30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Islam Menjaga Fitrah Ibu


Oleh: Safiatuz Zuhriyah, S. Kom
Aktivis Dakwah Muslimah

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari dunia

Lirik lagu di atas sangat tepat menggambarkan tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Bagaikan Sang Surya yang selalu menyinari bumi, ibu juga akan selalu memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Otomatis. Tanpa diminta. Karena Allah telah menganugerahkan rasa sayang itu melengkapi fitrahnya sebagai ibu. Jangankan menyakiti, bahkan bila diminta berkorban nyawa pun ibu rela demi kebahagiaan buah hatinya.

Namun sayang, akhir-akhir ini kita sering menjumpai fakta sebaliknya. Fitrah tersebut nampaknya tercerabut paksa karena keadaan. Himpitan ekonomi terus-menerus dalam sistem kapitalis yang materialistik ini, membuat seorang ibu tega membunuh anaknya. Seperti pemberitaan viva.co.id bahwa pada Rabu, 09/12/2020, seorang perempuan yang diduga stres karena faktor ekonomi tega membunuh ketiga anak kandungnya. Perempuan 30 tahun itu melakukan aksi pembunuhan di rumahnya di Desa Banua Sibohou, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Ketiga korban masing-masing berinisial YL (5), SL (4), dan DL (2).

Kehidupan yang semakin sulit, membuat orang gelap mata. Tidak bisa berpikir dengan logika. Hanya mengandalkan perasaan teraniaya semata. Kemiskinan di negeri ini telah memasuki tahap akut. Bukan lagi kemiskinan kultural yang disebabkan oleh kemalasan atau ketidakcakapan individu dalam bekerja. Namun, sudah masuk kategori struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh penerapan sistem yang salah.

Sistem ekonomi kapitalis yang sedang diterapkan di negeri ini, begitu mengagungkan kebebasan kepemilikan. Setiap orang berhak memiliki apapun sekehendak hatinya, asal ia punya kuasa. Tak peduli meski itu seharusnya merupakan kepemilikan umum.

Sumber Daya Alam melimpah, yang seharusnya dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat, terpaksa diprivatisasi dan dikuasai kaum korporat saja. Akibatnya, negara tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan layak yang memungkinkan si miskin memperoleh kesejahteraan.

Privatisasi juga menyebabkan kekayaan tidak terdistribusi secara merata kepada individu rakyat. Keuntungan besar hanya mengalir ke kantong para pemilik modal, sementara negara minim pemasukan. Akibatnya, negara tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyat berupa sandang, pangan dan papan. Negara juga tidak mampu menyediakan kebutuhan dasar publik berupa pendidikan, kesehatan, keamanan, serta infrastruktur penunjang.

Walhasil, dalam sistem ini, negara tidak akan sanggup berperan sebagai pelindung rakyat dan penggembala yang selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Nyatanya, negara justru menunjukkan perannya sebagai regulator dan fasilitator bagi kepentingan kaum borjuis berdasi.

Di sisi lain, pesta pemilihan kepala daerah langsung, yang diharapkan bisa mengubah nasib rakyat kecil, ternyata tidak kunjung membawa perubahan berarti. Bahkan di tengah hiruk-pikuk pesta, ada keluarga yang tengah meregang nyawa, tanpa sepengetahuan orang-orang di sekitarnya.

Perlu diketahui bahwa pada saat peristiwa pembunuhan tiga anak laki-laki oleh ibu kandungnya tersebut terjadi, sang suami sedang pergi ke TPS untuk mencoblos Pilkada di Nias Utara. Ia berharap adanya pemimpin yang baru mampu menyejahterakan kehidupan keluarganya. Karena menurut pengakuan suaminya, mereka sering hanya makan sekali dalam tiga hari karena masalah ekonomi keluarga. (waspada.id, 14/12/2020)

Sungguh malang nasib rakyat di sistem kapitalisme. Untuk makan pun ia tak mampu. Hal ini berbanding terbalik dengan nasib rakyat dalam sistem Islam. Ketika diterapkan, Islam membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh penduduknya. Sistem Islam menjadikan pemerintah sebagai perisai dan penggembala untuk seluruh rakyatnya.

Sebagai perisai, negara berperan melindungi rakyatnya dari musuh dan segala mara bahaya. Sedangkan sebagai penggembala, negara harus benar-benar menyejahterakan rakyatnya. Memenuhi seluruh kebutuhan pokoknya seraya menciptakan suasana kondusif supaya mereka juga bisa memenuhi kebutuhan sekunder, bahkan kebutuhan tersiernya.

Negara hadir di tengah masyarakat untuk memastikan tidak ada warganya yang sedang dirundung nestapa karena kelaparan, tidak punya pakaian maupun tempat tinggal. Semua itu dilakukan oleh kepala negara dengan penuh tanggung jawab, karena kepemimpinan di dalam Islam berdimensi akhirat. Seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang amanahnya dalam mengurus rakyat oleh Allah Swt.

Selain itu, Islam membagi kepemilikan menjadi tiga, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Dengan demikian, tidak ada individu yang bisa sewenang-wenang memiliki seluruh bentuk kepemilikan di atas sehingga menghalangi orang lain mendapatkan haknya. Negara juga mempunyai sumber pendapatan berlimpah untuk menyejahterakan rakyat. Negara bisa membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya agar setiap individu bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.

Dengan pengelolaan kepemilikan umum yang baik, negara bisa memenuhi hajat publik masyarakat berupa pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara gratis berkualitas. Apabila ada individu rakyat yang terdeteksi dalam keadaan kekurangan, maka dengan segera bisa dicarikan solusinya. Bukan dibiarkan berlarut-berlarut sampai menjadi gejala umum di masyarakat.

Kehidupan para wanita pun sangat diperhatikan. Seluruh kebutuhan hidupnya dipenuhi dengan baik oleh suami, wali, maupun negara. Ia tak pernah dibebani untuk mencari nafkah sehingga fitrahnya tetap terjaga. Karena di tangannya ada tugas berat yaitu menyiapkan generasi untuk membangun peradaban gemilang.

Sudah selayaknya kita rindu diatur oleh Islam. Siatem yang membawa kesejahteraan dunia akhirat.

About Post Author