30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Islam Melahirkan Perubahan dan Peradaban Hakiki

Oleh: Luluk Kiftiyah
Akademi Menulis Kreatif dan Pebisnis Online

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasul, dan jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, padahal kamu mengetahui”. (TQS. Al Anfal: 27)

Ayat di atas menjelaskan, bahwa Islam telah memerintahkan agar setiap orang menjaga dan menunaikan amanah itu secara maksimal. Selain itu, Islam juga telah berpesan supaya tidak berkhianat dan jangan menyia-nyiakan amanah.

Dilansir dari TEMPO.CO (27/12/2020), Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di hari kedua setelah dilantik sempat membuat geger di media sosial terkait kebijakan kontroversialnya tentang mengafirmasi hak syiah dan Ahmadiyah. Akibat dari kebijakan yang kontroversial itu, dia mendapat teguran dari berbagai kalangan terutama MUI. Kini Yaqut mengklarifikasi bahwa dirinya tak pernah menyatakan akan memberikan perlindungan khusus terkait hak beribadah kepada kelompok Syiah dan Ahmadiyah.

Yaqut menyampaikan bahwa dirinya selaku Menteri Agama akan mendudukkan setiap persoalan pada prinsip-prinsip dasar yang diakui bersama.

Adapun prinsip pertama, semua warga negara berkedudukan sama di depan hukum, baik itu Syiah, Ahmadiyah, NU, Muhammadiyah dan kelompok yang lain. Negara wajib memberikan perlindungan kepada mereka sebagai warga negara. Artinya, jika ada perbedaan keyakinan pada kelompok tertentu, tidak boleh ada alasan kelompok lain untuk mempersekusi atau menghakimi sendiri kelompok tersebut.

Prinsip kedua, jika ada perbedaan pandangan, keyakinan, pendapat terkait dengan hal-hal keagamaan, harus diselesaikan dengan dialog. Kemenag siap memfasilitasi dialog itu. Itulah dua prinsip yang akan dipegang oleh Yaqut selaku dia menjadi Menteri Agama.

Dari dua prinsip di atas, artinya semua kelompok diberikan hak untuk melakukan kepercayaan agamanya. Sayangnya, itu hanya klise dalam sistem demokrasi. Hak pada kelompok untuk melakukan kepercayaannya tidak berlaku pada kelompok yang aktif mengoreksi kebiijakan penguasa. Kita lihat saja FPI yang getol melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, kini pemimpinnya di persekusi hanya gara-gara kasus kerumunan di masa pandemi. Padahal, diluar sana juga banyak yang melakukan aktivitas kerumunan, namun bisa berlenggang kangkung.

Lalu benarkah Menag memfasilitasi dialog dengan kelompok yang bersebrangan dengan pemerintah? Sekali lagi, mengharap keadilan pada sistem demokrasi, ibarat menunggu ayam jadi telur lagi.
Dalam sistem demokrasi, yang ada hanyalah kepentingan politik. Bahkan agama yang jelas-jelas sesatpun akan diberikan panggung dalam kiprahnya. Fungsinya apa? Tentunya tidak lain dan tidak bukan untuk menjauhkan umat Islam dari kebangkitan.

Syiah bukanlah agama Islam, karena akidah mereka jelas berbeda dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rosulullah.
Berikut beberapa kesesatan Syiah ;

  1. Rukun iman Syiah itu wajib beriman pada imam dua belas. Adapun urutan imam dua belas setelah Rosulullah wafat di gantikan oleh;
    Sayyidina Ali bin Abi Thalib
    Hasan al-Mujtaba
    Husain asy-Syahid
    Ali Zainal Abidin
    Muhammad al-Baqir
    Ja’far ash-Shadiq
    Musa al-Kadzim
    Ali ar-Ridha
    Muhammad al-Jawad
    Ali al-Hadi
    Hasan al-Askari

Sampai pada imam ke dua belas, Muhammad al-Mahdi yang mereka anggap masih hidup sampai sekarang dan bersembunyi di gua Sirdaam kota Irak. Di pintu gua itu mereka kasih lilin-lilin dan bunga, mereka menunggu imamnya keluar. Bagi yang tidak percaya dengan imam yang hidup ini mereka anggap kafir dan halal darahnya.

  1. Setelah Rasulullah saw wafat, harusnya digantikan oleh Sayyidina Ali, maka siapa saja yang mengambil itu adalah kafir. Artinya Abu bakar dan Utsman mereka anggap kafir.

Selain itu, mereka tidak menerima riwayat abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, karena abu Hurairah dan Abdullah bin Abbas kafir.

  1. Al Qur’an yang sekarang dianggap tidak original, karena Al Qur’an yang sekarang dibuat oleh Utsman, mushab Utsmani. Syiah beranggapan bahwa Al Qur’an yang asli adalah mushab Fatimah. Padahal Al Qur’an itu mutawatir, dijaga keasliannya dan diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya.
  2. Nikah mut’ah (nikah kontrak), bagi siapa yang tidak melakukan nikah mut’ah mereka anggap kafir, karena nikah mut’ah adalah bagian dari aqidah.

Itulah ajaran Syiah yang sesat, dan dibolehkan dalam sistem demokrasi.
Sistem demokrasi memang tidak layak untuk dipercaya. Sampai kapan masih berharap pada sistem yang bobrok ini? Sudah saatnya membuang sistem buatan manusia, demokrasi – kapitalisme. Dan sudah saatnya menerapkan sistem Islam aturan yang berasal dari Allah.

Jika kesesatan suatu kelompok telah jelas, tetapi malah diberikan kebebasan dalam menjalankannya maka tungguhlah kehancurannya. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Radadhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat”. Dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu!”. (HR. al Bukhari)

Oleh karena itu, hanya dengan sistem Islam, dibawah naungan kepemimpinan khilafah masyarakat akan hidup sejahtera. Sebab aturan yang dipakai berasal dari Allah Swt.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author