25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Perkawinan Sekolah dan Industri Lahirkan Budak Kapitalisme

Oleh Ninik Suhardani

Nikah masal dunia pendidikan dengan industri menjadi tren saat ini. Hal ini dimaksudkan agar dunia pendidikan (terutama pendidikan vokasi) mampu menghasilkan lulusan sebagai sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia kerja. Sebagaimana seperti yang dilansir dari detiknews.com, 9/01/2021, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Vokasi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan perombakan kurikulum SMK dalam rangka mendukung program link and match. Sebanyak lima aspek perubahan yang dilakukan guna memajukan pendidikan vokasi tersebut.

Pendidikan vokasi adalah pendidikan yang mengacu pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pendidikan terapan ini lebih banyak praktik dibandingkan teori dengan porsi 60:40. Berbeda dengan pendidikan akademik yang porsinya 40:60. Meskipun begitu ternyata masih banyak lulusan yang menganggur. Sehingga untuk menekan angka pengangguran lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah khususnya SMK yang dari hari ke hari semakin bertambah, maka dicetuskanlah gagasan link and match. Meskipun gagasan ini bukan termasuk gagasan baru.

Link and match yang merupakan hasil kolaborasi satuan pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan industri. Dengan adanya link and match diharapkan mampu menggali kompentensi yang dibutuhkan pasar kerja ke depan. Sehingga dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan relevansi pada SMK dengan kebutuhan tenaga kerja.

Sekilas pendidikan vokasi ditambah dengan adanya link and match sangat menjanjikan bagi lulusan SMK dan perguruan tinggi. Selepas SMK dan perguruan tinggi vokasi akan langsung bekerja pada perusahaan sesuai dengan bidangnya. Akhirnya banyak orang tua yang lebih memilih menyekolahkan anaknya ke SMK di banding SMA. Sebab lulusan SMK lebih menjanjikan untuk memperoleh pekerjaan dan mendapatkan materi.

Inilah sisi pragmatis dunia pendidikan dalam sistem kapitalisme. Pendidikan hanya bertujuan menciptakan manusia pintar berorientasi pada materi tetapi minus moral. Pendidikan terpaku pada materialistik yang hanya menjadi budak dan pelayan kapitalis. Sementara itu, kurikulum pendidikan hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan pesaingan bisnis. Sehingga menghasilkan siswa yang berkarakter materialis dan bergaya sekuler. Ditambah abainya negara akan pemenuhan hajat hidup rakyat. Sehingga menjadikan generasi yang menempuh pendidikan hanya bertujuan memperoleh pekerjaan.

Hal ini jelas jauh dari tujuan pendidikan, yakni pendidikan mampu bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban. Bagaimana bisa bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban? Sementara ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlimpah tetapi tidak mampu menyelesaikan permasalahan manusia. Dengan berlimpahnya ilmu dan teknologi tidak mampu membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Ini sangat berbeda dengan sistem Islam. Kurikulum pendidikan Islam memiliki ciri yang sangat menonjol pada arah, asas, dan tujuan pendidikan. Arah atau visi pendidikannya adalah tidak hanya berorientasi pada lulusan siap kerja, tapi juga pada aspek akhirat dan aspek dunia.

Asas pendidikan dalam Islam adalah akidah Islam. Bukan berarti bahwa setiap ilmu pengetahuan harus bersumber dari Islam. Akidah Islam sebagai asas pendidikan artinya menjadikan akidah Islam sebagai standar penilaian atau tolak ukur pemikiran dan perbuatan.

Sementara itu, tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk generasi berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam, dan menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi dan keahlian) yang memadai. Berkepribadian Islam ini pada hakikatnya adalah konsekuensi keimanan seorang muslim. Sebagai seorang muslim haruslah memegang identitas kemuslimannya dengan cara berpikir dan bersikap senantiasa dilandaskan pada syariat Islam.

Menguasai tsaqofah Islam, tujuan kedua ini merupakan konsekuensi lanjutan dari keislaman seseorang. Islam senantiasa mendorong setiap muslim wajib memiliki ilmu dan senantiasa menuntut ilmu. Sementara yang ketiga menguasai ilmu kehidupan, merupakan tuntutan yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Hal ini diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material dalam rangka menjalankan misi sebagai khalifatullah di bumi ini. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al-Anbiya ayat 80 yang artinya: “Kami ajarkan kepadanya tentang cara membuat pakaian untuk melindungi kamu dari bahaya. Adakah kamu bersyukur.”

Pendidikan dalam Islam adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan antara aspek akhirat dan dunia. Berilmu semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt. Sementara aspek dunia, bahwa setiap muslim senantiasa didorong untuk membekali dirinya dengan berbagai macam keahlian. Selain itu negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pokok individu maupun publik. Sehingga rakyat tidak terbebani dengan berbagai kesulitan hidup (ekonomi). Semua itu hanya akan terwujud manakala berada di dalam naungan daulah khilafah Islamiyyah yang tegak di atas asas Islam.

Wallahua’lam.

About Post Author