30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kapitalisme Itu Virus, Islam Itu Harus


Oleh : Nurul Aini Najibah
Aktivis Dakwah

Tahun penuh kegetiran, cobaan berat dan kegalauan belum berlalu. Munculnya pandemi virus Covid-19 nyatanya telah mengendalikan aktivitas semua golongan masyarakat. Sementara itu, penderitaan dan kesengsaraan umat muslim di berbagai negeri tidaklah berkurang. Ketika umat sedang berusaha sekuat tenaga untuk keberlangsungan hidupnya dalam melawan virus Covid-19 yang telah menimbulkan carut-marutnya kondisi umat, negara justru menyuguhi rakyat dengan kebijakan yang aneh. Mereka malah mempermainkan nyawa rakyatnya dengan tetap melaksanakan Pilkada serentak di tengah pandemi saat ini.
Beberapa pekan sebelumnya masyarakat Indonesia telah melaksanakan kegiatan tersebut. Dilansir dari pikiranrakyat.com bahwa Satuan Tugas Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat menilai masih terkendali dan tertib pada Pilkada Serentak 2020 di delapan kota kabupaten di Jawa Barat dengan menerapkan protokol kesehatan. Namun, untuk mengantisipasi adanya yang terkonfirmasi positif Covid-19, Satgas telah menyiapkan tempat isolasi tambahan dengan tetap mewaspadai adanya kerumunan yang nanti akan ada dalam proses perhitungan. (Jum’at, 11 Desember 2020)
Pelaksanaan Pilkada sebenarnya telah menimbulkan pro dan kontra, karena dilaksanakan di tengah pandemi Corona di Indonesia. Selain karena infeksi virus yang terus meningkat setiap harinya, virus ini juga terus merenggut banyak korban.
Akibatnya, pelaksanaannya juga menimbulkan kekhawatiran akan adanya klaster baru, apalagi prosesnya melibatkan banyak orang, seperti yang diberitahukan oleh Kepala Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Bandung, Jawa Barat Kahpiana yang menyatakan bahwa ada sebanyak 51 petugasnya yang dinyatakan positif Covid-19 setelah dilakukan tes usap. (merdeka.com, Sabtu 5/12/2020)
Hal ini telah mengindikasikan bahwa Pilkada memang telah menjadi ancaman penambahan kasus virus Corona. Namun demikian, semua itu tidak menyurutkan adanya beberapa pihak yang masih mendorong agar kegiatan tersebut tetap dilaksakan seperti biasanya, meski masih dengan menjalankan protokol kesehatan.
Di tengah munculnya kekhawatiran bahwa Pilkada akan menjadi titik penyebaran virus Corona, maka tidak seharusnya pemerintah memaksakan penyelenggaraan Pilkada walaupun dengan melakukan segala bentuk himbauan prokes.
Meskipun, memang sudah ada upaya pemerintah untuk menangani penyebaran virus tersebut. Akan tetapi, ketika persoalan Pilkada masih ada artinya ada hal yang perlu dievaluasi. Sikap mereka jelas berbeda dalam penanganan virus ini. Sebaliknya, dalam menangani persoalan yang menghasilkan materi, mereka dengan sigap langsung beraksi untuk menanganinya. Untuk kasus pandemi, terlihat bahwa upayanya tidak serius hingga belum mendapatkan solusi yang memadai.
Sayangnya, pemerintah begitu lamban dalam memutus rantai penyebaran. Bahkan cenderung cuek dan tidak peduli. Hingga menimbulkan pertanyaan, sebenarnya pemerintah serius menangani wabah atau sengaja agar rakyat menderita? Namun alih-alih memberi solusi yang tepat memutus pandemi, pemerintah justru malah menyibukkan diri dengan perkara lain yang tidak begitu penting, misalnya adanya pelaksanaan pilkada serentak ini. Padahal pandemi ini merupakan masalah yang sangat serius. Jika terus dibiarkan, maka sudah pasti akan menimbulkan lebih banyak korban jiwa lagi. Mereka lebih memilih bersikap masa bodoh terhadap apa yang dihadapi rakyatnya.
Saat umat menjerit dililit kesewenang-wenangan penguasa yang tidak mampu mengatur roda kesejahteraan dan keamanan bagi keselamatan rakyatnya. Negara telah berubah menjadi sebuah perusahaan dan industri kapitalis-sekuler yang menginjak-injak hak-hak umat dan tidak mempedulikan lagi kemaslahatan rakyat. Semua itu menjelaskan bahwa sistem kapitalis yang diterapkan di tanah air telah melenyapkan nilai-nilai kemanusiaan dan memunculkan penguasa-penguasa rakus. Makin tampak nyata kegagalan kapitalisme dalam menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dan keamanan rakyatnya. Bahkan bukan hanya itu, kapitalisme justru telah menjadi akar segala problematika yang menimpa umat saat ini. Maka, virus mematikan itu ternyata kapitalisme yang diemban negara bukan Corona.
Selain penerapan sistem kapitalisme sekuler, pemimpin yang tidak bertakwa pun menyebabkan kegagalan kepemimpinan. Dalam sistem ini, pemimpin rela untuk mendustai rakyatnya, menjual aset milik rakyat kepada asing, menggunakan aparat untuk mempertahankan kekuasaan sekalipun yang dihadapi adalah rakyatnya sendiri. Segala perkara yang dipandang merugikan mereka akan ditentang dan rakyat yang tidak setuju dengan kebijakannya dianggap sebagai musuh. Hingga kini kenyataan ini masih berlangsung.
Disamping itu, kepemimpinan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak pada hari akhir. Seorang pemimpin tidak akan membiarkan berlakunya sistem kufur yang bertentangan dengan Islam.
Berdasarkan hal tersebut, sistem Islam memberikan kepemimpinan yang berpegang pada Islam yang dibawa Rasulullah saw. dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Pemimpin menjadi benteng untuk menjaga dan memelihara umatnya dalam segala seginya dan menyatukan segenap umat Islam di dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut, Allah Swt. dan Rasul-Nya telah menggariskan konsepsi dasar dalam membangun kepemimpinan, yaitu :
Pertama, pemimpin yang baik. Dalam Islam, pemimpin sering disebut imam (pemimpin yang diikuti), ra’in (penggembala yang mengurusi), ra’is (kepala, yang mengarahkan), mas’ul (penanggung jawab) dan hakim (penguasa, yang menerapkan hukum). Karenanya, pemimpin haruslah individu yang dapat menjalankan fungsi-fungsi tersebut dan mumpuni dalam hal ketakwaan, keamanahan, kejujuran dan keahlian. Orang-orang yang telah mengangkat pemimpin yang tidak tepat dianggap telah melanggar amanat dan berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan umat muslim.
Kedua, sistem yang benar. Kepemimpinan tidak cukup mengandalkan orang, melainkan sistem yang menaunginya harus tepat. Dalam Islam, sistem yang wajib diterapkan adalah sistem yang menerapkan Syariat Islam yang akan menyatukan negeri-negeri dengan suku dan budaya yang beragam ada di bawah naungan Daulah Khilafah. Sistem ini ditopang oleh empat pilar, yaitu:
Kedaulatan ada di tangan Allah Swt. yang terdapat di dalam hukum-hukum-Nya.
Allah berfirman:
“Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah.”(TQS. Yusuf [12]: 40)
Kekuasaan di tangan rakyat. Artinya, rakyatlah yang memilih pemimpinnya dengan rela dan pilihan. Kekuasaan yang diberikannya pun hanyalah untuk menjalankan syariat Islam.
Wajib mengangkat hanya satu pemimpin sedunia, satu khalifah. Dunia Islam haruslah menyatu. Rasulullah saw. menegaskan:
“Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR Muslim)
Hak adopsi hukum syariat untuk diterapkan di tengah masyarakat hanyalah ada pada khalifah.
Ketiga, hubungan antara rakyat dan penguasa. Hubungan ini didasarkan pada ketakwaan kepada Allah Swt. dari kedua belah pihak. Penguasa diangkat untuk menerapkan hukum syariat atas rakyat. Karenanya, rakyat wajib menaatinya sekaligus memberikan koreksi kepadanya. Dari sini tumbuhlah proses saling koreksi dan pertanggungjawabann antara rakyat dan penguasa.
Untuk itu, seorang pemimpin mesti memperhatikan urusan umat dan bersatu bersama mereka dengan cara yang baik. Pandemi sekarang ini bukanlah hal yang baru dalam sejarah. Di zaman Rasulullah saw. wabah ini pun pernah terjadi. Rasul memberikan contoh bagaimana cara yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran wabah penyakit yang menular adalah warga di daerah terjangkitnya wabah dilarang untuk meninggalkan tempatnya. mereka akan dievakuasi ke suatu tempat yang jauh dari pemukiman warganya dan diamati untuk dicarikan obatnya. Masyarakat yang ada di luar wabah penyakit pun dilarang mendekati tempat tersebut agar tidak menambah penularannya semakin meluas.
Maka, dapat disimpulkan bahwa satu-satunya solusi agar negeri ini terlepas dari permasalahan ini adalah adanya sistem yang mampu mengatur segalanya secara kaffah. Dan hal itu dapat terwujud jika adanya sistem Khilafah Islam. Sistem yang telah jelas keberhasilannya dalam memberikan keamanan dan kesejahteraan pada umatnya di seluruh dunia.
Wallahu a’lam bii ash-shawab.

About Post Author