26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Jawa Barat Zona Merah


Oleh : Wida Eliana
Komunitas Penulis Bela Islam Amk

Seperti mengurai benang kusut, begitulah ketika kita berbicara mengenai penanganan Covid-19 di negeri ini. Sudah sembilan bulan pandemi menyertai, selain berdampak pada ekonomi di lansir dari Tempo.Co Bandung Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengatakan, “Zona merah di Jawa Barat bertambah dari 3 daerah menjadi 7 daerah. Pasca libur panjang penambahannya cukup signifikan, jadi mohon diwaspadai buat wilayah-wilayah yang terkena zona merah”, dalam konferensi pers di Makodam lll/Siliwangi, Bandung, Selasa 17 November 2020.

Apalagi dari 7 daerah tersebut 3 daerah di antaranya telah melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak, yakni Karawang, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Tasikmalaya. Salah satu upaya yang dilakukan Pemprov Jabar dalam menekan penyebaran virus Corona adalah dengan memberlakukan kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau istilah lainnya New normal. Kebijakan ini berarti memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah namun meski harus dengan menerapkan protokol kesehatan. Yang dikenal sebagai 3M, yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak atau tidak berkerumun.

Pada realitanya kebijakan tersebut kurang efektif dalam menekan sebaran virus. Di Jawa Barat sendiri, angka pertambahan kasus baru terkonfirmasi virus Corona bertambah 801 kasus. Ini berarti kasus positif bertambah pascalibur panjang 28 Oktober-1 November 2020 angka kematian bertambah sebanyak 41 persen. Jumlah kenaikan tersebut menjadikan Jabar sebagai provinsi dengan kenaikan kasus Covid-19 tertinggi kedua secara nasional selepas libur panjang (ayopurwakarta. Com, 13/11/20).

Bukan hanya kasus positif yang bertambah angka kematian dalam satu bulan terakhir akibat Covid-19 pun mengalami kenaikan. Dari sebelumnya yakni pada bulan Oktober 2020 tercatat ada 64 orang yang meninggal, namun sebulan kemudian naik signifikan yakni pada 10 November 2020 menjadi 95 orang. Dari angka tersebut sedikitnya dalam sebulan ada 31 orang yang meninggal dunia (deskjabar. Pikiran-rakyat.Com, 12/11/20).

Saat kondisi menghawatirkan, kebijakan kapitalisme sudah mendarah daging di negeri ini. Buktinya dalam menangani wabah pun selalu menggunakan metode yang mementingkan aspek ekonomi. Nyawa manusia sepertinya tidak berharga lagi, kapitalisme sekuler hanya menambah penderitaan rakyat. Seharusnya umat mulai menyadari bahwa lambannya penanganan virus Corona bukan semata-mata problem teknis, namun problem sistemik. Maka penyelesaiannya pun harus sistemik pula.

Nabi saw bersabda :
“sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah dari pada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR an-Nasai, at-Tirmidzi. Sistem sekuler-kapitaliame yang tidak mengutamakan nyawa manusia sudah saatnya diganti dengan sistem Islam yang berasal dari pencipta manusia, alam, semesta dan kehidupan.

Andai kata kehidupan ini diatur dengan Islam, tentu pandemi bisa ditangani dengan cepat, sigap dan efektif. Pandemi Covid-19 menyadarkan kita semua. Dunia membutuhkan imunitas Islam sebagai sistem yang mampu bertahan dan memberikan kesejahteraan yang hakiki.

Wallahu a’lam bii ash shawab.

About Post Author