29/09/2022

PPMI CENTRE – Konfederasi Serikat Buruh Merdeka

Berani, Jujur, Amanah, Alloh Ridho

Derita Petani di Alam Demokrasi

Oleh : Umniyatul Ummah
Ibu Rumah Tangga, Pegiat Dakwah

Gelombang pandemi Covid-19 masih belum menunjukkan kapan berakhir, begitupun dampak luar biasa yang diakibatkan dari pandemi ini. Baik dari sisi pendidikan, kesehatan, sosial tak terkecuali di bidang ekonomi. Indonesia yang dikenal dengan negara agraris, gemah ripah loh jinawi nyatanya masih sebatas mimpi. Terlebih bagi para petani yang menggantungkan hidupnya di terik mentari pagi, kini kian tak berarti.

Tak perlu diragukan lagi semangat para petani untuk mengolah sawahnya, meski terkadang bukan sawah miliknya atau ladang miliknya. Karena dari sanalah sumber mata pencaharian untuk menopang hidupnya. Namun di sisi lain nasibnya tak lebih beruntung dibandingkan para pedagang atau tengkulak yang hampir setiap panen mengambil hasil panennya untuk dijual ke pasar. Para petani sering mengeluh karena di hampir setiap panen harganya anjlok jauh dari harga pasaran.

Hal itu membuat Ketua Departemen Litbang Teknologi Pertanian KTNA Kabupaten Bandung, Andri Ramadani angkat bicara. Sebagaimana dilansir dara.co.id melalui telepon pada Sabtu, 16 Januari 2021, beliau mengatakan untuk pemerintahan yang akan datang, agar petani lebih dilibatkan dalam perencanaan ke depan tentang pertanian, baik pengadaan bibit, proyeksi-proyeksi tanam atau kalender tani sampai nanti perkiraan harga.

Masih dari laman yang sama beliau juga berharap pemerintah dalam hal kebijakan harga produk tani jangan hanya melihat dari sisi harga di pasar, tapi juga harus melihat harga dari kebunnya. Misalnya cabai, harga di pasar Rp50 ribu, padahal harga dari petani tidak setinggi itu. Belum lagi harga produk tani lainnya seperti kentang, wortel, sosin dan yang lainnya.

Maka dari itu Andri berharap pemerintah sebelum mengeluarkan kebijakan untuk mengajak petani berdialog secara intensif karena para petani yang lebih mengenal pasar dan berbagai kesulitan yang dialami sebagai petani. Mulai dari lahan, pupuk yang mahal, harga jual yang rendah, transportasi, dan sebagainya. Namun bagaimana realisasinya? Dapatkah pemerintah duduk bersama dengan para petani untuk membicarakan berbagai hal yang berhubungan dengan persoalan petani dan kemajuan ekonomi terutama di sektor pangan?

Sudah menjadi rahasia umum ketika pemerintah membuat kebijakan ataupun undang-undang tidak pernah melibatkan rakyat atau mendengar aspirasi dan masukan dari rakyat. Terlebih para petani yang notabene tidak banyak mengenyam pendidikan tinggi, hidup hanya mendamba kesejahteraan bagi keluarganya, tak jarang keberadaannya pun dipandang sebelah mata.

Apa yang terjadi dan menimpa para petani kita tak lain karena diterapkannya sistem hidup yang jauh dari Islam. Prinsip kapitalisme dan ekonomi liberal yang saat ini diemban di beberapa negara termasuk Indonesia lebih berpihak pada para pengusaha ketimbang ke petani. Padahal sejatinya petanilah yang menjadi tulang punggung tercapainya ketahanan pangan negara.

Di samping itu sistem ini telah meminggirkan peran negara yang hanya berfungsi sebagai regulator sedangkan operatornya diserahkan kepada korporasi. Pada akhirnya tak akan pernah pro terhadap petani, namun kebijakan itu akan disesuaikan dengan kepentingan para kapital. Alhasil dalam menentukan kebijakan kerap kali keberpihakan condong kepada para pengusaha. Di sinilah terjadi simbiosis mutualisme di mana kedua belah pihak berkolaborasi karena ada manfaat dan keuntungan. Rakyat kembali jadi korban, terlebih para petani yang kian terpuruk jauh dari kata sejahtera. Maka dari itu di dalam sistem kapitalisme melibatkan petani dalam menentukan kebijakan di sektor pangan bagaikan oase di gurun pasir. Yang dapat menjadi penyejuk di tengah gersangnya sebuah keadilan

Negeri subur tak selamanya makmur. Salah urus pemerintah dalam tata kelola pertanian khususnya sektor pangan menjadi masalah yang belum juga tertuntaskan baik dalam hal pasokan maupun kestabilan harga.

Berbeda dengan Islam, selain sebagai agama juga memiliki sistem hidup yang bersifat spiritual dan politis. Kedua hal ini akan saling menguatkan dengan asas yang kokoh karena terpancar dari akidah Islam.

Di ranah spiritual Islam mengajarkan kepada semua orang untuk berlaku adil, yaitu menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya dalam timbangan syariat. Para pemimpin tidak akan berani berlaku zalim ketika mengurus rakyatnya. Dia akan memberikan haknya demi kemaslahatan rakyat. Sebaliknya, rakyat akan taat kepada setiap kebijakan yang dikeluarkan penguasa dan mendoakan kebaikan di setiap urusannya.

Di ranah politis, negara berkewajiban menyelenggarakan kebijakan-kebijakan demi mengutamakan kemaslahatan rakyat. Dalam mewujudkan ketahanan pangan syariat memiliki langkah-langkah politis yang lengkap.

Islam memandang bahwa kebutuhan pangan merupakan kebutuhan dasar yang wajib terpenuhi bagi setiap rakyatnya. Melalui aturan (syariat) negara menjamin terlaksananya mekanisme pasar dengan baik. Negara wajib memberantas berbagai distorsi pasar, seperti penimbunan, riba, monopoli dan penipuan. Negara juga menyediakan akses informasi mengenai pasar kepada semua orang hingga meminimalisasi informasi asimetris yang bisa dimanfaatkan pelaku pasar untuk mengambil keuntungan dengan jalan yang tidak dibenarkan syariat.

Kepada para petani diberikan berbagai bantuan, dukungan dan fasilitas dalam berbagai bentuk, baik modal, peralatan, benih, teknologi, teknik budidaya, obat-obatan dan sebagainya. Baik secara langsung maupun subsidi. Sehingga seluruh lahan yang ada akan produktif. Negara juga akan membangun infrastruktur pertanian, jalan, komunikasi dan sarana lainnya agar arus distribusi bisa berjalan lancar.

Pada akhirnya hanya sistem Islamlah yang mampu mengatasi permasalahan demi permasalahan yang menimpa negeri ini. Dengan sistem ini negara mampu menjaga kestabilan harga pasar dan juga menjamin ketahanan pangan. Tidak akan ada lagi para petani yang dirugikan seperti halnya saat ini ketika sistem ekonomi kapitalis masih bercokol di negeri ini.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

About Post Author