pembaca mungkin akan bertanya-tanya apa hubungan antara kutang dengan utang? -Dalam hal ini utang negara.

Untuk sebagian orang yang berfikiran negatif alias berotak mesum, ketika membaca judul tulisan di atas yang terbayang adalah perkara-perkara vulgar, jorok, menjijikan, dan penuh dengan maksiat. Tapi tunggu dulu, tulisan emak ini bukan untuk membicarakan hal-hal yang demikian. Namun saat ini, emak hanya menganalogikan antara utang dan kutang.

Analoginya sebagai berikut :
Pertama, dalam dunia malam, seorang wanita tuna susila jika ditanya apakah profesi tersebut adalah cita-citanya, sudah dapat dipastikan jawabannya adalah bukan. Tapi karena tuntutan gaya hidup hedonis yang serba mahal dan mewah, sehingga para wanita tersebut rela menjual isi kutang demi memenuhi gaya hidupnya. Ketika isi kutangnya telah terjual maka harga dirinya pun telah hilang dijual dengan sangat murah.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan kondisi negara kita saat ini yang suka dan gemar sekali menumpuk utang, padahal sejatinya utang yang kita pinjam dari negara-negara kafir adalah jebakan agar negara kita tetap menghamba kepada mereka. Sehingga kita tidak punya harga diri lagi dan sangat mudah untuk dikendalikan.

Kedua, bagi para wanita apalagi -seperti emak-emak ini-, sudah tidak dapat dipisahkan antara emak dengan kutang. Dan biasanya kutang yang kita gunakan selalu mempunyai tali (walaupun ada sebagian yang tidak ada talinya). Dan fungsi tali kutang disana adalah sebagai penyangga buah dada bukan untuk dililitkan, apalagi dililitkan dileher yang akan membuat leher kita tercekik.

Begitu juga utang yang dilakukan oleh rezim saat ini. Bukannya sebagai penyangga perekonomian, akan tetapi utang para rezim justru berfungsi untuk mencekik perekonomian Indonesia, sehingga kapan saja perekonomian Indonesia dapat kehilangan nafasnya.

Ketiga, setiap kutang punya ukuran tertentu (para emak pasti sudah tahu). Dan setiap ukuran kutang harus disesuaikan dengan buah dadanya. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana seandainya ukuran buah dada yang kecil menggunakan ukuran kutang yang besar, begitu juga sebaliknya ukuran buah dada yang besar menggunakan ukuran kutang yang kecil. Pasti yang akan kita rasakan adalah ketidaknyamanan dan akan mengganggu aktifitas kita sehari-hari.

Begitupun juga utang negara kita ini yang sudah diluar kewajaran, sehingga akibatnya perekonomian kita selalu bermasalah. Hampir setiap penyusunan RAPBN Menteri Keuangan harus keliling untuk mencari negara donor pemberi hutang.

Keempat, coba sekali waktu bebaskan diri kita dari kutang dan rasakan kenyamanan yang kita rasakan tanpa kutang (tentunya di tempat dan waktu tertentu). Menurut penelitian sebaiknya kutang dilepaskan sewaktu-waktu, dan kurang baik seandainya dipakai terus tanpa kita pernah melepasnya.

Begitupun utang yang tidak jauh berbeda dengan kutang. Sewaktu-waktu negeri kita ini harus melepaskan diri dari jeratan utang, agar semuanya bisa hidup nyaman tanpa harus memikirkan cicilan utang. Apalagi utang dengan bunga yang sangat tinggi.

Itulah analogi antara kutang dan utang yang dapat emak sampaikan dalam tulisan ini.

Dan berbicara masalah pengelolan ekonomi negara, akan tampak sangat jauh berbeda antara pengelolaan keuangan negara kapitalis dengan pengelolaan keuangan negara Khilafah Islam.

Dalam pandangan negara Khilafah Islam, utang adalah pilihan terakhir yang akan dilakukan oleh negara dalam mengelola dan mengurus umat. Dengan catatan utang yang diambil pun harus tanpa riba.

Sebagai penutup tulisan ini emak akan kutip sebait pantun : “Tali kutang benangnya sutra, dipakai perawan menanam padi. Bikin utang atas nama negara, ngasih bantuan atas nama pribadi”.

Wallahu’alam bishawab.

About Post Author