04/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Penerapan Islam Kafah: Melindungi Agama dan Hak Warga Negara

Oleh : Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan oleh pernyataan dari Bapak Menteri Agama yang baru hasil Reshuffle. Yaqut Sholil Qoumas, yang mengklaim dirinya sebagai menteri semua agama mengatakan, pemerintah akan mengafirmasi hak beragama warga Ahmadiyah dan Syiah di Indonesia. Menurutnya, ia tidak ingin ada kelompok beragama yang terusir di kampung halaman mereka karena perbedaan keyakinan. Mereka adalah warga negara yang harus dilindungi. Pernyataan kontroversialnya ia sampaikan sehari usai dilantik Presiden Joko Widodo pada Kamis, (24/12). (cnnindonesia.com, 29/12/2020)

Dalam sistem demokrasi yang diterapkan saat ini, perbedaan suku, ras, dan agama selalu menjadi masalah. Begitu juga, merebaknya berbagai aliran kepercayaan, kerap menimbulkan konflik yang terus-menerus, yang entah sampai kapan selesainya. Ironisnya, ketidakadilan ditampilkan secara vulgar di depan mata. Kelompok yang nyata-nyata menyimpang dilindungi, sementara rakyat yang tidak bersalah dipersekusi bahkan dipidanakan hanya karena membela keyakinannya yang bersumber dari Al-Quran dan Sunah.

Berbeda dengan Islam. Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt. melalui Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam. Syariat Islam datang untuk mengatur kehidupan manusia dengan seluruh interaksinya. Dipastikan ketika aturan ini dilaksanakan secara kafah maka akan terwujud kebahagiaan bagi manusia dan harmoni bagi seluruh alam.

Wujud kerahmatan Islam ini, hanya bisa tampak dan dirasakan manakala ajarannya diterapkan oleh negara. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang bisa menerapkan hukum-hukum Allah Swt. secara hakiki. Umat, baik secara individu dan jamaah, akan terlindungi dari segala upaya yang ingin melecehkan ajaran Islam. Satu-satunya agama yang diridai Allah Swt.

Bukti yang nyata, bisa kita lihat di awal berdirinya negara Islam di Madinah, sampai runtuhnya kekhilafahan terakhir di Turki tahun 1924. Saat itu di Madinah, hidup beberapa komunitas yang berbeda yakni Islam, Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Mereka hidup rukun di dalamnya selama 13 abad. Semua warga negara diperlakukan sama, asalkan mereka kedudukannya sebagai kafir dzimmi. Umat Islamlah yang mengenalkan dan mempratekkan toleransi yang hakiki. Pengakuan Islam terhadap pluralitas masyarakat ini tidak lepas dari ajaran Islam yang agung.

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam).” (TQS. Al-Baqarah [2]: 256)

Seorang orientalis dan sejarawan Kristen, T.W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam A History of the Propagation of the Muslim, telah memberikan pujian terhadap toleran dalam Khilafah, beliau mengatakan:

“Perlakuan terhadap warga kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak pernah dikenal di daratan Eropa.”

Khilafah juga memberlakukan sanksi yang tegas bagi siapa saja yang melakukan pelanggaran. Seorang Muslim tidak boleh meninggalkan Islam alias murtad. Orang Islam yang murtad, mengaku sebagai nabi, atau menistakan Islam dan syariahnya akan dibunuh.

“Siapa saja yang murtad dari agamanya, bunuhlah!” (HR. at-Tirmidzi)

Sanksi inilah yang akan menjadi penjaga bagi seluruh kaum muslimin. Sekaligus akan memberikan efek jera bagi pelakunya. Pemurtadan akan berhadapan dengan instrumen negara yang kokoh. Dalam Khilafah tak akan ada orang murtad yang ingin menularkan virus kemurtadannya, seperti yang terjadi hari ini. Bersamaan dengan itu, khilafah akan mengajarkan akidah Islam kepada seluruh warga negara melalui jalur pendidikan dan media massa.

Penjagaan khilafah yang luar biasa ini, tidak akan memungkinkan munculnya Ahmadiyah, Syiah, dan aliran sesat lainnya. Mereka tidak akan hidup dan menyebarkan aliran sesatnya seperti sekarang. Apalagi menjaga mereka dengan alasan melindungi hak warga negara, padahal ajaran mereka telah menyimpang dari Islam. Khilafah pasti akan menghentikannya dan menghabisi ajarannya sampai ke akar-akarnya.

Termasuk, khilafah juga tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi pemikiran Barat (liberalisme, sekularisme, pluralisme, dan kapitalisme) berkembang di dalam negara khilafah yang masuk melalui dunia pendidikan.

“Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa luar biasa, penjagaan khilafah pada agama dan orang yang menjadi warga negaranya. Mereka akan terhindar dari hal-hal yang bisa merusak akidahnya. Semoga Allah Swt. menyegerakan tegaknya khilafah dengan perjuangan kita. Agar hidup mulia, terjaganya agama, dan kenyamanan akan kita rasakan. Sebaliknya sistem demokrasi yang sekarang mendominasi akan segera hancur, tenggelam dalam lumpur peradaban.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author