30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Akhiri Derita Manusia Dengan Islam Paripurna

Oleh: Ummu Adi
Praktisi Pendidikan

Setiap tahun yang dilalui, hanya keburukan dan kebobrokan sistem ini yang ditemui. Bahkan satu tahun berjalan bersama pandemi, pun tak mampu negeri ini menemukan solusi. Sungguh ironis, sistem yang dipuja dan dipuji dan dianggap ideal ini tak mampu menyelesaikan permasalahannya negeri.

Sistem yang mengklaim mampu mewujudkan kepentingan rakyat ternyata tak mampu mendstribusikan keadilan bagi mereka. Kesenjangan tersebut sangat jelas terpampang nyata di di depan mata saat pandemi ini. Aturan yang berpihak pada pengusaha, dan tingginya angka pengangguran sebagai bukti nyata kepalsuan sistem ini.

Sistem ini pun mengaku tidak akan pernah ada tirani karena dipilih rakyat dan tidak akan ada penyelewengan karena mengadopsi trias politica yang saling mengawasi. Namun faktanya mereka tega membagi-bagikan kekuasaan pada yang mendukung kepentingannya . Hal ini sebagai alat untuk membungkam mereka yang melawan. Seakan-akan mereka sengaja mempertontonkan bahwa perjuangan dan pembelaan mereka terhadap pasangan pilihannya saat pemilihan presiden kemarin tidak memiliki arti apa pun. Terbukti dengan menempatkan pendukungnya pada posisi tersebut dan diterimanya beberapa jabatan menteri yang ditawarkan.

Sungguh, demokrasi sudah busuk dari akarnya hingga akhirnya ia akan layu dan mati di tangan pemimpin yang sedang berkuasa. sebagaimana yang disampaikan pada tayangan RATU (ahad, 26 Desember) bahwa demokrasi akan mati karena ia telah memiliki indiktor yang lengkap yakni :

  1. Penolakan atau komitmen yang lemah terhadap sendi-sendi demokrasi. Seperti, apakah penguasa suka mengubah UU? Apakah mereka melarang organisasi tertentu? Apakah mereka juga membatasi hak-hak warga negaranya?
  2. Penolakan terhadap legitimasi oposisi. Mereka menyematkan lawan politik mereka dengan sebutan-sebutan subversif seperti radikal, teroris, ekstrimis dan lain-lain. Mereka juga memgkriminalisasi lawan-lawan politiknya dengan tuduhan yang mengada-ada.
  3. Toleransi atau mendorong aksi kekerasan. Mereka memiliki hubungan para militer yang cenderung menggunakan kekerasan dan main hakim sendiri.
  4. Kesiagaan untuk membungkam kebebasan sipil, dengan mendukung dan membuat undang-undang yang membatasi kebebasan sipil, seperti membatasi hak-hak politik dan berpendapat dan melarang tema-tema tertentu.

Fakta-fakta tersebut di atas telah terjadi di negeri ini, dan membuktikan bahwa penguasa negeri ini nyatanya telah menerapkan sistem pemerintahan yang otoriter dan represif. Sehingga tak akan pernah kita jumpai perbaikan dan keberkahan yang sejati dambaan umat dalam sistem ini, kecuali jika umat memiliki pemikiran yang terbuka dan mau menerima ada pemikiran lain yang lebih baik dan layak untuk di jadikan sistem hidupnya.

Dialah Islam, yang memiliki keseluruhan aturan hidup yang lahir dari Sang Pencipta manusia, yang Maha Mengetahui segala yang baik dan buruk bagi manusia. Perbaikan yang lahir darinya sudah dipastikan akan mendatangkan keberkahan langit dan bumi, karena setiap aktivitasnya senantiasa menghadirkan Penciptanya, rasa takut berdosa pun menjadi sesuatu yang wajar bagi insan yang beriman, hingga umat ini tak akan lagi merasakan penderitaan yang tak berujung seperti sekarang ini.

Bagaimana dengan mereka yang muslim yang enggan menerima pemikiran indah ini? Maka kita hanya bisa mencukupkan bertanya. Apakah dia masih beriman kepada Allah sebagai Alkhalik dan al Mudabbir? Oleh karenanya jika ingin negeri kita terlilit dengan berbagai kerusakan harus kembali kepada syari’at Allah yang akan menyelamatkan dan menyejahterakan muslim dan nonmuslim.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author