06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Wisata Komodo Dijual, Bukti Nyata Rakusnya Rezim Demokrasi Kapitalis


Oleh : Neni Maryani
(Wirausaha)

Saat ini, sebuah proyek besar sedang dikerjakan di Taman Nasional Komodo (TNK). Sebagian wilayah tersebut akan dijadikan destinasi wisata kelas premium, yang disebut-sebut sebagai “Jurassic Park”. Untuk merealisasikan Jurassic Park ini, pemerintah kabarnya menggelontorkan dana senilai Rp 69,96 miliar. Nantinya, Jurassic Park di Taman Nasional Komodo ini akan dilengkapi dengan sejumlah vila, guesthouse, restoran maupun kafetaria, dengan tambahan berbagai fasilitas penunjang lainnya termasuk pusat penelitian hingga penginapan eksekutif.
Pembangunan wisata ini adalah bagian dari pembangunan infrastruktur Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo di Provinsi NTT. Pemerintah berencana menjadikan TNK sebagai massive tourism dan pariwisata kelas dunia (world class tourism) dan menarik investasi.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menegaskan tetap akan mempromosikan proyek wisata Taman Nasional Komodo (TNK), Nusa Tenggara Timur (NTT). “Karena saya pikir komodo ini cuma satu satunya di dunia, jadi kita harus jual,” katanya dalam Rakornas Percepatan Pengembangan 2 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (cnnindonesia, 27/11/20).
Pemerintah mengklaim alasan utama dijualnya wisata komodo ini, karena komodo merupakan hewan yang hanya ada di Indonesia sehingga memiliki nilai jual tinggi. Bahkan pemerintah mengakui jika proyek ini bersifat komersil, dengan dalih tujuannya adalah untuk menjaga keberlangsungan hewan langka tersebut. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, mengklaim bahwa pembangunan ini tidak melanggar kaidah konservasi karena berada dalam zona pemanfaatan wisata (cnnindonesia, 27/11/20).
Pembangunan proyek ‘Jurassic Park’ sempat ramai mendapat penolakan netizen hingga tagar #savekomodo menjadi topik terpopuler di Twitter. Mereka menilai proyek tersebut akan merusak habitat asli komodo. 
Dalam pemerintahan demokrasi, segala macam kekayaan negeri telah laris dieksploitasi. Segala macam kekayaan alam, baik tambang emas, batubara, minyak dan lain-lain telah dikuasai asing. Bahkan, tak sekedar sumber daya alam yang diserahkan ke asing, berbagai sektor publik lainnya mulai dari jalan tol, pelabuhan, bandara diserahkan kepada asing atas nama investasi. Dan kini merambah ke berbagai sektor pariwisata yang diperkirakan memiliki nilai jual tinggi, termasuk wisata komodo yang merupakan satwa langka yang hanya dimiliki Indonesia.
Sungguh, pemerintah dalam sistem demokrasi ini, selalu gigih berupaya meraup keuntungan dari jalan apapun. Sesuatu yang akan menghasilkan pundi-pundi, akan sekuat tenaga disulap agar dapat dikomersialkan. Inilah rezim kapitalistik sejati dalam sistem demokrasi. Tak dapat ditampik lagi, telah nyata kerakusan pemerintah dalam sistem demokrasi-kapitalistik.
Upaya eksploitasi berbagai sektor kekayaan negeri tak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat Indonesia. Keberlimpahan potensi kekayaan alam tak mampu mensejahterakan, sebuah ciri khas sejati sistem demokrasi-kapitalistik. Segala potensi hanya digunakan untuk memenuhi nafsu syahwat para kapitalis oligarki.
Begitu juga dengan upaya eksploitasi satwa langka dalam proyek wisata komodo tentu akan menimbulkan beberapa dampak yang nyata, diantaranya adalah mengganggu habitat makhluk hidup dan mengalihkan pengelolaan SDA sebagai pemasukan terbesar.
Pembangunan, dalam skala sekecil apa pun, di kawasan konservasi tidak ada manfaatnya sama sekali secara ekologis. Pembangunan justru berpotensi mengancam kelestarian alam lingkungan.
Islam Memelihara Satwa Langka dan Memenuhi Pendapatan Negara Tanpa Mengeksploitasinya
Islam sejak jaman Rasulullah SAW sudah memberlakukan kawasan konservasi, yang kemudian diikuti para khalifah sesudah beliau yaitu dengan konsep “Hima”. Hima’ adalah suatu kawasan yang khusus dilindungi oleh pemerintah (Khalifah) atas dasar syariat guna melestarikan hutan serta kehidupan liar. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hima’ kecuali milik Allah dan Rasulnya.” (HR. Al-Bukhari)
Islam selain mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesamanya serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Islam juga mengatur tentang perilaku atau akhlaq manusia terhadap mahluk hidup lainnya, termasuk diantaranya adalah kehidupan liar (satwa liar).
Allah SWT berfirman dalam surat al-An’am ayat 38 yang artinya, “Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”
Ahli hukum Islam (fuqoha) Izzal-din Ibn Abd Al-Salam yang hidup pada abad ke-13 telah menetapkan hak-hak ternak dan binatang lainnya terhadap manusia yang ditulis dalam kitab Qawaid al- Ahkam, sebagai berikut : (1) bahwa manusia harus menyediakan makan bagi mereka; (2) manusia harus tetap menyediakan makanan walaupun binatang itu sudah tua atau sakit sehingga tidak menguntungkan bagi pemiliknya; (3) bahwa manusia tidak boleh membebati binatang melampaui kemampuannya; (4) bahwa manusia tidak boleh menempatkan binatang itu bersama dengan segala sesuatu yang dapat melukainya, entah karena jenis yang sama maupun jenis yang berbeda, yang mungkin dapat mematahkan tulang, menanduk  atau menggigitnya; (5) bahwa munusia harus memotong (menjagal) dengan adab yang baik, tidak menguliti atau mematahkan tulangnya sehingga tubunhnya menjadi dingin dan nyawanya melayang; (6) bahwa manusia tidak boleh membunuh anak-anak di depan induknya, dengan cara memisahkan mereka; (7) bahwa manusia harus memberikan kenyamanan dan tempat minum satwa itu; (8) bahwa manusia harus menempatkan satwa jantan dan betina bersama pada musim kawin; (9) bahwa manusia membuang mereka dan kemudian menjadikannya sebagai binatang buruan; (10) bahwa manusia tidak boleh menembak mereka dengan apa saja yang membuat tulangnya patahatau menghancurkan tubuhnya, atau memperlakukan mereka yang membuat daging hewan tersebut tidak syah untuk dimakan (haram).
Sebuah kisah, ketika Rasulullah SAW sedang berjalan dengan para sahabat dan ada diantara sahabat yang mengambil anak burung dari dalam sarangnya hingga induk burung tersebut kebingungan mencari, maka Nabi segera mencari tahu dan setelah itu memerintahkan sahabat untuk segera mengembalikan anak burung tersebut ke asalnya. Pada kisah yang lain; ada diantara sahabat yang membakar sarang semut, seketika itu Nabi melarang untuk tidak membinasakan semut-semut, terlebih dengan membakar rumahnya.
Ini sangat berbeda jauh dengan rezim kapitalistik yang gemar mengeksploitasi alam demi memperoleh manfaat sebanyak-banyaknya. Kerakusan pemerintah demokrasi, telah menjadikan manusia sebagai pemangsa dari segala pemangsa (top predator) di alam ini. Pangkal dari semuanya itu adalah nafsu serakah dalam diri manusia, yang pada akhirnya menciptakan kerusakan dimuka bumi. Sebagaimana firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut (disebabkan) karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah meresakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.s. Ar Ruum: 44)
Dalam Islam, pendapatan negara telah diatur sesuai dengan syara’, berikut juga dengan pengeluarannya. Bahkan, dalam sejarah peradaban Islam tidak pernah ada resesi dan depresi ekonomi. Sejarah Islam pun tidak ada penjajahan, tak seperti bangsa barat dalam menghisap kekayaan alam negari-negeri muslim. Saatnya umat berpikir bahwa hanya Islam kaffah yang diterapkan dalam sebuah institusi pemerintahan islamlah solusi dari segala permasalahan.
Wallahu a’lam bish showab

About Post Author