06/10/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Ganjaran Menjerakan Untuk Predator Seksual

Oleh: Rina Tresna Sari, S.Pd.I
Praktisi Pendidikan dan Member AMK

Akhir-akhir ini, kekerasan seksual dan pedofil pada anak-anak di Indonesia semakin meningkat. Bahkan banyak pula terjadi kasus pemerkosaan.

Karenanya, mau tidak mau pemerintah Indonesia bakal memberlakukan hukuman kebiri. Hukuman yang sudah banyak diterapkan di negara-negara lain, dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rahabilitasi, dan Pengumuman Idendtitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak(PP Kebiri Kimia).

Namun, pemberlakuan hukuman kebiri ini menuai pro dan kontra diantaranya disampaikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang berharap PP ini dapat memberikan efek jera bagi para pelaku. Deputi Perlindungan Anak Kemen PPPA, Nahar mengatakan, kekerasan seksual terhadap anak harus ditangani secara luar biasa. Salah satunya dengan kebiri kimia terhadap para pelaku yang dinilai telah merusak masa depan bangsa Indonesia. (kompas.com, 4/1/2021).
Namun di pihak lain, Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Erasmus A.T. Napitupulu, menyebut PP ini memuat banyak masalah. Seperti tidak detail dalam mekanisme pengawasan, pelaksanaan, dan pendanaannya.

Menurutnya, bagaimana kalau ternyata setelah kebiri, terpidana dinyatakan tidak bersalah atau terdapat peninjauan kembali? Kemudian, pelaksanaan kebiri membutuhkan sumber daya dan mahal. (bbc.com, 4/1/2021).

Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) belum bersikap dan mengaku bakal mencari jalan tengah merespons terbitnya PP ini. Ketua Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) IDI, Nazar, mengaku heran ada aturan yang mengatur dokter menjadi pelaksana tindakan kebiri kimia. Sebab, terang dia, perlakuan itu bertentangan dengan kode etik dan sumpah dokter. (cnnindonesia.com, 5/1/2021).

Terlepas dari pro dan kontra terhadap PP kebiri kimia ini, terjadinya berbagai pelecehan seksual dan kekerasan seksual terhadap anak yang makin hari makin menyesakkan dada ini. Merupakan buah pahit ide liberalisme yaitu ide kebebasan berpendapat dan kebebasan bertingkah laku, yang diadopsi di negara kita tercinta ini.
Liberalisme dengan ide kebebasannya membuat prilaku mengumbar aurat, pornoaksi-pornografi, campur baur laki-laki dan perempuan, bermesraan di tempat umum menjadi tontonan sehari-hari. Terlebih era digital sekarang, kemaksiatan mudah menyebar.

Karenanya prilaku pelecehan seksual dan pedofil pada anak akan terus terjadi selama ide liberalisme ini bercokol di negara kita.

Berbeda dengan ajaran Islam yang tegas mengharamkan perilaku bebas. Mengutip Taqiyuddin an Nabhani dalam Nizham Ijtima’i fil Islam, Islam mengharamkan perzinaan dan hal-hal yang mendekatinya, juga mengatur kewajiban menutup aurat, melarang pacaran dan khalwat (berdua-duaan) laki-laki dan perempuan, serta ada larangan bermesraan di tempat umum.
Islam juga melarang komunikasi yang tidak ada kebutuhan syar’i antara laki-laki dan perempuan, mewajibkan menundukkan pandangan, serta melarang campur baur laki-laki dan perempuan.

Allah Swt. berfirman,
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra : 32).

Tanpa Islam, Perilaku Menyimpang Marak

Karenanya, selama peraturan Islam tidak diterapkan, maka pelecehan seksual dan pemerkosaan tidak akan berhenti. Tidak adanya peraturan yang mewajibkan menutup aurat, mengharamkan pornografi dan pornoaksi, berdua-duaan laki-laki dan perempuan, mengharamkan pacaran dan campur baur laki dan perempuan, haram mendekati zina, perzinaan, homoseksual, dan lesbian, maka pelecehan dan kekerasan seksual tetap ada.

Hal ini karena pemenuhan kebutuhan seksual itu dorongannya muncul dari luar diri seseorang. Sementara hal-hal yang merangsang pemenuhan kebutuhan seksual, justru semakin marak dipertontonkan terutama media, semakin merangsang untuk memenuhi kebutuhan seksual,
Sanksi bagi Pelaku dalam Sistem Islam
Islam tegas mengharamkan perilaku bebas, berzina ataupun mendekati zina, memperkosa/pelecehan seksual, sekalipun semua itu suka sama suka. Dengan memberikan sanksi yang membuat jera para pelaku dan mencegah bagi yang lain. Ini sesuai perkataan Abdurrahman al Maliki, dalam Sistem Sanksi dalam Islam,
Sanksi bagi pemerkosa atau pelaku pelecehan seksual yang sampai menzinai, dibedakan menjadi dua.
Pertama, sanksi bagi pezina dan pemerkosa yang belum menikah. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik dalam kitab Muwatha’ pelaku wajib dicambuk 100 kali cambuk dan boleh diasingkan selama satu tahun, serta memberikan “mahar” (denda) yang diberikan kepada korban.

Sesuai firman Allah,
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nur : 2).

Sedangkan bagi pezina dan pemerkosa yang belum menikah dan melakukannya disertai ancaman serta menakut-nakuti, maka wajib dicambuk 100 kali cambuk dan boleh diasingkan selama setahun serta dipenjara selama tiga tahun. Jika disertai penganiayaan yang melukai tubuh korban, pelaku didenda sesuai jenis penganiayaan dan dendanya diberikan kepada korban.
Kedua, bagi pezina atau pemerkosa yang sudah pernah menikah dan melakukannya disertai ancaman dan menakut-nakuti, maka pelaku wajib dihukum rajam sampai mati. Jika disertai penganiayaan yang melukai tubuh korban, pelaku sebelum dihukum mati, didenda sesuai dengan jenis penganiayaan dan dendanya diberikan kepada korban. Demikian pula bagi pezina yang sudah menikah maka harus dirajam hingga mati.

Demikian Islam, tegas memberi sanksi bagi para pelaku penyimpangan seksual yang membuat pelaku jera untuk melakukan perilaku tersebut, karenanya sudah saatnya kita kembali kepada aturan Allah Swt., sebagai Rabb yang menciptakan manusia yang mengetahui titik jera manusia.
Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author