06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kasih Sayang Ibu Terbelenggu!

Oleh: Widhy Lutfiah Marha
Pendidik Generasi

Peristiwa yang memiriskan hati kembali terjadi di negeri ini. Seorang ibu berinisial MT tega membunuh ketiga anak kandungnya di Nias Utara, karena ibu stres akibat himpitan ekonomi yang melanda keluarganya. Kejadian tersebut dilakukannya pada saat sang ayah pergi mencoblos ke TPS pada 9 Desember 2020 yang lalu. Usai membunuh, wanita berusia 30 tahun itu sempat beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, namun berhasil digagalkan. Setelah kejadian itu MT tidak mau makan, setiap diberi makanan ia muntah-muntah. Selanjutnya dia dirujuk ke rumah sakit Gunung Sitoli Sumatera Utara. Tersangka sempat di rawat beberapa hari di sana sebelum menghembuskan nafas terakhir pada Minggu 13 Desember 2020, sekitar pukul 06.10 WIB.

Mirisnya, motif pembunuhan tersebut karena ibu stres akibat himpitan ekonomi yang melanda keluarganya. Di tempat berbeda seorang ibu di Jakarta Pusat, tega menganiaya anak perempuannya hingga tewas, karena si anak tidak mengerti saat belajar melalui daring. Kasat Reskrim Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma mengatakan, ibu korban melakukan penganiayaan karena putrinya sulit memahami pelajaran, saat belajar daring. Pelaku IS, yang juga ibu korban, mengaku menganiaya korban pada 26 Agustus lalu, hingga tewas.

Fakta pembunuhan ibu kepada ketiga anaknya karena kemiskinan, hingga stres menghadapi beban pembelajaran jarak jauh, semakin menambah fakta kerusakan hidup yang diakibatkan penerapan sistem rusak di negeri ini.

Karena, meskipun setiap kasus yang menimpa ibu dan anak tidak selamanya dilatarbelakangi motif yang sama, akan tetapi selalu ada benang merah yang dapat kita garis bawahi. Semua kasus tersebut memiliki sebab utama bahwa seorang ibu sedang tertekan atau bahkan depresi dalam menghadapi permasalahan hidupnya.

Permasalahan hidup dapat berupa kurangnya ekonomi, urusan percintaan terlarang, kurang harmonisnya keluarga, dan lain-lain. Namun, yang paling marak dialami oleh seorang ibu adalah permasalahan ekonomi.

Sebenarnya, bukan hanya para ibu yang merasakan beratnya beban ekonomi saat ini. Hampir semua penduduk baik remaja, orang tua bahkan lansia harus berusaha keras berjuang demi sesuap nasi. Sebab, hampir semua kebutuhan hidup harus ditanggung secara mandiri oleh setiap keluarga. Bahkan adanya jaminan kesehatan, pendidikan dan kebutuhan pokok bagi warga tak mampu juga tak lantas membuat mereka lepas dari beban ekonomi.

Kembali kepada permasalahan keluarga, maraknya kasus yang menimpa wanita, ibu dan anak sebenarnya adalah hal yang wajar dalam sistem sekuler saat ini. Hal ini dapat dijumpai pula dalam semua negara yang mengemban sistem sekuler. Sebab, dalam sistem ini, norma atau aturan agama tidak boleh ikut andil dalam mengatur tatanan kehidupan.

Sehingga masyarakat mengalami kerusakan moral yang mengakibatkan maraknya perzinaan, pembunuhan, penganiayaan, dan lain-lain. Terlebih lagi beban ekonomi yang semakin melilit membuat semua elemen masyarakat berlomba-lomba dalam mengais rejeki termasuk kaum ibu.

Banyak ibu yang harus terjun langsung dalam mencari nafkah sehingga menghilangkan fitrahnya dalam membesarkan dan mendidik anak. Hal ini menyebabkan permasalahan baru yang tak kalah rumit seperti kenakalan remaja dan ketidakharmonisan keluarga. Terlebih lagi, akibat yang ditimbulkan dalam sistem sekuler adalah tercabutnya rasa tanggung jawab kepala keluarga. Seorang suami dan ayah yang menjadi penanggungjawab keluarga banyak yang kehilangan fungsinya lantaran disebabkan permasalahan ekonomi.

Namun, dibalik semua permasalahan di atas, masih ada harapan yang dapat kita raih. Semua harapan itu akan mudah diraih jika kita menanggalkan sistem sekuler yang menjadi penyebab utama. Sebab, disadari atau tidak, kelemahan yang dimiliki manusia menyebabkan ia harus mengambil peraturan hidup dari Sang Maha Pencipta.

Terlebih lagi bagi seorang muslim, terikat kepada semua hukum syara’ adalah sebuah keharusan. Islam sebagai sebuah ideologi memiliki seperangkat aturan hidup yang mampu menyelesaikan semua permasalahan hidup. Sebab Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia sehingga solusi yang ditawarkan mampu memuaskan akal dan menentramkan hati.

Islam memandang bahwa negara wajib memenuhi kebutuhan dasar warga negara dalam sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Negara sebagai penyelenggara dan pelaksana hukum Islam wajib memfasilitasi warga negara terutama kaum pria dalam mencari nafkah.

Negara juga wajib menjaga kaum ibu agar tidak melepas fitrahnya dalam mengurus keluarga dan membesarkan serta mendidik anak-anaknya. Sehingga, kasus yang menimpa ibu dan anak dapat diminimalisir bahkan dihilangkan. Semua itu akan terjadi jika semua aturan hidup dalam Islam diterapkan secara komperehensif dan total baik dalam ekonomi, pendidikan, sanksi dan hukum lainnya. Sungguh rindu kehadiran sistem Islam segera tegak di muka bumi ini. Di mana tidak akan ada lagi rasa kekhawatiran dari seorang ibu yang kebutuhan sandang, papan, pangannya tidak bisa terpenuhi, karena negara telah menjaminnya.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author