26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Papua Merdeka, Solusikah?

Oleh : Rati Suharjo
Pegiat Dakwah dan Member AMK

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Makna dari peribahasa di atas adalah dengan adanya persatuan akan terbentuk kekuatan. Namun, sebaliknya perpecahan hanya akan membawa kehancuran. Hal inilah yang terjadi di negeri tercinta ini. Dimana negeri yang terdiri dari bermacam-macam pulau, kini terancam desintegrasi. Seperti yang dilakukan Timor Leste.

Hal inilah yang akan diikuti wilayah Makassar, Sumatera Barat, Kalimantan, Riau, Minahasa, Yogyakarta, Bali, Aceh, Maluku, dan Papua. Tentunya, hal ini sangat mengkhawatirkan negara Indonesia. Apalagi saat ini telah terjadi pendeklarasian yang disampaikan Benny Wenda, bahwa Papua Barat telah Merdeka. (Tribunnews.com 4/12/2020)

Keinginan untuk memisahkan diri dari Indonesia, memang sudah sejak lama dilakukan. Hal ini terbukti bahwa Papua telah membentuk Gerakan Papua Merdeka dan berkali-kali aksi. Bahkan aksi ke Jakarta telah mereka lakukan. Rupanya pihak pemerintah pun tidak tinggal diam, kecaman dari Ketua MPR, Bambang Soesatyo dan pernyataan Mahfud MD yang menganggap bahwa kemerdekaan Papua hanyalah ilusi.

Mengapa demikian? Karena sebuah negara harus ada rakyat yang dikuasai, ada wilayah, dan ada pemimpin yang mau jadi presiden. Sedangkan yang dilakukan Benny Wenda tidak memenuhi persyaratan tersebut.

Benny Wenda sendiri seorang narapidana yang telah dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh pemerintah Indonesia. Namun Benny melarikan diri, sehingga tercabut kewarganegaraan dari Indonesa dan kini menjadi tamu di Inggris.(Tribunnews.com, 4/2/2020)

Sayangnya, walaupun pemerintah sendiri menolak dengan kemerdekaan tersebut. Bahkan menurut Mahfud MD tindakan tersebut tergolong makar dan pihak kepolisian pun mengancam, jika ada yang mendukung tindakan Benny, maka akan diberi sanksi. (merdeka.com, 20/6/2012)

Papua adalah daerah atau wilayah yang tidak sama dengan yang lain. Bahkan Papua adalah wilayah terkaya di dunia. Hamparan tambang emasnya membuat Freeport betah kerjasama dengan Indonesia hingga tahun 2041. Ditambah lagi wilayah tersebut sumber daya manusianya sedikit, sehingga pemerintah menganjurkan wilayah yang lain untuk migran ke Papua, agar jumlah penduduk rata dari setiap wilayah.

Hal inilah yang membuat rasa sakit hati, bagi rakyat Papua. Pasalnya rakyat Papua Barat kehidupannya tertinggal dengan penduduk imigran. Baik dari segi ekonomi maupun dari segi pendidikan. Dari segi ekonomi sendiri jumlah kemiskinan semakin bertambah hingga membuat jumlah pengangguran semakin bertambah. Hal ini yang dialami rakyat Papua Barat. Masalahnya pengangguran kebanyakan yang berlatar belakang lulusan SMA dan yang lebih mengerikan lagi ancaman pengangguran saat ini mengancam sarjana.

Jika dilihat dari ancaman tersebut, maka bukan hanya rakyat Papua saja yang mengalami. Daerah-daerah yang lain pun sama. Yaitu jumlah pengangguran, kemiskinan, pendidikan dan kesenjangan ekonomi telah terlihat jelas di depan mata. Sementara pemerintah justru membuka kran untuk korporasi mengelola sumberdaya alam Indonesia.

Belajar dari permasalahan Papua Barat, negeri ini butuh perubahan. Hingga daerah-daerah yang lain tidak mengikuti desintegrasi. Namun perubahan seperti apa yang dimaksud agar negara Indonesia kuat? Tidak lain adalah dengan perubahan sistem. Sebab sistem yang diterapkan saat ini mayoritas kebijakan adalah memihak pada korporasi bukan memihak pada rakyat. Hampir di segala segi rakyat mengalami masalah. Sistem sekuler inilah penyebab rakyat tergiring ke jurang penderitaan dan yang lain. Selain itu sistem sekuler menyebabkan negara lain campur tangan dengan urusan Indonesia yaitu menghasut agar Papua lepas dari Indonesia. Hal ini terbukti Benny Wenda bukanlah rakyat Indonesia dan ada 111 negara yang mendukung Papua lepas dari Indonesia. (merdeka.com, 20/6/2012)

Dengan adanya fakta tersebut, solusikah jika Papua merdeka? Tentu saja tidak. Hal ini justru menambah permasalahan baru. Yaitu semakin mudah negara-negara asing mencengkeram wilayah Papua, tersebab sistemnya tidak berubah.

Oleh sebab itu, sudah saatnya ada perubahan sistem. Dimana segala kebijakan sistem tersebut hanya memihak rakyat. Menghilangkan segala bentuk penderitaan, ketidakadilan hingga menggratiskan pendidikan, kesehatan dan yang lain. Bahkan sistem tersebut akan mengusir Freeport dan para kapitalis yang telah lama menguasai negeri gemah ripah loh jinawi ini. Sistem tersebut tidak lain adalah Islam.

Dalam sistem Islam, segala sumber daya alam tidak boleh dikuasai kapitalis. Baik kapitalis asing, aseng, maupun domestik. Sebagaimana hadis Rasulullah saw. yang berbunyi, “Al- muslimuna syuraka un fi tsalatshin fi al-kalai wa al-mai wa an-nari.”
Artinya: “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Air seperti sungai, danau, dan laut. Api adalah segala macam bentuk tambang. Seperti batu bara, dan emas, minyak dan tambang yang lain. Sedangkan rumput adalah hutan. Semua itu haram dikuasai individu-individu. Semua itu dikembalikan oleh rakyat. Melalui pengelolaan yang dikelola oleh negara. Sedangkan hasil dari pengolahan tersebut dikembalikan untuk melayani rakyat.

Sistem inilah yang akan membendung para kapitalis asing dan domestik menguasai negeri ini. Maka jika semua itu terjadi, tidak akan ada wilayah-wilayah melepaskan diri. Dalam Islam haram wilayah memisahkan diri. Sebab Islam hanya mewajibkan persatuan hingga terbentuk dua negara. Yaitu negara kafir dan negara Islam.

Itulah khilafah. Khilafah, ketika menjalankan politik luar negeri bukan tujuannya untuk menguasai sumber daya demi kekayaan negara tersebut. Namun, khilafah dalam menjalankan politik luar negeri bertujuan mendakwahkan Islam. Supaya negara-negara tersebut mau menerapkan Islam. Jika negara tersebut tidak mau menerapkan Islam, maka khilafah siap memerangi negara tersebut. Sampai negara tersebut takluk masuk Islam atau berujung dengan perang.

Hal inilah yang dilakukan selama 1300 tahun. Yaitu dari masa Rasulullah saw. menaklukkan Mekkah hingga sistem khilafah diganti sistem demokrasi oleh Mustafa Kemal laknatullah Maret 1924.

Sejarah gemilang 1300 tahun tersebut, menghasilkan ulama-ulama yang handal. Penemuan-penemuan ilmu, baik dari kedokteran, geografi, matematika dan yang lain. Tidak lain karena sistem Islam itu diterapkan.

Penolakan-penolakan infak dan sedekah yang dilakukan oleh rakyat, di masa Khalifah Abdul Aziz pun terjadi. Hal ini membuktikan bahwa sistem Islam telah menghantarkan rakyat hidup sejahtera. Maka dari itu, hanya sistem Islamlah yang menjadi solusi Indonesia dan dunia.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author