29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Majukan Literasi dengan Spirit Keislaman


Oleh : Ai Siti Nuraeni
Ibu Rumah Tangga

Indeks literasi Jawa Barat mengalami penurunan di masa pandemi saat ini. Salah satu pemicunya karena banyak fasilitas membaca seperti perpustakaan yang terpaksa tutup untuk menghindari terjadinya kerumunan yang bisa memperparah penyebaran Covid-19. Hal ini dikemukakan oleh Asep Saeful Rohman seorang akademisi perpustakaan dan informasi Universitas Padjadjaran Bandung dalam penelitiannya.
Sebanyak 4.779 responden dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat terlibat dalam penelitian yang dilakukan pada bulan September-November ini. Hasilnya tercatat bahwa indeks baca masyarakat Jawa Barat mencapai 61,49 atau bisa dikatakan masuk kategori cukup. Angka ini lebih rendah dari survei yang dilakukan 2016 lalu yang berhasil menyentuh angka 68. (prfmnews.pikiran-rakyat.com/19 Desember 2020)
Asep kemudian menjelaskan setidaknya terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi kebiasaan membaca masyarakat, yaitu ketersediaan bahan bacaan yang memadai, bervariasinya bahan bacaan dan sumber informasi, bahan bacaan yang mudah ditemukan, dan terpenuhinya keinginan serta kebutuhan pembaca.
Kata literasi bisa kita pahami sebagai aktivitas untuk mendorong masyarakat agar terbiasa dengan membaca dan menulis. Jika masyarakat bisa membiasakan kedua aktivitas ini, maka mereka bisa mendapatkan banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat sesuai dengan bahan bacaannya. Karenanya semakin tinggi indeks literasi dari suatu negara, maka akan semakin pintar suatu masyarakat dan kemajuan negara dalam berbagai bidang bisa terwujud.
Untuk meningkatkan indeks literasi ini perlu usaha bersama dari banyak pihak, mulai dari individu, komunitas, masyarakat umum hingga ke pemerintah. Semua elemen ini bekerja sama dalam menyediakan bahan bacaan yang memadai, melengkapi sumber bacaan dan memastikan setiap warga di seluruh pelosok negeri mendapatkan akses yang mudah untuk mendapatkannya.
Sayangnya usaha yang dilakukan belum cukup untuk menaikkan indeks literasi masyarakat Indonesia, hal itu terlihat dari data yang menyebutkan bahwa Indonesia pernah menduduki peringkat dua dari bawah dalam indeks literasinya. Sungguh sebuah prestasi yang sangat tidak bisa dibanggakan.
Semua itu disebabkan karena Indonesia gagal dalam menyediakan buku yang memadai bagi seluruh rakyatnya. Mungkin rakyat di perkotaan lebih baik keadaannya karena dekat dengan pusat pemerintahan, sehingga perhatian pemerintah dalam menyediakannya lebih besar. Namun, bagi rakyat yang tinggal di pedesaan atau di pelosok pulau tidak bisa mendapatkannya dengan mudah. Sering kali kita temukan, banyak sekolah di pelosok negeri yang tidak memiliki buku untuk bahan mengajar, kalaupun ada jumlahnya terbatas dan kondisinya sudah memprihatinkan.
Kurang lengkapnya sumber bacaan juga menjadi penyebab lain dari merosotnya indeks literasi di Indonesia. Perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan yang lengkap langka jumlahnya. Maka bagi mereka yang memerlukan referensi untuk tugas kuliah atau yang lainnya terkadang harus mencari lebih jauh. Bahkan seringkali mereka harus mencari buku berbahasa asing karena tidak lengkapnya buku-buku yang berbahasa Indonesia.
Dan masalah yang terpenting adalah sulitnya akses bagi seluruh warga negara untuk mendapatkan bahan bacaan yang layak dan memadai. Hal itu bisa diakibatkan oleh jauhnya jarak suatu wilayah dari pusat kota. Sehingga distribusi buku bacaan sulit untuk dilakukan. Akses untuk internet pun sangat terbatas di sana, maka tidak heran jika masyarakat di pelosok itu terbelakang dan sulit untuk maju. Jika mereka ingin lebih maju, mereka harus menempuh pendidikan di kota dan mencari banyak referensi terlebih dahulu di sana sebelum membangun daerahnya.
Semua alasan ini menjadikan minat baca rakyat Indonesia menurun karena mereka tidak terbiasa dengan aktivitas membaca dan menulis. Setelah ini berlangsung lama, maka tidak heran jika masyarakat Indonesia cenderung malas membaca. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka Indonesia akan sulit untuk menjadi negara maju dan terus-menerus berada dalam kebodohan.
Inilah fakta yang kita hadapi dalam negeri yang dengan bangga mengemban ideologi kapitalis. Negara menjadi abai terhadap pendidikan rakyatnya, hanya untuk menyediakan fasilitas untuk membaca pun mereka tidak mampu. Untung dan rugi selalu menjadi tolok ukur kebijakan yang dibuat. Pembangunan jalan tol, pabrik, perkebunan dan tempat lain yang menghasilkan uang begitu dikebut meskipun harus mengandalkan investasi. Tapi membangun perpustakaan, memperbaiki sekolah, melengkapi fasilitas belajar tidak mendapatkan perhatian besar.
Berbeda dengan negeri yang berasaskan Islam dalam setiap kebijakannya, hal seperti ini tidak akan terjadi. Mengurus urusan umat sudah menjadi kewajiban para pemimpin di negeri ini. Pendidikan juga menjadi aspek terpenting yang diperhatikan. Buktinya banyak peninggalan bersejarah yang menunjukkan betapa Islam mementingkan ilmu dan pendidikan. Contohnya adalah dibangunnya perpustakaan yang megah dan lengkap koleksinya seperti Baytul Hikmah di Baghdad, perpustakaan Dinasti Fatimiyyah di Mesir, dan perpustakaan Kordoba milik Dinasti Umayyah.
Dalam dunia Islam juga dikenal lima macam perpustakaan diantaranya perpustakaan akademi, perpustakaan khusus, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah dan perpustakaan mesjid-universitas. Selain kelima jenis itu para ilmuwan, cendekiawan serta para penguasa juga tidak ketinggalan dalam membuat perpustakaan pribadi. Karena Islam sangat mencintai ilmu maka kebutuhan pada buku menjadi sesuatu yang sangat penting. Maka mereka tidak segan untuk membeli buku hingga jumlahnya melimpah.
Allah Swt. berfirman dalam Q.S al-‘Alaq ayat 1-5 yang artinya:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia. Yang mengajar dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Berdasarkan ayat tersebut membaca atau belajar itu adalah perintah Allah Swt. yang bernilai pahala bagi mereka yang melakukannya. Maka tidak heran jika seorang muslim sejati akan gemar membaca dan belajar karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk cara meraih ridla-Nya.
Negara juga akan berusaha keras untuk menyediakan fasilitas yang mendukung rakyatnya gemar membaca. Rakyat pun tidak akan pelit mengeluarkan uang untuk membeli buku, karena kebutuhan primer mereka seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan sudah dicukupi oleh negara.
Hal ini mungkin saja dilakukan karena kas negara yang berasal dari pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah dikelola sendiri dan hasilnya diberikan untuk kebutuhan warga negara, bukan justru diserahkan pada pihak swasta atau asing. Dengan spirit dan sistem inilah kaum muslim bisa maju dalam ilmu pengetahuan dan akhirnya kemajuan peradabannya pun tidak bisa terelakkan. Namun kedua hal tersebut selamanya tidak akan pernah mampu diwujudkan dalam sebuah sistem bernama kapitalis, melainkan hanya dapat terwujud dalam negara berasaskan Islam yaitu khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah.
Wallaahu a’lam bish shawwab.

About Post Author