04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kontestan Pilkada Positif Covid, Pengorbanan Bagi Demokrasi?

Oleh : Hasni Surahman
Member Amk

Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah gambaran bagi rakyat Indonesia yang terus menerus di rundung kemalangan. Selalu jadi korban penguasa yang pro kapitalis. Seperti saat pandemi sekarang rakyat dipaksa harus ikut pilkaa padahal pandemi belum berakhir.

Dari hari ke hari korban terus berjatuhan tanpa ada upaya serius dari pemerintah. Bahkan pada saat pilkada pun terus menelan korban. Dari mulai nakes hingga kepala daerah.

Mantan ketua mahkamah konstitusi (MK) Hamdan Zoelva menyampaikan keprihatinannya terkait banyaknya jumlah calon kepala daerah dan anggota penyelenggara pemilu termasuk ketua KPU RI yang terpapar Covid-19 selama pelaksanaan tahapan pilkada serentak 2020. Betapa besar pengorbanan untuk demokrasi ujarnya (Bisnis.Com, Jakarta).

Pilkada tetap dilaksanakan di tengah pandemi saat ini,sekalipun banyaknya klaster kenaikan angka penularan baru Covid-19. Tentu hal ini patut dipertanyakan, sebenarnya pilkada serentak ini untuk kepentingan siapa? ratusan nyawa yang direnggut Covid-19, di antaranya para caleg, dan pihak penyelenggara pemilu pengorbanan besar ini apakah layak diberikan untuk demokrasi?

Jika benar pemimpin pada sistem demokrasi lebih mementingkan kepentingan dan keselamatan rakyat di atas segalanya. Seharusnya pemerintah, kontestasi pemilu serentak 2020, baiknya ditunda saja tetapi faktanya tidak. Pemilu tetap keukeuh dilangsungkan. Kontestasi pemilu serentak 2020, tetap dilangsungkan karena adanya dinasti politik pada kalangan elit politik negeri ini.

Apakah ada jaminan setelah terpilihanya para kandidat pilkada serentak di tengah Covid-19 saat ini benar-benar pro terhadap masyarakat,? Masyarakat yang rela menyumabangkan suara mereka di tengah suasana wabah covid-19, atau justru rakyat dikhianati untuk kesekian kalinya?, Atau bahkan para pemimpin dari hasil pemilu serentak saat ini merupakan bagian dari perpanjangan para kapitalis. Besar kemungkinan ketika sudah menduduki kursi jabatan malah memeras masyarakat.

Sistem demokrasi itu tetap sama dalam melahirkan para pemimpin, manis ketika janji kampaye, pahit dalam setiap kebijakanya. Maka rakyat harus mampu keluar dari arus sistem demokrasi yang jelas menyengsarakan umat.

Dalam sudut pandang Islam sebagai agama yang mengatur seluruh segi kehidupan manusia, memilih pemimpin bukanlah semata-mata urusan duniawi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan agama. Memilih pemimpin pada hakikatnya adalah bagian dari urusan dunia sekaligus akhirat. 
Memilih pemimpin bagian dari urusan agama yang sangat penting dan memiliki konsekuensi luas. Islam tidak mengenal dikotomi atau sekularisasi yang memisahkan antara  dunia dan akhirat, termasuk dalam memilih pemimpin. Seorang muslim akan menyesal di akhirat nanti apabila salah memilih pemimpin, memilih pemimpin yang mendatangkan mudharat terhadap agama dan kehidupan kaum muslimin. Betapa pentingnya memilih pemimpin ini sampai jumlah ayat tentang kepemimpinan dalam Alquran lebih dari 14 ayat yang tersebar dalam berbagai surat. Yang intinya ada tiga pokok: pertama, wajib memilih pemimpin yang muslim, memiliki akhlaqul karimah, berpengetahuan serta amanah. Kedua, dilarang kaum muslimin memilih pemimpin yang diluar agama islam. Apalagi jika memiliki perilaku yang buruk dan penuh dengan kedzaliman. Ketiga, termasuk katagori munafik, seorang Muslim yang memilih pemimpin diluar agama islam.

Salah satu tokoh Islam dan pemimpin bangsa yaitu Mohammad Natsir (Allahu Yarham) pernah mengingatkan; apabila para pemimpin rakyat pada suatu saat tidak lagi bekerja betul-betul untuk kepentingan rakyatnya, apabila kedudukan atau kursi sudah menjadi tujuan bukan lagi menjadi alat, maka yang akan mengancam negara kita ialah demokrasi tenggelam dalam “koalisi” dan kemudian koalisi dimakan oleh “anarchie” dan anarchie diatasi oleh golongan-golongan yang bersenjata atau golongan yang menguasai golongan-golongan bersenjata itu.

Kalau sudah sampai demikian itu, mau tak mau, kita toh terjerumus kepada diktator, malapetaka yang harus kita hindarkan. Di samping itu seorang pemimpin yang mempunyai sifat Alimun yaitu memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk selalu berusaha sekuat tenaga untuk menyejahterakan rakyatnya, walaupun sumber daya alamnya terbatas. Sebaliknya, pemimpin yang khianat apalagi tidak punya kemampuan dalam memimpin, hanya akan sibuk memperkaya diri sendiri dan keluarga serta kolega-koleganya, dan membiarkan rakyatnya tak berdaya. Rasulullah saw. mengingatkan, “Sifat amanah akan menarik keberkahan, sedangkan sifat khianat akan mendorong kefakiran.” Sifat amanah tidak ditentukan oleh kecerdasan atau kepintaran semata. Tetapi sifat amanah merupakan cerminan ketakwaan kepada Allah Swt.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author