25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Islam Itu Inspirasi, Aspirasi, dan Solusi (Tak Butuh Moderasi)

Oleh: Silmi Dhiyaulhaq, S.Pd
Praktisi Pendidikan

Serangan terhadap ajaran Islam terjadi lagi. Kali ini ungkapan bahwa Islam harus dijadikan sebagai inspirasi, bukan aspirasi. Gagasan moderasi Islam ini kembali diaruskan di tengah semakin menguatnya kesadaran dan kecintaan umat terhadap agamanya. Gagasan ini menempatkan agama bukan sebagai asas kehidupan bagi seorang muslim, melainkan diambil nilai-nilai substansinya semata. Apabila seorang muslim berpegang teguh pada agamanya, dianggap dapat memunculkan permusuhan dan perpecahan di tengah masyarakat. Lebih menyakitkan lagi, dituduh sebagai radikalis dan teroris.

Sesungguhnya, mengenai moderasi Islam ini dapat kita lihat dalam laporan Rand Corporation berjudul Building Moderate Muslim Network yang terbit tahun 2007, yang menyebutkan karakter muslim moderat adalah muslim yang mendukung demokrasi dan pengakuan internasional atas hak asasi manusia, kesetaraan gender, kebebasan beribadah, menghargai keberagaman, menerima sumber hukum nonsektarian (nonagama), menentang terorisme, dan semua bentuk kekerasan–sesuai tafsiran Barat-.
Sehingga seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai muslim moderat akan sangat inklusif dan toleran. Ia akan menolak pemberlakuan syariat Islam secara totalitas, membiarkan penyimpangan akidah maupun syariat, tidak mendiskriminasi pelaku maksiat, menganggap Islam tak ada beda dengan aturan lain, menentang Islam politik Negara Islam, khilafah dan jihad sekalipun ia menjalankan ibadah mahdhah (salat, puasa, zakat, dll) dan menghiasi diri dengan berbagai sifat akhlak mulia seperti dermawan, baik hati, jujur, dsbnya.

Amerika Serikat (sebagai representatif Barat) telah mendesain jaringan muslim moderat ini untuk memenangkan pertarungan ideologi antara Islam (politik) dan kapitalisme. Cheryl Benard –peneliti RAND Corporation- dalam pembukaan Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies (2003) menyebutkan bahwa dunia Islam harus dilibatkan dalam pertarungan tersebut dengan menggunakan nilai-nilai (Islam) yang dimilikinya. Amerika Serikat harus menyiapkan mitra, sarana dan strategi demi memenangkan pertarungan. Dan mitra yang sangat potensial tersebut adalah kaum sekuleris, muslim liberal, muslim tradisionalis, akademisi, intelektual muslim liberal, aktivis komunitas, kaum perempuan, jurnalis, penulis dan komunikator lainnya.

Mengenai permasalahan ini, sebagai seorang muslim haruslah meyakini bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Mereduksi ajaran Islam, mengobok-obok ajaran Islam, jelas merupakan kelancangan dan layak mendapatkan azab dari Allah Swt bagi siapa saja yang enggan bertobat menghentikan perbuatannya.

Betul, sejatinya Islam adalah agama inspirasi. Dalam KBBI arti inspirasi adalah Ilham. Berarti Islam adalah ilham yang datang langsung dari zat yang maha kuasa yakni Allah SWT. Islam adalah cahaya, yang telah terbukti mampu mengubah peradaban manusia. Dari peradaban hina menjadi peradaban mulia. Mengubah perpecahan menjadi satu kesatuan yang kokoh yang diikat oleh akidah.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (TQS Ali Imran : 103)

Ayat ini juga memastikan siapa saja manusia yang mengambil inspirasi dari Zat Pemilik alam semesta, merekalah manusia yang benar dengan sebenarnya. Adapun manusia yang mengabaikan Tuhannya, mereka pasti masuk dalam jurang kesesatan.
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berpaling dari-Nya, sedangkan kalian mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kalian menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata, ‘Kami mendengar­kan,’ Padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedangkan mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (TQS al Anfal: 20-23)

Selain inspirasi, Islam juga merupakan aspirasi. Setiap aspirasi yang bersumber dari dalil-dalil syariat adalah legal dan konstitusional. Dalam Islam, ayat suci wajib di atas ayat konstitusi. Adapun mengangkangi ayat suci, merupakan kedurhakaan kepada Allah Swt dan layak mendapatkan sanksi. Sebab freedom of thinking hakikatnya adalah racun bagi kehidupan manusia yang berperadaban.

Oleh karena itu, merupakan suatu kesalahan besar menyejajarkan aspirasi Islam dalam kehidupan politik dan pemerintahan sebagai konspirasi menghancurkan kekuasaan yang sah. Hanya kejahilan pemimpin Quraisy saja yang menuduh aspirasi politik Nabi Muhammad Saw. untuk meletakkan kedaulatan hanya milik Asy Syari’ (Allah) sebagai bentuk konspirasi menghancurkan Makkah dan memecah belah bangsa Arab. Maka, umat Nabi Muhammad saw. harus melek sirah dan tarikh Islam yang telah mengajarkan keunggulan politik Islam agar tidak dibodohi oleh para pemuja dunia.

Selama puluhan tahun tak ada persoalan dengan agama di negeri ini, khususnya Islam sebagai agama dengan pemeluk mayoritas. Baru beberapa tahun belakangan saja dimunculkan isu seolah-olah agama (Islam) atau seruan dan kajian keislaman menjadi pemicu radikalisme, perpecahan, dsb.
Padahal radikalisme bukanlah persoalan inheren dalam Islam. Isu atau tuduhan radikalisme lebih merupakan framing dari pihak luar untuk menyudutkan Islam atau menghalangi geliat umat Islam dan kebangkitan mereka. Bisa diduga, tujuan akhir dari isu radikalisme itu adalah untuk makin menjauhkan Islam dari kehidupan. Dengan itu Islam dan umat Islam tidak menghalangi-halangi agenda liberalisme dan penjajahan Barat.

Itu persis seperti dulu penjajah Belanda menggunakan term radikalisme untuk menyudutkan siapa saja—kebanyakan dari kalangan umat Islam—yang menentang penjajahan Belanda.

Begitu pun sekarang ini. Isu radikalisme awalnya dimunculkan dan terus dinyanyikan oleh Barat. Ini seiring dengan mulai tampaknya kebangkitan umat Islam dan penolakan mereka terhadap ideologi kapitalisme dan liberalisme serta penjajahan Barat. Lalu isu radikalisme itu disuntikkan ke tubuh kaum muslim di berbagai negeri Islam dengan berbagai jalan dan cara. Akhirnya, isu radikalisme ini pun dinyanyikan dan dimainkan oleh mereka yang secara sadar ataupun tidak menjadi agen Barat.

Tuduhan Islam menjadi penyebab perpecahan dan persoalan juga hanya sekadar tuduhan tanpa bukti. Kekisruhan politik yang ada tidak pernah terbukti disebabkan oleh Islam. Faktanya, tak jarang kisruh diakibatkan oleh proses demokrasi, kecurangan dan persaingan memperebutkan kekuasaan yang menggunakan cara-cara machiavelis. Banyaknya korupsi juga tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam. Sudah banyak sekali ahli yang mengatakan, maraknya korupsi di antara faktor utamanya adalah proses demokrasi yang mahal.

Adanya ketimpangan antara warga dan antardaerah. Rakyat tidak merasakan kemakmuran dari melimpahnya kekayaan alam. Makin menggunungnya utang negara. Makin kuatnya cengkraman asing dan kapitalis serta adanya segudang problem ekonomi. Semua itu pun bukan karena Islam, tetapi justru karena penerapan sistem di luar Islam, yakni kapitalisme-liberalisme. Artinya, berbagai kerusakan yang terjadi itu bukan karena Islam, tetapi justru karena penerapan sistem selain Islam, dengan meninggalkan Islam dan syariahnya.

Fakta-fakta sudah jelas menunjukkan yang demikian. Allah Swt pun sudah memperingatkan kita dalam firman-Nya:
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta…” (TQS Thaha [20]: 124).
Makna, “berpaling dari peringatan-Ku” adalah menyalahi perintah-Ku dan apa saja yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, V/323).

Berbagai kerusakan yang terjadi itu tentu mendatangkan akibat buruk bagi masyarakat secara keseluruhan. Sejatinya itu baru sebagian dari akibat kerusakan yang disebabkan manusia berpaling dari Islam dan syariahnya. Allah Swt menimpakan sebagian dari akibat kerusakan itu agar manusia bertobat dengan kembali pada Islam dan syariahnya. Allah Swt berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS ar-Rum [30]: 41).

Dari paparan di atas, umat saat ini perlu disadarkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaannya hanya akan menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) bila syariatnya diterapkan secara kafah. Inilah jaminan kebahagiaan umat manusia di dunia maupun di akhirat. Sungguh umat tak butuh moderasi, juga pemikiran kufur dan rusak lainnya. Tak hanya itu, umat juga perlu disadarkan bahwa penerapan syariat Islam secara keseluruhan tak mungkin dilakukan dalam sistem bermasyarakat dan bernegara hari ini.

Jangankan keseluruhan, sebagian saja aturan Islam ini diformalkan (dijadikan perda syariah misalnya) langsung lisan-lisan para pembenci Islam menyerangnya. Sungguh, demikianlah kondisi umat ketika khilafah tak ada. Maksiat dipermudah, menjalankan syariat terasa berat. Tapi itu tak akan lama. Secara sunatullah, kebenaran (al-Haq) itulah yang akan menang. Demikianlah janji Allah SWT dalam firman-Nya, “Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (QS Al Anbiya [21]: 18).

Maka, generasi Islam butuh seperangkat pemahaman sahih dan lengkap tentang Islam kafah, agar upaya melawan arus moderasi Islam tidak menjatuhkan generasi pada sikap defensif apologetic.

Wallahu’alam bishshawab.

About Post Author