09/03/2021

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Mau Dibawa Kemana Generasi Unggul Negeri ini?

Oleh: Leihana
(Ibu Pemerhati Pendidikan dan Keluarga)

Masa depan 10 tahun mendatang sebuah negeri bisa dilihat dari kualitas generasi muda saat ini. Oleh karena itu, Indonesia masih memiliki banyak harapan besar di masa mendatang, karena generasi muda saat ini yakni kaum millenial masih banyak yang berkualitas unggul. Unggul bukan hanya berarti dapat berkompetisi di pasar global tapi justru unggul siap membangun negeri dalam segala aspek kehidupan. SDM muda Indonesia bukan hanya tak kalah saing dari SDM asing tapi juga memiliki kompetensi para ahli yang akan menampung berbagai kebutuhan pembangunan dalam negeri. Ada banyak para siswa dan mahasiswa yang memiliki potensi menjadi ahli sains, ahli perindustrian, ahli bidang perekonomian bahkan politik pemerintahan.

Namun, sayang seribu sayang potensi emas generasi unggul ini menjadi bagian politik dagang sapi pemerintah, semua potensi emas ini terus diarahkan agar generasi mendatang cukup menjadi pekerja atau buruh di negeri sendiri. Isu ini bukan isapan jempol belaka, tetapi hal ini jelas terlihat dari arah kebijakan pendidikan dari tingkat dasar, menengah dan tinggi semua berfokus pada tujuan output/hasil akhir menjadi buruh dari perusahaan /korporasi swasta dan asing.

“Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021.” (https://www.kompas.com) dan
” Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Vokasi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan penyesuaian kurikulum SMK dalam rangka mendukung program link and match. Ada lima aspek perubahan yang dibuat untuk memajukan pendidikan vokasi tersebut.”(news.detik.com)

Fakta tersebut cukup menjelaskan bahwa arah kebijakan pemberdayaan potensi generasi yang berbasis pelibatan korporasi, sama artinya dengan menyerahkan potensi unggul ke generasi pada korporasi (asing). Baik di tingkat menengah yaitu kurikulum SMK aspek yang diperbaharui jelas menekankan pada menonjolkan skill (kemampuan) siap kerja di perusahaan maupun industri swasta dan asing. Dan lebih parah lagi pada level pendidikan tinggi para mahasiswa terbaik sudah dijaring menjadi bagian pekerja biasa/buruh di korporasi swasta asing bidang digital.

Menjadi sebuah pertanyaan besar bagi mereka yang mau berpikir mau dibawa ke mana semua potensi unggul generasi terbaik negeri ini ?
Seyogianya justru mampu membuat industri dan perusahaan sendiri milik bangsa yang mungkin bisa lebih baik dari korporasi swasta maupun asing.
Selain itu gelagat pemerintah ingin melelang potensi unggul generasi unggul ini terbaca dari kurikulum Pendidikan menengah dan tinggi. Juga bermakna negara ‘rela’ kehilangan SDM untuk keunggulan bangsa. Karena menjadi buruh di korporasi swasta apalagi asing tidak terdapat jaminan untuk mengembangkan negeri Indonesia yang berdikari dalam segala bidang.

Fenomena ini sungguh sangat ironis, jika harus dibandingkan dengan bagaimana Islam mewajibkan negara menjamin terwujudnya generasi pembangun peradaban Islam. Mereka adalah anak-anak umat (abna’ul ummah) yang rasul banggakan karena jumlah dan kontribusinya bagi Islam. Sehingga generasi apalagi yang berpotensi unggul akan dihargai menjadi aset negara yang paling berharga. Maka arah kebijakan pendidikan Islam pun jelas berinvestasi penuh dalam membangun dan mengembangkan potensi tersebut agar bermekaran indah di negeri sendiri.

Hal ini tercatat jelas dalam tinta emas sejarah Islam, bagaimana negara Islam (khilafah) terdahulu yang menerapkan Islam secara kafah (sempurna) telah menjadi kiblat utama seluruh dunia dalam bidang pendidikan. Yaitu pada masa kekhilafahan Abbasiyah, mereka memiliki universitas terbaik yang berlokasi di Mesir dan memiliki rumah sakit terbaik dunia yang terletak di Irak. Bahkan memiliki teknologi kesehatan terdepan yakni sudah memiliki alat bedah yang belum ditemukan di belahan bumi lain. Selain itu juga memiliki banyak fasilitas penelitian perbintangan juga industri pertanian terdepan.

Oleh karena itu, jika ingin generasi ini unggul tentu kembali ke sistem Islam yang cemerlang. Dengan menerapkan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Niscaya Indonesia akan menjadi negeri terdepan bukan pengekor yang menjadikan rakyatnya menjadi buruh di negeri sendiri.

Wallahu a’lam bishshawab.