25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Islam Kafah Menuntaskan Problematika Kaum Perempuan

Oleh: RAI Adiatmadja
(Founder Komunitas Menulis Buku Antologi)

Perempuan masa kini merekam jejak ironi. Tersebab sistem yang tidak mumpuni dengan jeratan hegemoni. Kaum Hawa terlantar di menggilannya zaman,  banyak yang menderita penyakit kejiwaan karena tidak diberikan keadaan aman, sehingga mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban utama sebagai istri dan ibu dengan tentram dan nyaman. Hal yang tercipta adalah derita demi derita yang tak berkesudahan, tak ada lagi pancang teladan penguat peradaban. 

Kanal berita diisi dengan kabar para ibu yang harus bersusah payah menyempurnakan tugas ayah mencari nafkah, bahkan banyak dari mereka tega membunuh buah hati dengan alasan kehidupan yang terlalu susah. Perangkap kesulitan yang diciptakan sistem demokrasi semakin membuat kaum perempuan frustrasi.
Mereka harus menanggung beban yang tak sewajarnya dilakukan perempuan, mutlak perkasa ketika bekerja, tak peduli fisik menderita serta psikis teraniaya. Hal yang harus dilakukan adalah menguat di kondisi yang tak seimbang, sehingga secara mental kaum perempuan banyak yang tumbang.

Melansir dari https://theconversation.com – Ada sebuah berita yang cukup memberikan kondisi dilematis bagi kaum perempuan yang bekerja. Elitha Tri Novianty, dia bekerja di perusahaan produsen es krim yang bernama PT. Alpen Food Industry (AFI) atau lebih kita kenal dengan Aice.
Dia memiliki penyakit endometriosis yang kerap kambuh sehingga mengajukan pemindahan divisi kerja, tetapi perusahaan menolak bahkan terkesan mengancam memberhentikan. Mau tidak mau Elitha tetap bekerja, sehingga terjadi pendarahan yang parah, pada akhirnya dia melakukan kuretase untuk mengangkat jaringan dari rahim. Ini hanya salah satu fakta perempuan bekerja yang diabaikan hak-haknya oleh perusahaan es krim tersebut.
Menurut Jubir Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR) yang bernama Sarinah, dia menyatakan enam kasus bayi dilahirkan dalam kondisi meninggal dan lima belas lagi keguguran, itu terhitung dari tahun 2019 yang dialami buruh perempuan Aice. Meskipun pihak Aice memberikan bantahan. Namun, gaung boikot melaju menjadi kecaman serius. (18/3/2020).

Mengapa kaum perempuan yang menjadi buruh identik dengan sapi perahan? Hak-haknya tidak diberikan secara utuh dan nilai-nilai kewajibannya pun terbunuh. Mereka hanya diekploitasi demi tercapainya tujuan produksi yang menghasilkan materi tinggi. Buruh perempuan yang senantiasa dinilai lemah menjadi korban format sistem negara buatan manusia yang salah kaprah.

Kondisi tak adil dan penindasan yang terjadi kental sekali dengan budaya yang mengutamakan kaum laki-laki dibanding perempuan, termasuk dalam dunia ketenagakerjaan di negeri ini. Inilah buah dari sistem demokrasi yang semakin menyuburkan patriarki. Pengusung persamaan gender atau feminis tentu menyuarakan tentang pentingnya kesetaraan–yang tentu saja ini pun bukan solusi.
Sehebat apa pun aturan yang diciptakan manusia, itu tak akan bisa menjadi jalan keluar terbaik untuk setiap prahara yang ada. Sebab karakteristik kebijakan yang digubah makhluk hanyalah melahirkan banyak sengsara, terlebih ketika mengabaikan titah dari Allah sebagai pemilik tunggal hukum di muka bumi ini.

Islam hadir ke dunia membawa tujuan untuk memuliakan manusia dengan penyetaraan yang sudah dibentuk oleh aturan secara seimbang dalam hak dan kewajiban sebagai hamba Allah. Islam memiliki prinsip keseimbangan, keadilan, dan kesetaraan yang menghormati harkat dan martabat satu sama lain. Budaya patriarki tentu tidak sesuai dengan ajaran Islam, begitu pula kesetaraan versi manusia yang ingin menyamakan posisi laki-laki dengan perempuan. Hal ini bukanlah aspek yang bisa memberi jaminan kesejahteraan.
Di dalam sistem Islam, perempuan tidak dilarang berkiprah di luar rumah, tetapi bukan untuk mencari nafkah seperti yang terjadi saat ini. Namun, mereka beraktivitas sesuai kapabilitas di bidang ilmu yang dikuasainya. Berdiri sebagai sosok terhormat tanpa perlu memaksa meminta setara dengan kaum laki-laki. Pemerintah akan mendidik dengan memberikan pelajaran yang proporsional sesuai syariat untuk setiap individu, agar paham dengan benar antara hak dan kewajiban di dalam keluarga ataupun negara.
Kaum perempuan tidak dilarang untuk bersekolah tinggi agar bisa mumpuni mendidik generasi, bukan sekadar layak bekerja untuk meningkatkan keuntungan korporasi seperti di sistem demokrasi.

Islam menempatkan kaum perempuan di posisi mulia, Ali radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Perempuan ialah saudara kandung laki-laki. Tidak memuliakan kaum perempuan kecuali orang mulia dan tidak merendahkannya kecuali orang hina.” HR. Ahmad at-Tirmidzi dan Ibnu Asakir).
Persfektif Islam menjunjung posisi kaum perempuan. Syariat memperhatikan dengan begitu akurat agar fitrahnya terawat dengan cermat, tanpa melanggar batasan yang sudah Allah gariskan. Hanya dengan Islam cahaya kemuliaan perempuan tak akan padam, untuk paripurnanya perjalanan syariat tentu butuh institusi negara, agar setiap harapan dan tujuan memberi penjagaan yang utuh terhadap Kaum Hawa bisa terimplementasi dengan nyata.

Sistem Islam kafah akan memberikan hukum perwalian agar perempuan terjaga menjadi sosok yang dimuliakan. Mereka harus berada di rumah dengan mahramnya. Bahkan kehadiran non mahram harus seizin wali atau suami. Hukum safar menjaga gerak mereka ketika di luar rumah, mahram wajib mendampingi ketika waktu yang dibutuhkan sehari semalam.
Mengenai aturan nafkah, mereka harus dipenuhi semua kebutuhannya oleh wali, tidak wajib bekerja, terlebih tak ada tuntutan untuk menanggung beban ekonomi bagaimanpun kondisinya. Mereka akan leluasa menikmati posisi sebagai pengurus keluarga dalam rumah tangga, menciptakan rumah yang selayaknya surga, memberi kenyamanan dan rasa tenteram untuk suami dan buah hati.
Bahkan untuk mahar menjadi harta miliknya utuh, tidak boleh diusik oleh siapa pun termasuk wali. Dalam hak waris, Islam memberi bagian kaum perempuan dengan adil dan ditetapkan dalam aturan secara mendetail.

Mereka di luar rumah diwajibkan menutup aurat–kecuali wajah serta telapak tangan–dan menjaga kehormatan, syariat sudah mengatur. Semata-mata agar kemuliaan mereka tetap terjaga. Dilarang melakukan pekerjaan yang akan merendahkan kehormatan seperti perempuan yang berpromosi untuk penjualan produk, mereka bertebaran bebas di jalan-jalan, pekerja seks komersial, pelayan kafe, dan sejenisnya.
Negara wajib menjamin kehormatan kaum perempuan, menutup semua area yang berpotensi terjadinya campur baur termasuk di lingkungan pendidikan, memblokir akser muatan-muatan porno di ranah umum, memberlakukan sanksi hukum secara tegas bagi pelaku yang melanggar seperti pornoaksi, pelecehan, dan penyimpangan seksual.

Islam mengatur dengan sedemikian terperinci, setelah negara bisa memastikan hak-hak perempuan terpenuhi. Ruang pengaduan pun diberikan untuk masalah kelalaian suami jika semena-mena, baik dalam nafkah ataupun perilaku. Menjaga kerahasiaan bentuk pengaduan dengan amanah, bukan mengumbar maslah ke hadapan khalayak.
Pun, perempuan diberikan hak berpolitik, memilih dan dipilih dalam majelis syura. Wajib beramar makruf nahi mungkar.
Begitulah sistem Islam kafah memuliakan perempuan, teramat agung terbangun sehingga mampu melahirkan peradaban yang gemilang. Sistem ini meski cemerlang tetap saja dihujat para penentang, padahal seyogianya mereka adalah bagian utama yang tak mampu menyejahterakan Kaum Hawa.

Akankah kita membiarkan para ibu terus diburu kabut kelabu, jumlah kematian akibat depresi pun kian memburu, perempuan tak ada nilainya, dianggap seonggok debu yang tak berharga. Bagaimana nasib para generasi bisa cerdas dan tangkas jika dirawat oleh kaum perempuan yang dibelenggu hingga sekarat? Akankah kita merelakan nasib penerus bangsa tergerus dalam arus celaka?

Mari kita berkomitmen dan berazam agar sistem Islam kafah tegak dan pemahaman yang baik itu terserak, supaya direguk kaum perempuan agar tidak semakin terpuruk. Keyakinan yang harus kuat bahwa sebaik-baik aturan adalah yang berasal dari Allah SWT.
“Maka patutkah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka tahu bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Rabb-mu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang meragu.” (QS. al-An’am: 114).

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author