30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Runtuhnya Kapiltalisme Ala Amerika dan Momentum Positif Bagi Indonesia

RUNTUHNYA KAPITALISME ALA AMERIKA DAN MOMENTUM POSITIF BAGI INDONESIA
Oleh : Mas Hendrajit

Buntut dari serbuan para perusuh sosial di gedung Capitol Hill AS. Menurut saya ini Amerika bukan sekadar sedang menuai karmanya sendiri akibat ulahnya sebagai polisi dunia maupun klaimnya sebagai primadona demokrasi.
Apa yang barusan terjadi di gedung kongres di Washington itu kalau orang jawa bilang semacam bahasa Sanepo. Bayangkan saja. Nancy Pelosi ketua DPR-nya AS yang pada 2019 menyemangati demonstran Hongkong supaya makin gencar aksinya. Eh sekarang kantor Nancy malah diserbu perusuh.

Namun bahasa Sanepo Tuhan ini bukan sekadar mau menuai karma perbuatan Amerika di pelbagai belahan dunia, melainkan juga menurut saya sedang mengisyaratkan bahwa sistem demokrasi ala neoliberalisme yang sedang dikembangkan di Eropa dan AS sekarang sedang nggak beres disistemnya. Jadi Ulah Trump cuma katalisator yang boleh jadi akan mempercepat pentingnya menciptakan tata ulang. Prakondisi menuju ke tata ulang dunia baru oleh para penggerak kapitalisme global berbasis korporasi ini memang sudah digelar.

Baru baru ini Lynn Forester de Rothschid memprakarsai gerakan Council of Inclusive Capitalism bersama jaringan World Economic Forum. Tema yang mulai didengungkan: GLOBAL RESET. Berarti kan yang mau ditata ulang itu sistem kapitalismenya. Nggak ada kaitan sama sekali dengan hajatan rakyat banyak. Mungkin karena mereka sudah menyadari sistem neolib yang menopang sistem demokrasi AS maupun Eropa Barat, mulai lapuk dan kropos.
Apalagi dengan momentum kebangkitan populisme baik kanan maupun kiri yang menyadarkan adanya jurang yang makin menganga antara rakyat dan oligarki.

Meski tata ulang, buat saya gerakan yang menggunakan frase inclusive capitalism ini saja sudah mengkhawatirkan. Selama ini kapitalisme ekslusif saja sudah bikin kerusakan meluas gimana kalau inklusif. Artinya, agenda menata ulang dunia ini patut kita curigai hanya bermaksud menata ulang para kapitalis global supaya semakin kuat dan terkonsolidasi kekuatannnya ke depan.

Dari fakta ini, rusuh sosial nyerbu gedung Kongres nggak bisa dibaca secara sederhana semata sebagai kerjaan para pendukung Trump yang nggak mau move on dengan kekalahan Trump. Justru social riot yang berkembang dengan menyerbu gedung DPR dan senat di Capitol Hill ini seakan sebagai bentuk kemarahan pendukung Trump yang nggak mau move on, merupakan cipta kondisi yang tersamar untuk memberi alasan para globalis mendesakkan suatu tata ulang dunia baru. Terutama tata ulang ekonomi dunia baru.

Bagi kita di Indonesia, kita harus bisa menginspirasi para founding fathers kita saat menghadapi peralihan antara kekalahan Jepang pada 1945 menuju Indonesia merdeka. Artinya, boleh saja dunia internasional, utamanya negara-negara imperialis punya agendanya sendiri, namun harus jadi momentum menguntungkan bagi bangsa kita untuk bangkit dengan agenda dan cara kita sendiri. Ini adalah tugas seluruh elemen bangsa. Bukan Tugas Jokowi, bukan tugas Prabowo, bukan tugas para kartel-oligarki, apalagi para petugas pemerintahan maupun parlemen.

Catatan Diskusi JumaTan ForJIS, G49 8 Jan’ 2021.

About Post Author