26/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Anak Jebloskan Ibu ke Penjara? Sungguh Terlalu!

Oleh : Rati Suharjo
Pegiat Dakwah dan Member AMK

“Tak akan terbalas jasa ibu pada anak.
Semua hartamu kau korbankan, tak akan mampu membayar jasa ibu.
Seumur hidupmu kau baktikan, tak akan mampu menandingi jasa ibu.
Mengandung sampai melahirkan penuh dengan penderitaan.”

Kalimat di atas cukup menggambarkan, betapa banyak pengorbanan dari seorang ibu. Bak mentari menyinari bumi yang tidak pernah ada kata lelah. Bertahun-tahun menyinari, mulai dari bumi diciptakan hingga hari kiamat tiba. Begitu juga dengan pengorbanan seorang ibu, mulai anak tersebut dilahirkan sampai ajal menjemputnya. Tidak ada kata lelah dalam berkorban kepada anak. Baik dari pikiran maupun tenaga.

Namun, semua itu, apakah seorang anak mengerti atas penderitaan seorang ibu? Ternyata tidak. Hal ini dapat dilihat dari kejadian di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ada seorang anak berinisial M (40) telah tega menjebloskan  ibu kandungnya K (60) ke penjara. Adapun penyebabnya adalah bahwa K, ibu kandung, mendapat warisan sebanyak 200 juta. Tetapi dari 200 juta tersebut K mendapat 15 juta. Dari uang 15 juta itu dipakai oleh K untuk membeli motor. Kejadian tersebut, menyebabkan M marah-marah dan menjebloskan K ke penjara. Sebab motor tersebut dititipkan ke saudaranya K. (Tribunnews.com, 29/6/2020)

Kronologi ini pun sama yang dilakukan anak kandung terhadap ibunya di Demak. Pada awalnya anak berinisial A pulang ke rumah akan mengambil baju. Tetapi, baju tersebut telah dibuang oleh ibunya. Sontak saja terjadi perkelahian hingga A mendorong ibunya jatuh ke lantai. Seketika juga ibunya bangun dan menarik kerudungnya. Tapi, tak sengaja kuku ibu melukai wajah A sepanjang 2 cm. (DetikNews, 9/1/2020)

Berbekal dengan hasil visum, ibu kandung tersebut dilaporkan ke pihak berwajib. Sehingga ibunya tersebut terjerat pasal penghapusan KDRT dengan ancaman 5 tahun penjara. Secepat kilat kasus tersebut mengundang perhatian publik. Pasalnya seorang anak bersikeras menjebloskan ibunya ke penjara. Tak terkecuali anggota DPR, Dedi Mulyadi pun ikut campur dan menasehati, agar mencabut tuntutan tersebut, tanggapan A hanya memaafkan, tapi laporan tetap berjalan. (Kompas.com, 19/1/2020)

Hal ini menambah deretan panjang sifat kriminalitas dari seorang anak. Jangankan menjebloskan ke penjara, menghilangkan nyawa orangtua pun telah banyak terjadi.
Padahal, hanyalah faktor sepele yang harus diselesaikan secara kekeluargaan. Tetapi, hidup dalam sistem sekularisme kapitalis sifat kekeluargaan pun kini sirna tergerus dengan asas manfaat. Yang penting ada keuntungan, mereka tidak memikirkan, apakah yang dilakukan tersebut menabrak hukum agama atau bukan.

Asas manfaat yang diagung-agungkan akibat dari didikan sekularisme. Baik didikan dari keluarga maupun masyarakat kini menjangkit pada generasi. Padahal jika pendidikan dari keluarga rapuh atau rusak, maka rusaklah masyarakat. Sebab keluarga adalah titik awal pembentukan masyarakat.

Oleh karena itu perlu adanya suatu perubahan mendasar dan menyeluruh atas kerusakan hari ini. Penyebab tersebut adalah sistem yang diterapkan. Semakin melanggengkan sistem kapitalis sekularisme, pemerintah hanya akan terus mementingkan kapitalisme semata. Padahal rusaknya keluarga perlu adanya perubahan sistem. Sehingga sistem tersebut menghadirkan negara dalam ranah pendidikan. Baik pendidikan keluarga, masyarakat, maupun negara. Ketahanan keluarga tercipta kembali. Sistem yang dimaksud tidak lain adalah Islam.

Dalam pandangan Islam, berbakti kepada orangtua atau birul walidain adalah kewajiban, atau fardhu ain yang harus dilaksanakan oleh setiap anak. Sebagaimana yang telah diceritakan oleh penduduk Yaman, Uwais Al Qarni. Uwais adalah begitu mencintai Rasulullah saw. Jarak antar Yaman ke Madinah sekitar 400 km. Setiap hari, setiap detik, menit, dan jam, bahkan tahun berganti tahun hanya wajah Rasullullah saw. yang dirindukan. Keinginan untuk bertemu Rasulullah saw. pun tidak dapat ditahan lagi.

Suatu saat terjadi Perang Uhud yang menyebabkan gigi Rasullullah saw. patah akibat perang tersebut dengan kafir Quraisy Mekah. Berita tersebut terdengar oleh Uwais, sehingga dengan rasa sayang yang begitu tinggi, Uwais Al Qarni ini pun memukuli giginya hingga patah.

Namun, hati keinginan yang menggebu-gebu untuk menemui Rasulullah saw. tersebut terganjal oleh ibunya. Ibunya yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan membuat Uwais keberatan untuk meninggalkan seorang diri. Ketika kerinduan untuk menemui Rasulullah saw. telah memuncak, dengan memberanikan diri Uwais meminta izin kepada sang ibu.

Akhirnya, Uwais pun diberi izin untuk menemui Rasulullah saw yang jaraknya 400 km. Dengan mempersiapkan segala kebutuhan ibunya dan menitipkan ibunya kepada tetangga. Uwais pun segera berangkat ke Madinah. Jalan yang panas membentang dikelilingi Padang pasir Uwais pun semangat untuk memenuhi Rasullullah saw. Tetapi pesan dari ibunya adalah jika telah sampai di rumahnya Rasulullah saw. cepat kembali.

Begitu sampai di rumah Rasulullah saw., diketuklah pintu tersebut dengan mengucap salam. Tetapi yang menemui adalah Sayyidina Aisyah ra. Sayyidina Aisyah ra. menyampaikan bahwa Rasullullah saw. tengah berperang. Begitu senang telah sampai di rumahnya Rasulullah saw. Uwais berpikir apakah akan menunggu atau pulang menuruti pesan ibunya.

Maka Uwais pun segera pulang ke Yaman, menuruti amanah dari ibunya, yaitu ketika sudah sampai rumah Rasullullah saw. segera pulang. Maka Uwais pun menitipkan salam kepada Sayyidina Aisyah ra. kepada Rasulullah saw.

Demikianlah sosok Uwais Al Qarni yang patuh terhadap ibunya daripada menunggu kedatangan Rasulullah saw. Pemikiran seperti Uwais tersebut, hanya akan ada jika negara menerapkan sistem Islam bukan yang lain. Sebab dalam Islam pendidikan yang diperoleh baik dari keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah mengarahkan untuk mencari rida Allah Swt. Sehingga tercipta amar makruf nahi mungkar, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author