30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Hanya dalam Islam Nasihat Ulama Bagi Penguasa Dibutuhkan

Oleh : Rati Suharjo
Pegiat Dakwah dan Member AMK

“Al ulama warastatul Ambiya” ulama warisan para nabi.

Ulama adalah pemuka agama yang  menyampaikan ilmu Islam kepada seluruh umat dengan penuh keikhlasan. Baik dari segi ibadah ritual maupun dalam segala aspek kehidupan. Bahkan sampai membongkar kebijakan-kebijakan  pemerintah yang tidak sesuai dalam ajaran Islam.

Perjuangannya pun tidak mengejar sebuah jabatan kehilangan jabatan, popularitas maupun untuk mencari materi. Namun, tidak selayaknya membeda-bedakan perjuangan.ntuk memberikan perbedaan dalam berjuang. Seperti yang disampaikan  Ace Hasan Syadzily, politikus Golkar bahwasanya MUI tidak boleh membahas masalah politik, tapi hanya memikirkan umat.
(Warta ekonomi, 29/11/2020)

Bahkan, menurut Wakil Presiden Ma’ruf Amin, MUI adalah pemimpin kelembagaan. Seperti Muhammadiyah, Persis, NU, dan FPI. Mereka harus memberikan contoh yang baik, agar tercipta persatuan dan kesatuan.

Beginilah jika negara menerapkan sistem demokrasi sekuler, kritikan dari ulama justru dianggap pemecah belah umat.
Seperti kritikan dari Tengku Zulkarnain dan Bahtiar Nasir tentang penolakan pemimpin kafir. Baik pada kritikan tentang keuangan dan utang negara. Bahkan kritikan Tengku Zulkarnain dalam twitternya  menyampaikan  “Riau dan Kalimantan adalah bagian NKRI. Jangan Sampai jeritan rakyat Riau dan Kalimantan  tidak terdengar karena”tebalnya tembok istana”. Jika pemerintah pusat tidak punya uang untuk menanggulangi kebakaran akui secara jantan, agar rakyat kumpulkan uang sendiri. Kalau tidak mampu, mundur!

Begitulah kritikan pedas yang dilakukan oleh Tengku zukarnain, Bahtiar Nasir dan yang lain kepada pemerintah. Sehingga membuat rakyat sadar bahwa rusaknya negeri ini akibat diterapkannya sistem yang salah, yaitu demokrasi sekularisme.

Maka wajar jika kepengurusan Tengku Zulkarnain dan teman-teman terpinggirkan.  Akibat tidak ada manfaat atau tidak sependapat dengan kebijakan pemerintah. Semua ini tidak lain dari sistem yang diterapkan. Dalam demokrasi hanya ada manfaat menjadi sahabat. Jika para ulama tersebut sejalan dengan pemerintah maka dibutuhkan. Namun, bila tidak sejalan dengen cara pandang mereka, akan ditendang.

Jika ulama-ulama faqih fiddin terbungkam suaranya, bagaimana mungkin negeri ini mendatangkan kebaikan, yang terjadi justru kemungkaran demi kemaksiatan. Padahal sudah tampak jelas negeri ini dari segala aspek kehidupan semakin bobrok. Pengangguran, kemiskinan, kebodohan, pendidikan, keadilan dan yang lain cukup memprihatinkan.

Apabila pemerintah menutup nasihat dari seorang ulama. Dari siapa lagi nasihat-nasihat akan didapatkan. Pasalnya banyak ulama saat ini yang menyetujui berbagai kebijakan yang penguasa putuskan. Ironisnya justru saat ini banyak ulama yang mendakwahkan kepada rakyat, agar rakyat ikut menyetujui kebijakan pemerintah.

kondisi tersebut akan terus berlanjut selama sistem sekuler tidak berganti. Sebab, bukan rida ilahi yang mereka cari, akan tetapi tujuannya adalah materi.
Oleh karena itu, terpinggirnya nasihat ulama untuk pemerintah adalah suatu bentuk pengokohan moderasi.

Moderasi tersebut akan semakin membingungkan umat Islam. Pemahaman-pemahaman Islam akan kabur, hingga umat Isam tidak akan mengerti  makna dari Islam kafah.

Oleh sebab itu, hanya dalam Islam nasihat-nasihat seorang ulama diperlukan. Pasca  Rasulullah saw wafat. Abu bakar ra, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, selalu menunggu nasihat-nasihat para ulama.

Sebab, mereka dalam menjalankan pemerintahannya hanya takut kepada Allah Swt. Dan rasulullah saw, tapi mereka tidak menolak sedikit pun nasihat dari seorang ulama.

Abu Bakar selaku pemimpin pertama negara Islam pasca wafatnya Rasulullah saw, menerima amanah khalifah dengan berat dan penuh ketakutan pada Allah Swt. Dalam pidato pertamanya pasca menerima bai’at, Abu Bakar berpidato dengan masyhur.

“Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semua. Untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah putuskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan.
Orang lemah di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. Orang kuat di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerima.”

Penggalan pidato Abu Bakar ra tersebut telah menggambarkan bahwasanya sebelum dia menasihati rakyatnya, dia meminta nasihat kepada rakyat. Padahal Abu Bakar ra adalah sahabat Rasulullah saw, yang sudah dipercaya kejujurannya di masyarakat.

Selain itu ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari Umat bin Khathab. Orang yang paling tegas dan sifat yang keras pun mau menerima nasihat dari rakyatnya. Saat seorang perempuan yang disampaikan, menyampaikan di depan umum ketika beliau menetapkan batasan mahar bagi kaum wanita. Beliau berkata, “Wanita ini benar dan Umar salah.” Hal ini dilakukan setelah mendengarkan argumentasi kuat si muslimah tadi yang membacakan surat An-Nisa’ ayat 20 untuk mengkritik kebijakan Umar

Beginilah sikap penguasa dalam sistem Islam. Mereka menawarkan untuk dikritik, bahkan ketika dikritik oleh rakyatnya pun mereka menerima dengan lapang dada.

Oleh karena itu, sudah selayaknya menjadikan Islam sebagai sebuah institusi negara. Sebab, para pemimpin siap menerima nasihat yang sesuai hukum syara. Di mana segala peraturannya berdasarkan Al-Qur’an as-sunah ijma dan qiyas.

Wallahu a’lam bishshawaab

About Post Author