26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Islam Tempat Kembali Saat Kapitalisme Gagal Memberi Solusi

Oleh : Irma Faryanti
Member Akademi Menulis Kreatif

Pandemi kembali menyisakan rasa pilu di hati. Betapa tidak, berbagai peristiwa dan kasus tak biasa banyak bermunculan selama wabah ini terjadi. Baru-baru ini, media dihebohkan oleh kasus yang membuat kita semua mengusap dada dan sulit untuk percaya. Kasus menghilangnya nyawa buah hati tercinta yang ironisnya dilakukan oleh sosok yang seharusnya menjadi sumber kasih sayang tak bertepi, yaitu ibunya sendiri.

Tewasnya 3 orang anak di tangan sang bunda terjadi di daerah Nias utara, Sumatera Utara. Sang ibu seolah gelap mata hingga tega menghilangkan nyawa buah hatinya tercinta. Setelah ditelusuri, ternyata motivasi sang ibu tidak lain adalah karena himpitan ekonomi. Kesempitan hidup yang dirasakan selama pandemi, membuat mata hatinya tertutup dari rasa iba terhadap anaknya. Mirisnya, kejadian ini berlangsung ketika sang suami tengah berada di TPS untuk melakukan pencoblosan kepala daerah yang baru. Mengharap sosok yang dipilihnya akan memberi perubahan dengan pengayoman yang lebih baik, namun nyatanya yang terjadi tidak sejalan dengan apa yang diharapkan. Ketiga anaknya harus tewas di tangan sang istri karena stress dengan tekanan biaya kehidupan yang menghimpit.

Walaupun pada akhirnya, dari kabar terakhir yang beredar, pelaku pembunuhan terhadap anak-anaknya tersebut ditemukan tewas dengan cara menyayat dirinya sendiri, setelah sebelumnya beberapa kali percobaan bunuh diri berhasil digagalkan oleh sang suami. (Viva.co.id 13 Desember 2020)

Lain halnya dengan kasus yang terjadi di daerah Lebak Banten. Kali ini motivasi pelaku menghilangkan nyawa putrinya hanya karena anak tersebut sulit belajar online via daring. Sang ibu tega melakukan penganiayaan yang berujung pada meninggalnya sang putri tercinta. Ironisnya, sang ayah yang mengetahui kejadian tersebut bahkan ikut mengubur putri mereka untuk menghilangkan jejak.

Fakta yang terjadi sungguh membuat hati pilu, di tengah musibah pandemi yang tengah dihadapi berbagai permasalahan bermunculan silih berganti. Kesalahan penanganan dari para pengayom negeri terhadap wabah, telah menyeret bangsa ini pada keterpurukan yang berlarut-larut. Karena umumnya masalah yang timbul adalah imbas dari pandemi yang berkepanjangan, kehidupan masyarakat menjadi tidak karuan dengan kesempitan hidup yang menyengsarakan.

Perekonomian negara pun semakin tidak menentu, tidak sedikit masyarakat yang terpaksa harus terkena pemutusan kerja dan kehilangan mata pencaharian akibat perusahaan tempatnya bekerja harus gulung tikar akibat menurunnya omset usaha di tengah pandemi. Naiknya angka pengangguran pun tak terelakan, sementara biaya hidup semakin tinggi dan harus tetap terpenuhi. Hal inilah yang memicu sebagian masyarakat untuk berpikiran pendek dan memutuskan untuk mengakhiri penderitaan dengan bunuh diri.

Perbuatan nekad ini adalah wujud sikap menyerah mereka pada keadaan. Kedudukannya sebagai rakyat yang seharusnya mendapat pengayoman dari penguasa, nyatanya harus berakhir dengan menelan kekecewaan karena dipaksa untuk memenuhi sendiri segala kebutuhan hidup mereka.

Menjadi warga dari sebuah negara penganut kapitalis demokrasi, hal tersebut seolah menjadi resiko yang harus dihadapi. Karena sistem ini meniscayakan kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Dimana hukum rimba berlaku di sana, siapa yang kuat dia lah yang berkuasa. Kapitalis adalah sebuah sistem yang menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan, apapun dilakukan demi meraih materi tanpa melihat apakah usaha yang dilakukan itu boleh ataukah tidak dalam batasan agama, karena bagi kapitalis tolok ukur segala sesuatu adalah asas manfaat.

Hubungan penguasa dan rakyat pun tak ubahnya bagai penjual dan pembeli, jauh dari kata mengayomi. Itulah sebabnya dalam himpitan hidup di tengah pandemi ini masyarakat dibiarkan mencukupi kebutuhannya sendiri. Penguasa seolah menutup mata akan penderitaan rakyatnya, mereka menjadi miskin empati dan sengsara akan rasa.

Lain kapitalis, lain pula dengan Islam. Sebagai agama yang memiliki aturan lengkap bagi seluruh permasalahan manusia, Islam telah menetapkan bahwa jaminan kesejahteraan bagi rakyat berupa kesehatan, pendidikan, dan keamanan adalah hak yang harus didapatkan oleh masyarakat secara cuma-cuma. Dan negara menjadi pihak yang dibebani kewajiban untuk menjamin kebutuhan rakyat secara kolektif tanpa membedakan antara si kaya dan si miskin, perbedaan warna kulit, ras juga agama.

Negara akan menyediakan berbagai sarana yang akan menunjang terpenuhinya kebutuhan warganya. Alokasi dana pun disediakan secara khusus dengan sumber yang jelas. Tidak ada kekhawatiran terjadinya kecurangan pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan pribadi seperti yang terjadi dalam sistem kapitalis.

Dalam Islam juga telah ditetapkan adanya ketentuan terpenuhinya kebutuhan pokok. Jaminan pemenuhan tersebut ditempuh melalui mekanisme tidak langsung yang mencakup tiga strategi kebijakan, yaitu: pertama, dengan mewajibkan setiap laki-laki yang telah baligh, berakal dan memiliki kemampuan untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Dan negara berkewajiban menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka.

Kedua, pemenuhan kebutuhan tersebut akan beralih kepada ahli waris dan kerabat dekat manakala individu tidak mampu melaksanakannya. Ketiga, jika individu dan ahli waris serta kerabat masih belum memenuhinya, maka beban akan berpindah pada negara dengan dana yang diperoleh dari kas Baitul Maal dan harta zakat.

Demikianlah, betapa peran negara dalam Islam begitu besar dan utama. Pengayoman seorang penguasa sangat menentukan kesejahteraan yang akan dirasakan oleh rakyatnya. Pemimpin Islam akan menjalankan kewajibannya semaksimal mungkin karena menyadari betul bahwa amanah yang ia emban kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah saw. bersabda:
“…Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban terkait rakyat yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari Muslim)

Sosok kepemimpinan seperti itulah yang saat ini dibutuhkan umat. Seseorang yang taat dan patuh kepada Rabbnya, menjalankan amanah yang dibebankan kepadanya dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Ia akan menjalankan seluruh perintah Allah, dan menerapkan syariatNya di setiap aspek kehidupan. Kehadirannya saat ini adalah suatu hal mendesak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Semoga segera hadir sosok pemimpin dambaan yang akan mengembalikan kemuliaan Islam dan mengangkat umat dari keterpurukan.

Wallahu a’lam Bi ash shawwab

About Post Author