25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

PERANGI MIRAS HARUS TUNTAS


Salma Rufaidah, S.Sos
(Pegiat literasi)

Berat sama dinjinjing, ringan sama dipikul, demikian peribahasa yang menggambarkan aktivitas bahu membahu dari masyarakat, yang dilakukan para Ketua RW, Kepala Dusun, tokoh masyarakat, Agama dan Pemuda Desa Banjaran Wetan, Kec. Banjaran Kab. Bandung untuk turun ke jalan memasang spanduk Anti Miras, Minggu (17/1/2021, deJurnal.com). Aktivitas ini sebagai salah satu upaya untuk memberantas beredarnya penggunaan miras yang bila tidak ada kepedulian dari masyarakat dan aparat akan semakin beredar bebas dan membuka peluang aktivitas keburukan lainnya.
Pemberantasan miras ini sebenarnya sering dilakukan di beberapa tempat. Tapi bila longgar upaya pemberantasan ini , maka kembali terus terulang. Mengapa demikian? karena bila ditelusuri lebih jauh pemberantasan ini tidak hanya selesai dengan solusi yang parsial/ sebagian-sebagian saja tapi harus menyeluruh. Artinya pemberantasan ini dari hulu ke hilir , mulai dari izin produksi, pengedaran dan penjualan. Bila hanya memandang adanya pajak pendapatan besar yang akan diperoleh, mendukung sektor parawisata, dan sebagainya tentu tidak akan menyelesaikan solusi permasalahan miras ini. Apalagi minuman keras disebutkan induk dari kejahatan. Akan membuka peluang kejahatan lainnya.
Negeri kita yang menjadikan demokrasi dan kapitalisme sebagai asas dalam kehidupan bernegara terutama dalam bidang ekonomi. Asas manfaat sebagi pertimbangan dalam kehidupan ini , menjadikan pergerakan setiap celah mengacu pada keuntungan dan keuntungan. Halal haram di kesampingan . Aturan agama dinomorsekiankan.

Bagaimana sesungguhnya miras ini dalam Islam?
Allah SAW mengingatkan pada kita dalam Quran Surat Al Maidah ayat 90 bahwa meminum khamar/ miras itu adalah perbuatan syaitan dan bagi yang meninggalkannya termasuk orang-orang yang beruntung.
Ayat ini menegaskan pada setiap umat Islam larangan mengkonsumsi miras baik sedikit maupun banyak. Bahkan dalam keterangan lain yaitu HR Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah dilengkapi lagi kepada yang menuangnya, menjualnya, membelinya, memerasnya, orang yang mengambil keuntungan dari perasannya, dari pramu saji dan orang yang minta diantarkan.
Bahkan Islam memandang bahwa sesuatu halal pasti khoir, dan yang haram pasti syarr. Sehingga sangat kontradiksi dengan paham demokrasi kapitalis yang memandang manfaat adalah khoir dan yang buruk pasti syarr. Landasan itu karena hawa nafsu. Sedangkan manusia tidak mengetahui secara hakiki dampak manfaat maupun mudarat sesuatu, yang ujungnya akan berisiko buruk untuk kehidupan manusia. Allah sudah menegaskan dalam QS al-Mu’minun ayat 71, bila hamba yang menjadikan hawa nafsu sebagi landasan berbuat maka akan ada keburukan baik di langit dan bumi termasuk penghuninya.
Oleh karena itu solusi yang tuntas dalam menangani masalah peredaran minuman keras tentu harus mengakar dan menyeluruh. Dalam sistem Islam, pemerintah (khalifah) beserta jajarannya harus tegas dan kompak bersama rakyatnya dalam mengambil keputusan
boleh tidaknya sesuatu beredar di tengah masyarakat berdasarkan syariat Islam. Bila sesuatu telah dinyatakan haram menurut syariat Islam, pasti ia akan menimbulkan bahaya (dharar) di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya . Bahkan bila kita melihat apa yang telah dilakukan rosulullah saw dan para khalifah dalam menetapkan sanksi bagi yang melanggarnya yaitu: mencambuk peminum khamar dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak empat puluh kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud)
Selain itu Allah tidak menerima shalatnya selam 40 hari. HR ath-Thabrani, ad-Daraquthni dan al-Qudha’i
Sanksi dalam Islam memberikan efek jera, sementara produsen dan pengedar khamr dijatuhi sanksi yang lebih keras dari peminumnya karena keberadaan mereka lebih besar bahayanya bagi masyarakat. Tentu kita akan berharap besar pada syariah untuk menyelamatkan manusia dari kerusakkan yang disebabkan miras. Apalagi terbukti para pemimpin Islam dalam Khilafah tegas tanpa ampun memberi sanksi bagi semua yang terlibat dengannya.

About Post Author