06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Ibu Bunuh Anak, Salah siapa?

Oleh: Sri Mulyati
Mahasiswi dan Member Amk

Bunda, engkaulah muara kasih dan sayang
Apa pun pasti kau lakukan demi anakmu yang tersayang
Bunda, tak pernah kau berharap budi balasan
Atas apa yang kau lakukan
Untuk diriku yang kau sayang

Lirik lagu dibatas merupakan penggalan dari lagu muara kasih Bunda yang disenandungkan oleh Eri Susan. Lirik tersebut begitu dalam dan penuh makna. Lagu tersebut menggambarkan perjuangan dan kasih sayang ibu yang tanpa batas. Kasih sayang selalu diberikan dari seorang ibu untuk anaknya hingga akhir hayat.

Bahkan pada bulan Desember, tepatnya tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai “Hari Ibu.”

Momen ini menjadi saat yang tepat untuk mengungkapkan kasih sayang dari Sang Anak kepada ibu. Biasanya mayoritas masyarakat merayakan hari tersebut kian beragam.
Mulai pengadaan acara hingga hadiah terbaik yang mereka berikan. Walaupun, sesungguhnya hari ibu tidak semestinya di khususkan pada momen tertentu yakni di Hari Ibu.

Namun, kisah kebahagiaan di Hari Ibu. Kini, tidak terjadi bagi mereka para korban pembunuhan yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri.

Kejadiannya begitu tragis terjadi di Nias, NTT. Pembunuhan berlangsung ketika ayah korban sedang mencoblos dalam Pilkada serentak yang dilaksanakan pada 09 Desember lalu berangkat ke TPS terdekat. Motif ini diduga stres karena himpitan ekonomi berupa sulitnya memenuhi kebutuhan pangan hingga kelaparan. (Viva.co.id, 13/12/2020)

Sungguh, kejadian ini membuat bulu kuduk berdiri saat membaca berita di atas. Seorang ibu yang kehilangan naluri kasih sayangnya. Seorang ibu yang lepas iman, membuat ibu tersebut melakukan tindakan kriminal berupa pembunuhan ketiga anak kandungnya.
Sulitnya pemenuhan kebutuhan hingga berdampak pada kelaparan membuat seorang ibu putus asa menghadapi hal ini.

Jika kita telisik kelaparan di Indonesia terjadi bukan tanpa sebab. Penyebab utama sekaligus akar permasahannya adalah penerapan sistem yang salah yakni sistem kapitalisme. Pemimpin dalam sistem kapitalisme di negeri ini lebih mementingkan investor dibanding rakyatnya yang menderita kelaparan.
Jelas, disini nampak negara tidak mampu menyejahterakan rakyatnya.

Abainya peran negara inilah yang menjadi penyebab seorang ibu mengambil jalan pintas atas permasalahan yang dihadapinya.
Padahal, di saat yang sama ayah korban telah menaruh harapan kepada pemimpin yang kelak akan memimpin negeri ini dalam Pilkada. Namun, harapan ini tidak akan pernah terwujud di dalam keluarganya. Harapan yang telah pupus di tengah jalan.

Selain kasus yang telah di jelaskan di atas, kejadian serupa terjadi di Jakarta Pusat. Ibu kandung korban menganiaya anaknya hingga tewas dengan alasan anak sulit memahami pelajaran saat belajar Daring.
(KompasTV.com, 15/09/2020)

Dua kasus serupa dengan motif berbeda. Mengindikasikan adanya sesuatu yang tidak beres dalam negeri ini. Kasus pertama, adanya ketidakberdayaan negara dalam menangani masalah ekonomi. Sehingga, kelaparan masih saja terus terjadi di negeri ini. Terlebih pada masa pandemi.

Kasus kedua, potret pendidikan yang kian tak tentu arah. Sebetulnya tidak hanya pada masa pandemi, pendidikan kita memang tidak baik-baik saja. Kegagapan pemerintah dalam menghadapi pandemi terkhusus dalam bidang pendidikan yang mengalami perubahan dalam pembelajaran telah membuat para ibu stres dalam menghadapi anaknya. Semua bermula ketika mereka tidak siap untuk menjadi madrasatul ula. Pola pendidikan yang diajarkan sistem sekularisme, tidak mampu membentuk mentalitas dan keimanan yang kokoh dalam menghadapi anak-anak mereka.

Padahal tugas utama seorang ibu adalah mendidik para putra-putrinya dengan penuh kesabaran. Demi keberlangsungan generasi di masa yang akan datang. Sungguh, dua kasus pembunuhan ini, menambah deretan kebobrokan sistem demokrasi. Semakin lama sistem ini diterapkan maka, semakin banyak kehancuran yang terjadi.

Berbeda halnya jika sistem Islam benar-benar diterapkan secara nyata dalam kehidupan keluarga, masyarakat maupun negara. Sistem Islam akan tanggap dalam menangani kasus ekonomi khususnya dalam pengelolaan pangan. Negara akan memaksimalkan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dengan baik tanpa adanya intervensi asing.

Masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan akan diberikan lahan oleh negara dan dikelolanya demi keberlangsungan hidup. Hal ini dapat meminimalisir kelaparan. Bahkan, pada masa Umar bin Khattab. Khalifah senantiasa berkeliling setiap malam untuk memastikan rakyatnya dalam keadaan kenyang. Ketika terjadi kelaparan, pada saat itu seorang ibu merebus batu untuk menenangkan anaknya yang kelaparan. Kemudian, Sang Khalifah menyaksikan hal itu. Maka, tidak berpikir lama Amirul mukminin langsung membawakan bahan pangan (gandum) untuk dimasak.

Kedua, dalam masalah pendidikan. Ketika adanya bencana alam maupun nonalam seperti pandemi. Negara akan tetap memaksimalkan usaha dalam memberikan pelayan pendidikan yang terbaik. Dalam pelayanannya, lembaga pendidikan, seperti guru dan dosen akan menjalankan tugas dengan penuh ketulusan dan dedikasi yang tinggi Hal ini karena negara memberikan penghargaan yang luar biasa bagi pendidik.

Sementara itu, tujuan dan sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam akan menghasilkan Sumber Daya Manusia yang unggul, salih dan senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. Melalui, sistem inilah seorang ibu dengan penuh ketulusan akan mengajarkan putra putrinya dengan penuh cinta. Akan meminimalisir kasus pembunuhan disebabkan stres. Komunikasi yang baik akan terjalin antara sekolah dan orangtua dalam menyamakan persepsi mereka tentang tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Selain itu, para orangtua tidak dibebankan biaya pendidikan yang mahal. Pendidikan akan mudah diakses oleh semua orang tanpa melihat kasta dan didapatkan secara gratis.

Dengan demikian, semua itu akan didapatkan tatkala negara ini mampu menerapkan Islam kafah di seluruh lini kehidupan. Tanpa penerapan Islam kafah, maka akan sulit mendapatkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author