29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Kesukuan Ikatan Temporal Rentan Bentrokan

Oleh: Faizatul Adnin
Member AMK

Mesuji….
Alam elok nan indah mewarnai
Menyimpan berbagai kekayaan negeri
Namun….
Keindahan tak sejalan mengiringi
Tragedi berulang kali terjadi
Darah segar membasahi lagi dan lagi
Kami butuh pelindung sejati
Yang mampu mendamaikan kami
Dan menyatukan kami

Dilansir dari Republika.co.id Mesuji Lampung kembali bersimbah darah tepatnya di Kecamatan Rawajitu Utara, pada hari Selasa tanggal 29 Desember 2020 petang. Seorang diberitakan meninggal dunia saat dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Menggala, warga dilaporkan saling bacok menggunakan senjata tajam. Bentrokan terjadi antara warga desa Sungai Sidang, Rawajitu Utara, dengan warga desa Sidang Way Puji.

Awal mula warga Sungai Sidang mendatangi sawah yang dianggap sengketa, tetapi warga Sidang Way puji sedang melakukan tanam padi di sawah tersebut.

Lalu terjadi cekcok mulut antara warga Sungai Sidang dan warga Way Puji yang berujung tembakan api yang membuat warga Way Puji yang sedang tanam padi berhamburan melarikan diri.

Lalu warga Sungai Sidang mengejar warga Sidang Way Puji, kemudian membacoknya, yang akhirnya warga Sungai Sidang tersebut di kejar massa warga Way Puji hingga kritis lalu meninggal dunia saat akan di perjalanan menuju RSUD Menggala.( Republika.co.id 29/12/20 )

Mesuji adalah wilayah pemekaran Tulang Bawang yang dianggap wilayahnya terlalu luas dan jauh dari dari pusat pemerintahan, maka Mesuji dipecah menjadi kabupaten sendiri dengan kurang lebih 59 desa dibawah pemerintahannya. (Mesujikab.go.id)

Mesuji dibagi menjadi dua: Mesuji Sumatera dan Mesuji Lampung. Dua wilayah ini dulunya berupa hutan belantara dan termasuk hutan lindung di dalamnya. Pada masa Orde Baru Rimba ini mendapatkan Hak Pengelolaan Hutan (HPH) dan hak Guna Usaha (HGU) yang kemudian dijadikan perkebunan sawit.

Ketika dinasti Orde Baru tumbang pada tanggal 22 Mei 1998, bentrokan demi bentrokan terus terjadi. Dua masyarakat adat saling menuntut hak atas hutan yang diklaim milik negara.
Lama kelamaan polemik berkembang menjadi gesekan antara kelompok warga, diperparah pendatang yang juga merasa berhak mengolah kawasan tersebut.(tirto.id, 19/7/19)

Sejak saat itu Mesuji bersimbah darah berkali-kali. Akar masalahnya adalah ketika pemikiran manusia mulai menyempit, mereka hidup bersama juga tinggal bersama di suatu wilayah tanpa beranjak ke tempat lain, maka pada saat itu rasa ingin mempertahankan diri dan tempat di mana mereka hidup serta menggantungkan hidupnya.

Inilah ikatan temporal yang memecah belah umat (sukuisme), ikatan rendah yang lahir dari sistem rusak sekularisme demokrasi. Sifat emosionalnya tinggi dan spontan karena ingin mempertahankan diri ketika ada yang mengusik, atau hendak mengambil lahan tempat mereka menggantungkan diri. Inilah yang terjadi di wilayah bagian Mesuji dan beberapa wilayah lainnya.

Rasa fanatisme, pemikiran yang sempit membuat mereka dikuasai hawa nafsu dalam membela anggota suku terhadap suku yang lain. Mutu ikatannya rendah antara satu manusia dan manusia lainnya. Emosional berdasarkan perasaan spontan dari keinginan membela diri yang selalu berambisi ingin berkuasa.

Ikatan kesukuan rentan menimbulkan pertentangan dan perselisihan karena memperebutkan kekuasaan atau kepemilikan.

Warga yang selalu mengatasnamakan kesukuan hendaknya segera menghapuskannya dan beralih pada ikatan sahih menurut Islam yaitu berdasarkan akidah Islam, yang terbukti tidak hanya mampu menyatukan antara suku, tetapi antara bangsa-bangsa dan lintas negara. Sejarah telah membuktikan bahwa Islam mampu menyatukan dua pertama dunia yang lebih beragam dan kompleks.

Akidah Islam dibangun berlandaskan akal yang mewajibkan setiap muslim untuk mengimani Allah, kenabian Muhammad Saw, Al Qur’anul kariim sebagai mukjizat dengan sepenuh hati.

Allah SWT berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, maka menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (TQS. Ali Imran (3): 103)

Prinsip terbesar agama yaitu persatuan umat. Perpecahan yang telah lama menggerogoti umat, perselisihan, bentrokan, sampai pertumpahan darah demi mempertahankan lahan hanya dapat diselesaikan dengan di terapkannya sistem Islam.

Sistem Islam adalah sistem terbaik dan sempurna dalam segi pengaturannya, karena aturan dalam Islam adalah aturan yang didesain oleh Allah Swt. Al- Khaliq Al-Mudabbir, Maha Pencipta sekaligus Maha Pengatur.

Segala aturan Allah mustahil akan merugikan manusia satu atau lainnya, justru aturan Islam akan memberikan kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan hidup. Karena Islam adalah rahmatan lil a’lamiin, bukan hanya untuk orang-orang Islam saja, tetapi orang-orang nonmuslim bahkan seluruh alam dan lingkungan pun akan merasakan kasih sayang dan kedamaian dari Islam. Hal ini dicontohkan Rasulullah Saw dan diteruskan oleh para sahabat serta saat khilafah Islam tegak.

Rosulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal…” (HR.Muslim)

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author