25/09/2022

PPMI CENTRE – Official Website

Media Online / Informasi Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia

Bencana Menghambat Infrastruktur

Oleh: Popon Ummu Farid
Ìbu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah

Program pembangunan fisik di tahun 2020 banyak yang tidak terlaksanakan terutama pada bidang infrastruktur, pembangunan jalan di daerah-daerah tidak selesai karena terbentur biaya akhirnya pembangunan dihentikan karena ada kebijakan recofusing di samping juga dampak dari pandemi Covid-19. Anggaran yang direcofusing sampai dengan 55 persen, sehingga target untuk menyelesaikan infrastruktur tidak selesai. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum(PTUR) kabupaten Bandung Agus Nuria, menjelaskan “akibat dari pandemi Covid-19, alokasi dana APBD tahun 2020, dari anggaran sekitar 650 miliar, hanya 45 persen yang dialokasikan, sehingga banyak program yang tertunda. Karena banyak program yang tertunda, maka akan menjadi program prioritas pada anggaran 2021, ” (di lansir Dara.co.id).

Tahun 2021 ini pemerintah lebih memprioritaskan pada infrastruktur, dengan merencanakan pembangunan jalan, perumahan yang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat kecil dan menengah.

Pembagunan infrastruktur memang sudah seharusnya dilakukan oleh negara yang merupakan kewjibannya menyediakan sarana dan prasarana untuk memudahkan seluruh aktivitas rakyatnya. Hanya saja yang dicatat dalam proses pembangunannya harus dipastikan dalam beberapa hal seperti, sumber dana pembangunan infrastruktur itu harus murni biaya negara bukan dari investor swasta maupun asing.
Penyerahan pembangunan infrastruktur yang merupakan fasilitas umum ke pihak swasta adalah bentuk pengalihan wewenang pemerintah ke korporasi. Pemerintah seharusnya mampu membiayai pembangunan tersebut, bukan menyerahkanya ke pihak swasta hanya karena bisnis.

Tentu sangat disayangkan jika infrastruktur dibangun sarat kepentingan para korporat. Berdalih bahwa tujuan dari infrastruktur ini untuk rakyat, nyatanya tidak. Sebab yang dilihat di lapangan rakyat tidak bisa menikmatinya, melainkan para korporat tersebut dengan cara mengangkut kekayaan alam yang seharusnya adalah untuk rakyat.
Kalaulah benar infrastruktur dibangun demi kepentingan rakyat, rakyat yang mana? Hingga hari ini rakyat hampir tidak merasakan dampak pembangunan itu selain kerusakan alam dan ekosistem. Area pertanian berkurang, karena alih fungsi lahan dengan beragam pembangunan infrastruktur. Meskipun ada konpensasi dari pembebasan lahan itu, kehidupan rakyat masih jauh dari sejahtera. Maka, nyata sekali peran pemerintah sebagai regulator mengabdi pada kepentingan para pemilik modal. Sementara di saat yang bersamaan melepaskan tanggung jawabnya dalam menyediakan jalan umum bagi rakyatnya sesuai kebutuhan secara cuma-cuma (gratis).

Untuk mewujudkan pembangunan ekonomi, dalam negara Islam tidak boleh mengandalkan utang, semua proses pembangunan yang dilakukan harus menggunakan ekonomi sendiri. Dan negara mendorong masyarakatnya untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan program pembangunan khususnya peransertanya dalam menginfakkan harta kekayaan untuk membantu negara dalam membiayai pembangunan.

Infrastruktur di setiap negara memang sangat dibutuhkan untuk memudahkan aktivitas manusia. Tak terkecuali dalam negara Islam (khilafah). Adapun pembangunan dalam sistem khilafah tak terlepas dari sistem ekonomi berbasis syariat. Negara khilafah tidak akan membiayai pembangunan dengan utang, investasi, hingga membebani rakyat. Khilafah akan menggunakan sistem ekonomi Islam yang menyeluruh dan murni. Hal ini berkaitan erat dengan pengelolaan kepemilikan, serta distribusi dan jasadi tengah-tengah masyarakat negara juga akan memastikan berjalannya politik ekonomi dengan benar.

Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, khilafah akan memiliki sumber daya yang cukup untuk membiayai infrastruktur. Negara juga mampu memenuhi kebutuhan dasar warganya, sumber daya alam di kelola negara untuk kepentingan rakyat. Negara tidak akan menjual aset strategis, semua kebutuhan rakyat terjamin ekonomi mengalami pertumbuhan karena produktivitas individu terjaga.

Wallah a’lam bishshawab

About Post Author