30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Islam : Solusi Tepat Mengatasi Banjir


Oleh: Lafifah (Ibu Rumah Tangga dan Pembelajar Islam Kafah)

Bukan tidak ada angin dan tidak ada hujan, tetapi inilah kenyataan setiap kali di musim hujan akan selalu ada wilayah yang terdampak banjir, khususnya Kab. Bandung yang intensitas terdampaknya semakin meluas dari tahun ke tahun, apa penyebabnya? Mungkinkah karena sungai sebagai tempat penampung air sudah mulai dangkal sehingga ketika di musim penghujan sungai sudah tidak cukup untuk menampung air.

Seperti yang dilansir oleh DARA–Menurut Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bandung, Akhmad Djohara, pihaknya sudah menurunkan tim assessment ke lokasi Sungai Cikeruh untuk mengetahui seperti apa kondisinya saat ini.

“Hasilnya sudah dilaporkan ke saya. Jadi hal ini atas dorongan dari masyarakat dan pemerintahan kewilayahan disana, sehingga ini memang harus menjadi program prioritas,” ujar Ajo, panggilan akrab Akhmad Djohara di ruang kerjanya, Selasa (5/1/2021).

Kutipan pernyataan kepala pelaksana BPBD Kab. Bandung sungguh sangat menggelitik, betapa terlihat sangat lamban dalam menangani kemungkinan-kemungkinan penyebab adanya banjir, mengapa harus menunggu terlebih dahulu laporan warga mengenai kedangkalan sungai yang sebenarnya sudah sangat lama pendangkalan nya.

Sungai Cikeruh adalah sungai penghubung dan penampung air hujan yang sumber debit airnya bukan hanya dari wilayah Bandung saja tetapi sebagian wilayah Sumedang, yang pembuangan airnya ke sungai Cikeruh.
Banjir di kota Bandung sudah menjadi langganan tiap tahun. Bahkan setiap tahunya semakin bertambah parah, sehingga banyak kalangan berpendapat salah satu penyebab dari semakin parahnya genangan banjir di wilayah Bandung adalah karena adanya proyek kereta cepat CISUMDAWU (Cileunyi, Sumedang dan Dawuan)

Wali kota Bandung Oded M Danial juga menyinggung kereta cepat sebagai penyebab banjir Gedebage semakin parah. Bahkan Bupati Bandung Barat, Aa Umbara pun sempat mengultimatum PT KCIC sebagai pengembang proyek kereta cepat, karena penyebab proyek itu yang mengakibatkan banjir di Cimareme, di wilayahnya.

Semua tampak jelas penyebab dari bencana banjir yang seperti tidak menemukan solusinya, karena sistem yang di terapkan bukan lah dari Islam semua hanya mengarah kepada kepentingan pemilik modal.

Para kapitalis dengan modal besarnya mampu menguasai lahan untuk keuntungan mereka tanpa memperhatikan akibatnya. Seperti kereta cepat, pembangunan perumahan di daerah persawahan dan rawa, pengerukan sumberdaya alam besar-besaran (SDA).

Allah berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raaf [7] : 96).
Islam memberikan solusi untuk banjir
Pada kasus banjir yang disebabkan karena keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan air, baik akibat hujan, gletsyer, rob, dan lain sebagainya. Maka dibangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan, dan lain sebagainya.

Memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air, selanjutnya membuat kebijakan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah-wilayah tersebut. Jika ada pendanaan yang cukup, akan dibangun kanal-kanal baru atau resapan agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa di alihkan alirannya, atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal.

Selain itu juga membangun sumur-sumur resapan dikawasan tertentu, sumur-sumur ini selain untuk resapan, juga digunakan untuk tandon air yang sewaktu-waktu bisa di gunakan, terutama jika musim kemarau atau paceklik air. Dan membuat kebijakan tentang master plan. Dalam kebijakan pembukaan pemukiman atau kawasan baru, harus menyertakan fariabel-fariabel drainaes. Penyediaan daerah serapan air, penggunaan tanah sesuai karakteristik tanah dan topografinya. Dengan kebijakan ini, negara mampu mencegah kemungkinan terjadinya banjir atau genangan.

Inilah kebijakan negara dalam Islam untuk mengatasi banjir. Kebijakan tersebut tidak saja didasarkan pada kebijakan-kebijakan rasional, tetapi juga disanggah oleh nash-nash syariat. Dengan kebijakan ini insyaallah, masalah banjir bisa ditangani dengan tuntas.

Semua penanganan banjir itu tentu memerlukan ketegasan aturan dan memakan banyak biaya. Islam punya solusi atasi itu, yakni salah satunya dari pengelolaan sumber daya alam oleh negara yang hasilnya dikembalikan untuk kepentingan warga negara, terutama dalam menangani masalah banjir ini.

Wallahu a’alam bissawab.

About Post Author