28/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kematian Nakes Terus Meningkat, Sistem Islam Solusi Tepat

Oleh: Netta Wardhani Savira
(Aktivis Dakwah)

Pandemi Covid-19 terus melingkupi negeri tercinta kita ini bahkan pandemi ini seperti enggan berakhir dan sudah masuk tahun 2021. Akibatnya nyawa masyarakat menjadi korbannya. Mulai dari kalangan masyarakat biasa maupun tenaga kesahatan (Nakes) yang menangani korban Covid-19.

Pandemi ini akan terus selama penanganan yang diberikan tidak komprehensif. Jumlah korban meninggal akan terus berjatuhan. Hal yang mengejutkan adalah bertambahnya korban dari kalangan nakes. Mereka berkorban demi nyawa masyarakat tetapi justru mereka kena imbasnya yang cukup signifikan. Bahkan kematian nakes merupakan kematian tertinggi se-Asia dan lima besar sedunia.

Di kutip dari REPUBLIKA.CO.ID, Data dari Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memperlihatkan, sampai dengan akhir Desember 2020 terdapat 504 tenaga kesehatan (Nakes) yang wafat akibat Covid-19.

IDI juga mencatat, angka kematian tenaga medis di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia dan masuk lima besar di seluruh dunia. Tenaga medis yang wafat terdiri atas 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, tujuh apoteker, dan sepuluh tenaga laboratorium medik.

Hal seperti ini bisa terjadi akibat kebijakan- kebijakan yang telah dibuat.

Salah satu penyebab yang mengakibatkan korban kian meningkat adalah adanya kerumunan. Baik kerumunan pada Pilkada, maupun kerumunan akibat perayaan tahun baru beberapa hari kemarin.

Diprediksi korban Covid-19 kian meningkat akibat kerumunan yang terjadi pada Pilkada beberapa bulan yang lalu. Kerumunan antara keluarga, teman dan tentanga-tetangga membuat Covid-19 mudah menyerang. Hal ini membuat korban Covid-19 makin meningkat akibat kebijakan yang membolehkan kerumunan dilaksanakannya pilkada ditengah-tengah wabah.

Tak hanya itu, telah diprediksi pula peningkatan Covid-19 terjadi akibat kerumunan yang terjadi akibat perayaan tahun baru yang banyak memakan korban. Protokol kesehatan yang menjadi kebijakan negara yang seharusnya dipatuhi malah dilanggar begitu saja oleh masyarakat tanpa ada tindakan tegas dari pemerintah bahkan negara.

Banyaknya korban Covid-19 yang kian meningkat setiap harinya, sementara tenaga kesehatan penanganan Covid semakin berkurang akibat ikut tertular virus tersebut, membuat tugas mereka semakin berat. Hal ini sudah diperingatkan jauh-jauh hari sebelum melakukan Pilkada, namun ternyata tetap digelar bahkan di seluruh Indonesia. Walhasil, beribu masyarakat tertular Covid, sedangkan nakes pun ikut berguguran satu persatu.

Bisa dibayangkan, tenaga kesehatan berguguran, sementara jumlah pasien terus membludak, maka tenaga kesehatan yang tersisa harus bekerja jauh lebih keras. Petugas medis akan mengalami burnout atau kelelahan bekerja.

Tak hanya karena kewalahan bekerja, para medis juga mengalami keterbatasan APD yang melindungi dari paparan virus corona dan hal ini berkontribusi dalam angka kematian tenaga kesehatan yang makin meningkat.

Di awal pandemi, kasus kematian tenaga kesehatan karena Covid-19 dipicu karena keterbatasan APD. Saat ini berdasarkan, temuan studi FKUI, masih terdapat 2 persen tenaga kesehatan yang tidak mendapatkan APD.
(cnnindonesia, 4/9/2020).

Tidak bisa dipungkiri, Covid-19 merupakan virus kecil namun sangat mematikan, maka dalam hal ini tidak boleh bermain- main dan menganggap remeh virus yang sedang beredar saat ini. Maka, membutuhkan tenaga kesehatan yang cukup untuk menangani kasus Covid-19 ini, jika tidak kasus ini akan semakin lama berakhir.

Dalam hal ini, butuh sikap tegas dari negara untuk benar-benar menanam kebijakan mengenai kasus Covid-19 ini. Walaupun, ada beberapa kelompok masyarakat atau kurangnya kesadaran beberapa individu dalam menjalankan kebijakan protokol kesehatan, namun negara mempunyai hak untuk bersifat tegas dengan orang- orang yang melanggar peraturan kesehatan ditengah-tengah wabah.

Jika penguasa tegas mencegah terjadinya kerumunan, rakyat pasti akan mengikuti. Sayangnya ketegasan ini tidak terwujud, penguasa terkesan plinplan dalam menegakkan disiplin protokol kesehatan. Jika negara saja terkesan tidak menjalankan protokol kesehatan dengan baik, dengan membuat kerumunan selama Pilkada, maka rakyat pun akan menganggap remeh soal protokol kesehatan. Hasilnya korban semakin membludak, dan tenaga kesehatan juga terkena imbas dari ketidaktegasan negara.

Sebuah negara harus memiliki prioritas dalam kebijakannya. Persoalan yang penting dan mendesak harus didahulukan. Kesehatan dan keselamatan nyawa rakyat seharusnya lebih diprioritaskan daripada perhelatan Pilkada yang didominasi hasrat pribadi untuk berkuasa. Inilah yang terjadi jika negara memakai sistem kufur, sistem yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi tanpa melihat kebutuhan rakyat.

Hal ini berbanding terbalik dengan Islam, bisa dilihat sejarah Islam yang pernah mencatat kegemilangan Islam mengurusi umat baik dalam bidang pendidikan, politik, ataupun kesehatan dan lain-lain.

Pelayanan kesehatan dalam sejarah Khilafah Islam bisa kita bagi dalam tiga aspek. Pertama, tentang pembudayaan hidup sehat. Kedua, tentang kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan. Ketiga, tentang penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan.

Pertama, Pembudayaan Hidup Sehat. Rasulullah saw. banyak memberikan contoh kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyakit. Misalnya: menekankan kebersihan; makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengkonsumsi madu, susu kambing atau habatussaudah, dan sebagainya.

Sehebat apa pun penemuan dalam teknologi kesehatan, hanya akan efektif menyehatkan masyarakat bila mereka sadar hidup sehat, kemudian menggerakkan penguasa membangun infrastruktur pencegah penyakit dan juga fasilitas bagi yang terlanjur sakit. Para tenaga kesehatannya juga orang-orang yang profesional dan memiliki integritas. Bukan orang-orang dengan pendidikan asal-asalan serta bermental pedagang.

Kedua, Kemajuan Ilmu dan Teknologi Kesehatan. Rasulullah saw. juga menunjukkan persetujuannya pada beberapa teknik pengobatan yang dikenal saat itu, seperti bekam atau meminumkan air kencing unta pada sekelompok orang Badui yang menderita demam. Tidak dapat dipungkiri, Rasulullah saw. adalah inspirator utama kedokteran Islam. Meski beliau bukan dokter, kata-katanya yang terekam dalam banyak hadis sangat inspiratif, semisal, “Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan, kecuali Dia juga menciptakan cara penyembuhannya.” (HR al-Bukhari).

Muslim ilmuwan pertama yang terkenal berjasa luar biasa adalah Jabir al-Hayan atau Geber (721-815 M). Beliau menemukan teknologi destilasi, pemurnian alkohol untuk disinfektan, serta mendirikan apotik yang pertama di dunia yakni di Baghdad.

Banu Musa (800-873 M) menemukan masker gas untuk dipakai para pekerja pertambangan dan industri sehingga tingkat kesehatan para pekerja dapat diperbaiki.

Muhammad ibn Zakariya ar-Razi (865-925 M) memulai eksperimen terkontrol dan observasi klinis, serta menolak beberapa metode Galen dan Aristoteles yang pendapat-pendapatnya hanya berlandaskan filsafat, tidak dibangun dari eksperimennya yang dapat diverifikasi. Ar-Razi juga meletakkan dasar-dasar mengenali penyakit dari analisis urin. Bersama-sama Tsabit bin Qurra dan Ibn al Jazzar dia juga menemukan cara awal penanganan disfungsi ereksi.

Pada abad-9, Ishaq bin Ali Rahawi menulis kitab Adab ath-Thabib, yang untuk pertama kalinya ditujukan untuk kode etik kedokteran. Ada 20 bab di dalam buku itu. Di antaranya merekomendasikan agar ada peer-review atas setiap pendapat baru di dunia kedokteran. Kalau ada pasien yang meninggal, maka catatan medis sang dokter akan diperiksa oleh suatu dewan dokter untuk menguji apakah yang dia lakukan sudah sesuai standar layanan medik.

Menarik untuk mengetahui, bahwa cikal-bakal vaksinasi sebagai cara preventif itu juga dari dokter-dokter Muslim zaman Khilafah Turki Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis sejak zaman Abbasiyah. Ini diceritakan pada buku, 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World. Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762), istri Duta Besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa ilmu vaksinasi ke Inggris untuk memerangi cacar ganas (smallpox). Namun, Inggris perlu menunggu hampir setengah abad, sampai tahun 1796 Edward Jenner mencoba teknik itu dan menyatakan berhasil. Cacar ganas yang pernah membunuh puluhan juta manusia hingga awal abad-20 akhirnya benar-benar berhasil dimusnahkan di seluruh dunia dengan vaksinasi yang massif. Kasus cacar ganas terakhir tercatat tahun 1978. Akhirnya, Jennerlah yang disebut dalam sejarah sebagai penemu vaksinasi, terutama vaksin cacar.

Dengan ilmu dan teknologi yang semakin maju itu, otomatis kompetensi tenaga kesehatan juga wajib meningkat. Tenaga kesehatan secara teratur diuji kompetensinya. Dokter Khalifah menguji setiap tabib agar mereka hanya mengobati sesuai pendidikan atau keahliannya. Mereka harus diperankan sebagai konsultan kesehatan, dan bukan orang yang sok mampu mengatasi segala penyakit.

Dan juga beberapa ilmuwan kesehatan saat itu yang sangat membantu penyembuhan penyakit masayarakat banyak saat itu.

Ketiga, Penyediaan Infrastruktur & Fasilitas Kesehatan. Pada kurun abad 9-10 M, Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, yang di perkotaan padat penduduk akan berakibat kota yang kumuh. Kebersihan kota menjadi salah satu modal sehat selain kesadaran sehat karena pendidikan.

Ini adalah sisi hulu untuk mencegah penyakit sehingga beban sisi hilir dalam pengobatan jauh lebih ringan. Meski demikian, negara membangun rumah sakit di hampir semua kota di Daulah Khilafah. Ini adalah rumah-rumah sakit dalam pengertian modern. Rumah sakit ini dibuat untuk mempercepat penyembuhan pasien di bawah pengawasan staf yang terlatih serta untuk mencegah penularan kepada masyarakat.

Pada zaman pertengahan, hampir semua kota besar khilafah memiliki rumah sakit. Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien. Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta untuk riset. Rumah Sakit ini juga tidak hanya untuk yang sakit fisik, namun juga sakit jiwa. Di Eropa, rumah sakit semacam ini baru didirikan oleh veteran Perang Salib yang menyaksikan kehebatan sistem kesehatan di Timur Tengah. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolir dan paling jauh dicoba diterapi dengan ruqyah.

Semua rumah sakit di dunia Islam dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien penyakit-penyakit tertentu.

Rumah-rumah sakit ini bahkan menjadi favorit para pelancong asing yang ingin mencicipi sedikit kemewahan tanpa biaya, karena seluruh rumah sakit di Daulah Khilafah bebas biaya. Namun, pada hari keempat, bila terbukti mereka tidak sakit, mereka akan disuruh pergi, karena kewajiban menjamu musafir hanya tiga hari.

Banyak individu yang ingin berkontribusi dalam amal ini. Negara memfasilitasi dengan membentuk lembaga wakaf (charitable trust) yang menjadikan makin banyak madrasah dan fasilitas kesehatan bebas biaya. Model ini pada saat itu adalah yang pertama di dunia.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa kaum muslim terdahulu memahami bahwa sehat tidak hanya urusan dokter, tetapi pertama-tama urusan masing-masing untuk menjaga kesehatan. Namun, ada sinergi yang luar biasa antara negara yang memfasilitasi manajemen kesehatan yang terpadu dan sekelompok ilmuwan muslim yang memikul tanggung jawab mengembangkan teknologi kedokteran.
(Dikutip dari https://al-waie.id/).

Wallahu a’lam bish-shawab.

About Post Author