25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Mengambil Pelajaran dari Jatuhnya Sriwijaya air

Oleh: Netta Wardhani
Member Amk

Beberapa hari yang lalu, tepat pada tanggal 09 Januari 2021, Negara Indonesia harus berduka dengan tragedi jatuhnya pesawat Sriwijawa Air SJ 182 yang di duga jatuh diperairan Kepulauan Seribu. Yang memakan korban puluhan nyawa. Pesawat mengangkut 62 orang yang terdiri dari enam kru aktif, 46 penumpang dewasa, 7 anak-anak, dan 3 bayi.

Berdasarkan hal ini, pemerintah langsung mengambil kebijakan seperti yang dilansir dari Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencabut aturan tentang pembatasan usia pesawat dan menggantinya dengan aturan baru yang mengembalikan batasan maksimal usia pesawat angkutan niaga sesuai aturan dari pabrikannya.

Regulasi ini diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) No. 115/2020 tentang batas usia pesawat udara yang digunakan untuk kegiatan angkutan udara niaga. Regulasi ini melengkapi regulasi sebelumnya yakni Permenhub No. 27/2020 yang mencabut Permenhub No. 155/2016 tentang batas usia pesawat udara yang digunakan untuk kegiatan angkutan udara niaga.

Dalam aturan yang baru, Kemenhub mengatur batas usia pesawat yang didaftarkan dan dioperasikan pertama kali di wilayah Indonesia dengan ketentuan pesawat terbang kategori transportasi untuk angkutan penumpang paling tinggi berusia 20 tahun, dilonggarkan dari aturan sebelum sudah dicabut yang batasan maksimalnya berusia 15 tahun.

Adapun, helikopter paling tinggi berusia 25 tahun, batasan maksimal ini dilonggarkan dari usia sebelumnya yang maksimal 20 tahun. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menetapkan aturan ini pada 22 Mei 2020, sementara batasan maksimal usia pesawat di Indonesia diatur sesuai ketentuan pabrikan.

Beralih dari hal itu, dilansir pula dari TRIBUNNEWSMAKER.COM – Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dinyatakan laik terbang oleh Kementerian Perhubungan sebelum akhirnya jatuh. Fakta baru terungkap, ternyata pesawat yang diterbangkan Kapten Afwan sempat dikandangkan selama hampir sembilan bulan.

Tak lepas dari berita duka yang setiap hari terdengar dengan menghilangnya satu persatu nyawa korban Covid-19, kini Indonesia harus berduka pula dengan kasus terjatuhnya pesawat Sriwijaya ini.

Bagaimana tidak, korban dari jatuhnya pesawat ini harus menerima kenyataan bahwa sudah dititik terakhir mereka hidup. Kenyataan yang terjadi tidak bisa terlepas dari qadarullah yang tidak bisa di negosiasi lagi. Bahkan seperti yang kita ketahui bahwa Allah mendatangkan kematian tidak dengan aba-aba.

Sebagai pelajaran bagi kita semua bahwa apa pun yang menimpa kita, baik itu buruk ataupun baik untuk kita, tak lepas dari adanya hikmah dibalik peristiwa tersebut.

Bahwasanya dibalik peristiwa ini, Allah tidak pernah memandang lebih seseorang dengan orang lain, tidak berpilih kasih antara satu orang dengan orang lain, orang kaya dan miskin, orang dewasa dan anak kecil bahkan bayi, mau perempuan atau laki-laki, kedudukannya sama dimata Allah. Jika sudah tiba waktunya akan Allah ambil nyawanya satu persatu. Dan tinggalah amalan kita yang akan menyelamatkan kita di Akhirat kelak.

Tak lepas daru hal itu, kembali pada kebijakan pemerintah mengenai aturan baru yang diterapkan mengenai batasan usia penumpang pesawat, bahwasanya kebijakan yang diterapkan tidak sepenuhnya menciptakan rasa aman kepada penumpang, melihat sudah beberapa kali kasus yang sama juga terjadi pada tahun-tahun yang lalu.

Dalam hal ini pun, salah satu tujuan penting dalam pembuatan aturan ini adalah untuk meningkatkan investasi negara. Yang tidak mungkin hal ini dilakukan tanpa melihat sisi ekonomi sebuah negara, yang dilihat adalah keuntungan negara dalam mengambil sebuah kebijakan.

Begitupun dengan berita bahwa pesawat Sriwijaya Air SJ 182, sudah tidak beroperasi selama hampir sembilan bulan setelah kemudian digunakan lagi minggu kemarin. Akankah pemerintah yang gegabah?

Karena tidak memperhatikan hal-hal kecil berupa pengoperasian pesawat kembali sebelum akhirnya dipakai. Walhasil keselamatan rakyat jadi terancam.

Kematian memang tidak bisa dihindari. Namun, butuh banyak ikhtiar dalam segala hal, apalagi dalam kondisi seperti terbang tinggi saat menaiki pesawat. Dan untuk itu, membutuhkan seseorang yang benar-benar profesional dalam hal mengendarai sebuah pesawat, ini adalah salah satu ikhtiar dalam keselamatan nyawa orang banyak didalam pesawat.

Untuk itu, keselamatan nyawa rakyat banyak, kebutuhan rakyat dan segala aspek kehidupan manusia hanya bisa diatur secara sempurna dalam Islam. Islam memperhatikan hal-hal sekecil apapun itu, tak lain hanya karena ingin menciptakan rasa aman pada masyarakat dan menginginkan keselamatan masyarakat.

Kembalilah kepada Islam, terapkan kembali sistem yang begitu paripurna yakni Islam, agar solusi dalam segala masalah bisa terselesaikan dengan baik dan Allah pun meridhainya.

Allah Swt berfirman :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri -negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa disebabkan perbuatannya”. (Q.S Al-A’raf [7]:96).

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author