30/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

“KONSISTENSI SYUKUR DALAM NILAI IBADAH”

(Oleh : Fadhillah Sundani)

Ikhwan dan Akhwat Fillaah yang di Ridhoi ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA untuk senantiasa masih bisa berpikir keras menuju pemahaman cerdas yang berkesesuaian dengan akal sehat untuk kebenaran Al- qur’an.
Dalam Hal IBADAH banyak orang melupakan akan NILAI kwalitas yang dimiliki, terlebih lagi sangat sulit mencari dimana permasalahan sebenarnya yang akan menjadi jalan keluar untuk dapat meningkatkan fokus/kekhusyuan IBADAH kita untuk menjadi lebih baik dan benar sesuai tuntunan dan ajaran Syari’at Islam. Bahkan alasan klasik yang banyak orang jadikan alasan terbesar dan utama adalah besar dan kecilnya konflik dan komplekatif permasalahan hidup sebagai kendala problem nya. Namun disinilah ujian ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA kepada kita untuk bisa terus berpikir secara logis menurut perspektif keilmuan yang Maha Dahsyat pada kebenaran Al- qur’an melalui perspektif pemahaman ESM Theory OST- JUBEDIL. Sebagai upaya advokasi kita akan kebenaran Al- qur’an yang sudah banyak orang lupakan Bahkan sudah banyak meninggalkan untuk mencari solusi segala urusan/permasalahan.

Saat kita merasakan ada nilai ketidak khusyuan dalam sholat kita dan berusaha ingin meningkatkan kekhusyuan, Maka upaya yang pertama kita harus dapat mensyukuri nikmat perasaan tersebut dengan bermula saat itu kita tanamkan kecintaan kita pada ibadah sampai pd titik kwalitas yg tdk biasa, atau levelnya berbeda. Saat orang ingat sholat maka kita ingat khusyu, orang tidak mau ketinggalan sholat fardhu maka kita tdk mau ketinggal an sholat sunnah, itu artinya ada level keimanan yang lebih daripada yang lain. Dan itu tanda nya ALLOH sudah naikkan levelnya dan kita jgn coba turunkan karena akan tdk mudah lagi mengembalikan pd posisi semula. Seperti halnya meninggalkan sholat Tahajud, saat meninggalkannya, maka akan sulit mengulang serupa dan butuh motivasi 2x lipat dari sebelumnya, maka disitulah akan ada yang dirumuskan dgn KHALAWATUL IMAN yaitu kenikmatan iman atau manisnya iman, salasatunya adalah ketika kita sudah merasa dekat kpd ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA, kecintaan kita pada ALLOH dan Tuntunan Sunnah RosulNya, jika kecintaan kita kepada ALLOH akan menjdi prioritas maka disitulah kita akan merasakan manisnya iman.

Hal bersyukur akan perasaan mahabbah kita kepada ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA.
Syukur itu bukan sekedar ucapan lisan “Alhamdulillah”, melainkan Syukur itu adalah ungkapan yg membutuhkan konsistensi dan komitmen kita
Dalam bahasa istilah syukur itu adalah ungkapan terima kasih kita kpd ALLOH kpd kita dengan cara menggunakan nikmat itu sesuai dgn peruntukkan yg sudah ALLOH tetapkan, Misalnya Nikmat sehat mata, mensyukuri nikmat mata sesuai fungsi yg telah ALLOH tetapkan,dijelaskan dalam AL-Qur’an surat 24/An-Nur ayat 31:

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.
Tdk hanya ucap lisan syukur dengan ucapan “Alhamdulillaah”, karena keta’atan tidak akan bersanding dengan maksiat, karena baik tidak akan bertemu dengan buruk, dan itu sudah menjdi rumus dan fitrah. Dijelaskan dalam QS. An-Nur ayat 26 :

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ ࣖ

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).
Dengan demikian,sebagai perMisalannya, Sholat itu taat, mencela itu maksiat. Makanya jika sholat nya benar maka tidak akan keluar celaan di lisannya. Dijelaskan dalam Qs. 29/Al-‘Ankabut ayat 45:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Jadi substansi ayat tersebut adalah dengan Sholat yang benar, maka fakhsa tidak akan keluar dan munkar tidak akan nampak.
Dan kita tidak bisa mengelabui/ menipu diri sndiri terlebihnya ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA, kecuali org munafik, yang telah diterangkan dalam Al- qur’an surat 2/Al- Baqoroh ayat 9 :

يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ

Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.

Semoga kita semua senantiasa mendapat Ridho ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA dalam segala gerak langkah tujuan mulia kita. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

SALAM PERSAUDARAAN
SALAM OST- JUBEDIL
Kota Tasikmalaya, Selasa, 26 Januari 2021

About Post Author