29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Wajah Baru MUI dan Harapan Umat Kepada Mereka

Oleh : Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

Kepengurusan MUI untuk masa khidmat 2020-2025 telah usai. Posisi Ketua Umum ditempati KH Miftahul Akhyar dari PBNU. Beberapa nama baru muncul karena aspek kualifikasi dan keterwakilan ormas. Namun sangat disayangkan, nama-nama lama tidak lagi menjabat di dalamnya. Padahal mereka sangat vokal menyuarakan keadilan dan mengkritik kebijakan penguasa. Semoga MUI dengan wajah barunya, masih bisa bersuara lantang menentang kezaliman yang ada.

Dilansir oleh cnnindonesia.com, pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai, dominasi dan kekuatan Ma’ruf Amin di MUI sangat kentara. Diduga kuat ada campur tangan penguasa di dalam proses kepengurusan MUI, yang merupakan payung besar bagi para ulama tersebut.

“Bisa dikatakan ada semacam campur tangan karena Ma’ruf Amin kan wapres. Tentu pemerintah ingin majelis ulama dalam kendali. Sehingga kekritisannya akan hilang dan bisa dikendalikan.” (cnnindonesia.com, 27/11/2020)

Sejumlah ulama yang identik dengan Aksi 212 terdepak. Begitu juga yang tergabung di Koalisi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), mereka tidak lagi duduk di kursi kepengurusan. Fakta ini menunjukkan, bahwa rezim saat ini berusaha untuk mengebiri peran MUI. Mereka yang bersuara nyaring mengkritik pemerintah terkait kebijakannya disingkirkan.

Dilansir oleh cnnindonesia.com,(28/11/2020), fakta dugaan ada campur tangan pemerintah, seperti apa yang diungkap oleh Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai golkar. Ace Hasan Syadzly mengatakan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu tempat berhimpunnya ormas-ormas Islam yang tujuannya bukan untuk kepentingan politik, tetapi untuk kemaslahatan umat. Ace berharap kepengurusan yang baru bisa mengedepankan Islam yang moderat atau washatiyatul Islam. Islam yang rahmah dan ramah, bukan yang marah.

Sistem sekuler makin kuat dan dominan mewarnai pengambilan kebijakan. Dugaan ini juga didasari oleh keberadaan wakil presiden Ma’ruf Amin yang saat ini terpilih sebagai ketua Dewan Pertimbangan MUI dalam Munas X. Terbukti, sistem demokrasi sampai kapan pun tidak akan berpihak kepada Islam.

Para ulama tidak boleh gentar. Di sinilah peran mereka dibutuhkan. Majelis ulama wajib mencontohkan sikap menentang kezaliman dan senantiasa melakukan muhasabah lil hukkam terhadap kondisi yang ada. Ulama juga wajib mewaspadai arus moderasi yang memanfaatkan posisi mereka untuk menyesatkan umat.

Ulama hari ini harus kembali kepada jati dirinya. Yakni sebagai pewaris Nabi. Ulama wajib istiqamah dan berpegang teguh memegang sunah. Meski konsekuensinya dipersekusi bahkan dikriminalisasi sebagai musuh negara oleh rezim yang berkuasa. Ulama juga harus berperan menjadi mutiara dan simpul umat yang siap menjadi pejuang Islam terpercaya. Di mana loyalitas mereka hanya didedikasikan untuk mencari keridaan Allah Swt. semata. Rasa takutnya hanya tertuju pada kebesaran Allah Swt.

“… Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha perkasa, Maha Pengampun.” (TQS. Fathir [35]: 28)

Ulama adalah satu-satunya harapan umat. Mereka semestinya berada di barisan terdepan untuk menghentikan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan sistem demokrasi. Ketika ulama berlaku lurus dan mengoreksi terhadap penyimpangan yang dilakukan penguasa, hakikatnya mereka telah mencegah sumber kerusakan. Sebaliknya, tatkala mereka berlaku lemah kepada penguasa zalim, saat itulah mereka menjadi pangkal segala kefasadan. Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Hujjatul Islam al-Ghazali rahimahulLah berkata:

“Rusaknya rakyat disebabkan karena rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa disebabkan karena rusaknya ulama. Rusaknya ulama disebabkan karena dikuasai oleh cinta harta dan ketenaran.”

Kaum muslimin harus memahami, bahwa menghentikan kerusakan akibat sistem demokrasi yang kufur tidak bisa diserahkan kepada umat (ormas) saja. Namun, itu akan bisa terealisasi secara sempurna oleh negara. Khilafah Islamiyah, satu-satunya institusi yang bisa menghentikannya. Aturan Islam kafah yang diterapkan secara sempurna, akan mampu menghentikan setiap masalah yang ada.

Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi yang kuat antara ulama dan umat untuk segera memperjuangkan tegaknya khilafah Islamiyah. Agar Islam bisa kembali menjadi sebuah peradaban yang tinggi. Sebuah tatanan kehidupan agung yang memberikan ketenangan, keamanan, dan kemakmuran bagi siapa pun yang hidup di dalamnya. Baik muslim maupun non muslim tanpa terkecuali. Rahmatan lil ‘alamin akan melingkupi dunia.

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (TQS. Al-Ambiya [21]: 107)

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author