29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Benarkah Pelayanan Kesehatan untuk Mencegah Covid-19 di Indonesia Gagal?

Oleh : Aena Soleha S.Pd

Jika ingin dihormati, maka jangan mementingkan diri sendiri.
Jika ingin dihargai, maka layani dengan penuh mencintai.
Nyawa hilang, tak mampu untuk kembali.
Sedangkan harta hilang, itu mampu kita cari lagi.

Dilansir dari kompas.com, 29/12/2020, jumlah tenaga kesehatan yang meninggal karena pandemi Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Menurut catatan Lapor Covid-19 hingga 28 Desember 2020, total ada 507 nakes dari 29 Provinsi di Indonesia yang telah gugur karena Covid-19. Sebanyak 96 diantaranya meninggal dunia pada Desember 2020 dan merupakan angka kematian nakes tertinggi dalam sebulan selama pandemi berlangsung di tanah air. Data tersebut diperoleh dari kolaborasi beragam organisasi profesi seperti IDI, PPNI, IBI, dan lain-lain.

Upaya penanganan Covid-19 memang belum mampu terselesaikan dengan baik. Sebaliknya korban jiwa malah semakin bertambah. Upaya memutus penyebaran ini memang dilakukan oleh pemerintah dan tenaga medis, tapi gagal memberikan hasil yang baik.

Sejak awal kebijakan pemerintah memang sudah keliru. Ketika banyak pihak menyerukan lockdown, pemerintah justru mengabaikan solusi yang diberikan berbagai pihak kepadanya. Hingga sampai saat ini Indonesia belum pulih dari masalah Covid-19. Ironisnya, kini pemerintah malah memaksa rakyat untuk divaksin dan apabila menolak pemerintah akan melakukan denda terhadadp rakyat.

Upaya pemerintah sekarang sangat berbeda dengan upaya dari Rasulullah saw. di masa lampau. Beliau memberikan contoh bagaimana kebiasaan sehari-hari dalam mencegah penyakit. Misalnya, menekankan hidup bersih, makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang atau makan secukupnya saja.

Padahal saat ini, begitu terkenalnya dengan kecanggihan teknologi dalam kesehatan. Namun, belum mampu mengalahkan kehebatan pencegahan penyakit di masa Rasulullah saw. Pada masa itu, masyarakat menyadari bagaimana cara menjaga kesehatan dengan baik. Penguasa juga membangun infrastruktur pencegah penyakit, memiliki orang-orang yang profesional, dan memiliki integritas. Bukan seperti orang-orang yang dengan pendidikan asal-asalan serta bermental pedagang seperti yang negara alami saat ini.

Di dalam daulah Islam, setiap pengobatan diberikan secara cuma-cuma atau gratis untuk masyarakat. Berbeda dengan sekarang, semua serba berbayar dan vaksin pun dijadikan politik antara penguasa terhadap rakyatnya. Biaya pengobatan pun sungguh sangat mencekik masyarakat terutama masyarakat yang miskin. Banyak orang yang hidup tidak sehat kemudian banyak masyarakat yang sakit, tetapi tidak mampu untuk berobat ke dokter dikarenakan biaya. Sehingga, masyarakat menjadi lemah dan rentan terinfeksi Covid-19.

Saat ini, belum ada yang menandingi kehebatan Rasulullah saw. sebagai inspirator dalam bidang kesehatan. Beliau adalah sebagai inspirator utama kedokteran Islam. Walaupun beliau bukan seorang dokter, tetapi kata-katanya membuktikan bahwa beliau sangat menginspirasi umat Islam dari dulu sampai saat ini semisal, “Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan kecuali Dia juga menciptakan cara penyembuhannya.” (HR. al-Bukhari).

Jika kembali melihat sejarah, 1.400 tahun lamanya Islam telah membuktikan satu-satunya sistem yang mampu menangani pandemi dan menjamin kesehatan para nakes. Sebab dalam pandangan Islam, penguasa adalah penanggungjawab umat. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) yang menjadi pemimpin manusia adalah laksana pengembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap urusan rakyat.” (HR. Bukhari).

Negara di dalam Islam hadir sebagai periayah (pengurus urusan umat). Segala kebutuhan umat baik kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan, maupun kebutuhan dasar seperti, pendidikan, infrastruktur, hingga layanan kesehatan dijamin penuh oleh negara.

Negara akan memberikan pelayanan kesehatan secara gratis untuk masyarakat seperti tes swab, rapid test, serta untuk para tenaga medis dipastikan semua kebutuhan akan perpenuhi seperti APD dan obat-obatan, agar tidak mudah terinfeksi virus.

Begitulah periayahan di dalam sistem Islam. Dengan terpenuhnya kebutuhan masyarakat dan tenaga medis maka sudah pasti masyarakat tidak akan ada lagi korban jiwa yang beruntutan akibat terinfeksi virus.

Wallahu a’lam bishshawab

About Post Author