09/03/2021

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Belajar dari Angkatan Jaman Old

BELAJAR DARI ANGKATAN JAMAN OLD
Oleh Hendrajit

Menyimak biografi Chairul Saleh, memudahkan saya membayangkan semangat zaman era 1940-an jelang berakhirnya Perang Dunia II, terutama alam rasa dan pikiran para pemuda milenial pada zamannya. Beda dengan zaman sekarang, konflik antar berbagai kelompok pemuda dan mahasiswa, sifatnya ideologis dan soal beda strategi dan cara berjuang. Namun etos dasarnya sama, yaitu berjuang supaya Indonesia merdeka atas dasar kesanggupan dan kemandirian bangsa kita sendiri. Walhasil, perbedaan ideologi dan strategi, tidak menjelma jadi permusuhan pribadi. Nah salah satu perbedaan paling menonjol adalah antara para pemuda/mahasiswa jalan Prapatan 10 versus Menteng Raya 31 (sekarang namanya Gedung Joang 45).

Meskipun kedua kubu pada dasarnya sepakat bahwa Indonesia nantinya harus merdeka tanpa embel-embel Jepang, namun dalam strategi beda. Dan perbedaan strategi ini akarnya adalah di cara pandang ideologisnya juga.
Kelompok Prapatan 10, karena umumnya adalah menganut pandangan intelektual Sutan Sjahrir, seorang sosialis demokrat yang punya kecenderungan kuat pada liberalisme di Barat, memandang pertarungan perang dunia II hakekatnya adalah antara fasisme versus demokrasi. Maka itu, orang harus milih mihak ke fasisme atau demokrasi.
Cara pandang seperti ini ditentang oleh para pemuda/mahasiswa Menteng Raya 31. Meskipun anak-anak muda Menteng Raya 31 berasal dari berbagai pandangan ideologis yang tidak sama, namun mereka direkatkan oleh cara pandang yang sama dalam satu hal:

Apapun cerita tentang perbedaan mahzab ini, namun harus diakui eksponen dari Menteng 31 lah yang sebenarnya menjadi motor percepatan/katalisator menuju Indonesia merdeka. Dan entah mengapa, di Menteng Raya 31 inilah dapur penggemblengan kepemimpinan bangsa dilakukan. Bahkan penculikan terhadap Sukarno-Hatta dua hari sebelum Indonesia merdeka, ke Rengasdengklok, juga dimotori oleh para eksponen Menteng Raya 31.

Hendrajit: Bahwa demokrasi Barat yang berbasiskan Kapitalisme sedang sekarat, sehingga fasisme muncul secara alami untuk menyelamatkan kapitalisme yang sedang dalam krisis. Jadi, nggak ada untungnya buat kita memilih demokrasi atau fasisme. Begitu jalan pikir anak-anak muda Menteng 31.

Dengan begitu, genk Menteng Raya 31 memandang peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, bukan soal kita kemudian jadi pro Jepang. Melainkan memandangnya sebagai momentum yang harus jadi dasar menyusun kesiapan bangsa Indonesia sendiri untuk merdeka.

Dari Menteng 31 inilah lahir sosok seperti Adam Malik, Sukarni, Chairul Saleh, AM Hanafi, Wikana, Maruto Nitimihardjo dan banyak lagi. Dan memang pada intinya, perbedaan mahzab antar pemuda/mahasiswa Prapatan 10 versus Menteng Raya 31 ini, kemudian menjadi dasar pertentangan antar elit kepemimpinan nasional kala itu juga. Bukan antara agama atau komunis yang ateis. Bukan juga antara kiri atau kanan.

Meskipun kelompok Prapatan 10 berhasil menelorkan juga beberapa tokoh besar seperti cendekiawan Dr Sujatmoko, Dr Eri Sudewo yang pernah Rektor Unair dan Dubes Swedia, Soebadio Sastrosatomo dan Sudarpo Sastrosatomo yang kelak terkenal sebagai pengusaha perkapalan, namun baik di era Sukarno maupun Suharto mereka ini tidak pernah menempati daerah pusat kekuasaan pengambilan keputusan nasional.

Melainkan soal cara pandang membaca konstelasi global yang kemudian berdampak dalam menyusun strategi nasional menghadapi negara asing, maupun dalam membangun strategi nasional yang tepat sasaran.
Namun karena mereka dari Prapatan 10 ini rata-rata berlatarbelakang kelas menengah, pada umumnya fasih berbahasa Belanda dan Inggris, banyak bergaul dengan orang-orang asing. Sehingga pada masa revolusi fisik 1945-1949, banyak dari mereka yang berkiprah di jalur diplomasi, media massa, maupun urat-urat perekenomian nasional seperti perbankan, lembaga-lembaga keuangan dan pasar modal, sebagai para profesional. Dan tentu saja karena profesi kedokterannya, menguasa sektor kesehatan.

Adapun dengan Prapatan 10, Bung Karno meski mengapresiasi kemampuan intelektual dan kecerdasan para mahasiswa ini, namun ada yang nggak sreg dengan cara pandang mereka. Begitupun, saat Bung Karno berdebat sengit dengan tiga eksponen Prapatan 10 Sujatmoko, Soebadio dan Sudarpo di Cikini Raya 71 tentang perlunya kita memilih pihak antara pro Jepang atau demokrasi Barat, Bung Karno memang tidak menggubris bahkan selalu mengalihkan arah diskusi.
Bung Karno sendiri, yang usianya 20 tahun lebih tua daripada para mahasiswa kedua kelompok ini, secara kemistri lebih condong pada genk Menteng Raya 31, meskipun sering terlibat perdebatan dan perang mulut yang berkepanjangan dengan Chairul Saleh, Adam Malik maupun Sukarni.

Benar juga. Sudarpo kelak jadi pengusaha nasional pribumi yang bergerak di perkapalan. Sedangkan Koko, Sudjatmoko yang dimaksud Bung Karno, kelak jadi cendekiawan nasional Indonesia, dan pernah jadi Rektor Universitas PBB. Padahal gegara membangkang kepada Jepang saat rambutnya mau digundulin, maka sejak itu terpaksa drop out dari kampus. Dan sepanjang hidupnya otodidak.
Namun dasarnya kuat dalam membaca karakter orang, Bung Karno sempat berucap pada yang hadir saat diskusi usai: “Perhatikan omongan saya ya, Nanti Darpo dan Koko akan jadi orang besar. Lihat saja nanti.”

Buat generasi muda sekarang, tentu saja tidak harus meniru era dulu. Namun ada yang penting buat diserap bagaimana dinamika kepemudaan dan kemahasiswaan era dulu. Konflik antar kelompok dan ideologi sangat keras. Namun tetap sehat, karena konflik tidak pernah menjelma jadi friksi. Mereka tahu kapan harus berpisah jalan, namun tahu kapan harus bersatu di atas segala pertimbangan lainnya.